Oleh: Hong Ning

Baru-baru ini, dokter spesialis obstetri di sebuah rumah sakit Kota Wenzhou, Zhejiang, Tiongkok, membantu seorang wanita melahirkan sesosok “bayi transparan.” Bayi berjenis kelamin laki-laki ini menderita semacam penyakit the congenital localized absence of skin atau cacat kulit bawaan.

Dari kedua kakinya hingga lutut rata-rata tidak berwarna merah sebagaimana bayi normal pada umumnya. Penyakit yang sangat langka ini sontak membuat para dokter tertegun bingung.

Siang 2 Februari lalu sekitar pukul 11:40 waktu setempat, sayup-sayup terdengar suara tangis seorang bayi yang baru lahir menghirup udara bumi di ruang persalinan. Tetapi anehnya, kedua kaki sang bayi laki-laki tersebut tidak dilengkapi dengan kulit yang merona kemerahan sebagaimana bayi normal pada umumnya.

“Belum pernah saya menemui penyakit seperti ini,” kata Chen Zheyan, dokter ahli bedah plastik di rumah sakit tersebut.

Menurut penuturannya, ia sendiri terkejut seketika dan tertegun setelah melihat kondisi bayi, dari kedua kakinya hingga lutut tidak terlihat warna kulit yang wajar seperti merona kemerahan misalnya, tapi justru tampak transparan.

Sementara pembuluh darahnya juga terlihat menyembul keluar, tapi untungnya tidak terjadi perdarahan. Sindrom cacat kulit sang bayi menempati sekitar 13% dari total area kulit badannya, dan ini sangat berbahaya jika terjadi dehidrasi, perdarahan, atau infeksi dan sebagainya.

Setelah diteliti lebih lanjut, para dokter akhirnya memutuskan mengambil langka penyelamatan berupa terapi eksposure. 12 hari kemudian, cacat kulit dari “bayi transparan” itu pun mulai menutup.

Terbetik berita, the congenital localized absence of skin atau penyakit cacat kulit bawaan adalah suatu penyakit langka, tingkat kejadiannya 0,5 / 100.000, sementara rasio kematian sekitar 17%.

Hingga September 2016, catatan terkait menyebutkan bahwa hanya ada 304 kasus seperti itu di dunia, dan kasus penyakit yang telah dilaporkan sekitar 500 kasus. Sampai detik ini, penyebab terkait belum diketahui secara pasti, juga tidak ada program treatment yang seragam. (Jhony/rmat)

Share

Video Popular