Oleh: He Qinglian

Senjata nuklir milik Korea Utara selain mengancam keamanan tiga negara yakni Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang, juga berdampak terhadap keamanan Asia Timur Laut.

Saat ini seiring dengan semakin besarnya tekanan dari pihak AS, ancaman nuklir Korut telah mencapai tahap ‘tu qiong bi shou 圖窮匕首 / masalah telah berkembang ke tahap akhir menampakkan wujud asli’.

Hal yang dimaksud dengan ‘tu qiong’ disini adalah Korut semakin merajalela memeras dengan nuklir, dan dalam hal ini RRT sudah tidak bisa lagi berpura-pura tidak ada keterkaitannya dengan krisis nuklir Korut.

Sementara tekanan AS terhadap RRT maupun Korut walaupun kian meningkat namun tak menunjukkan dampak signifikan, sikap Korsel sendiri terhadap ancaman nuklir ini lebih membingungkan. ‘Bi shou’ adalah semakin mendekati hari dimana setiap negara tersebut akan mengeluarkan kartu As-nya.

Sikap RRT Atas Masalah Nuklir Korea Utara

Beberapa tahun terakhir, seiring dengan terus memburuknya situasi internal Korut, Kim Jong-Un sudah mulai menempuh cara pemerasan dengan nuklir, dengan terus meningkatkan kemampuan serangan dengan senjata berdaya hancur tinggi, ibarat orang gila sedang bermain dengan sekantung mesiu yang dipanggang di atas api.

Negara sekitarnya termasuk RRT yang selama ini merupakan pendukung utamanya, kini pun merasa jantungan dengan perilaku maniak yang satu ini. Untuk menghadapi ancaman nuklir Korut ini, AS pun terpaksa harus bekerjasama dengan Korsel, dengan cara menempatkan sistem anti-rudal THAAD di wilayah Korsel.

Penempatan sistem anti-rudal THAAD di Korsel tidak hanya untuk mengantisipasi rudal dari Korut, secara objektif juga membendung penempatan rudal oleh RRT yang ditujukan untuk membantu Korut menyerang Korsel dan Jepang, sehingga bisa mematahkan ancaman strategis RRT terhadap Korsel dan Jepang.

Kim Jong-Un sangat tidak senang akan hal ini dan pada pidato tahun baru 2017 secara jelas ia mengumumkan, sasaran utama serangan nuklirnya adalah AS, secara resmi menjadikannya sebagai negara ketiga yang memiliki senjata nuklir dan membidik Amerika (dua negara lainnya adalah RRT dan Rusia).

Sikap seperti ini membentuk kondisi Perang Dingin yang tidak imbang antara Korut dengan Amerika sebagai sebuah negara nuklir kecil yang ingin melawan negara nuklir besar.

AS, Jepang dan negara lain berpendapat RRT seharusnya bertanggung jawab atas ancaman nuklir Korea Utara, karena PKT selalu memperlakukan Korut sebagai salah satu asset perang strategis bagi RRT, dan untuk meningkatkan porsinya sebagai “asset perang strategis” ini, RRT sejak 20 tahun terakhir di abad lalu telah diam-diam terus mendukung Korut dengan teknologi nuklirnya.

Riset dan pengembangan senjata nuklir di Korea Utara dimulai sejak era tahun 1950-an dengan dipasok reaktor nuklir oleh Uni Soviet, hingga tahun 1980-an perkembangannya agak terbatas.

Lalu sejak 1990-an sejumlah departemen Korut terkait selain bekerjasama dengan industri nuklir RRT, juga mendapatkan teknologi senjata nuklir RRT berikut gambar rancangnya lewat Pakistan.

Di akhir tahun 1970-an RRT pernah memberikan teknik dan data senjata nuklir kepada Pakistan, kemudian Korut mengaku pada PBB: teknologi senjata nuklir berikut gambar rancangnya dari RRT diperoleh lewat jalur Pakistan, sampai diterima di tangan Korut.

Pakar dari PBB yang menyelidiki fasilitas penyulingan uranium Korut juga mengamati bahwa teknologi senjata nuklir dan sarana pembuatannya memiliki banyak kemiripan dengan Pakistan.

RRT sebagai sumber teknologi ini terungkap pada saat Khadafi lengser, karena Pakistan pernah menjual teknologi ini kepada negara Timur Tengah, saat Khadafi lengser, kelompok oposisi Libia menemukan gambar rancang nuklir bertulisan mandarin di kantor Khadafi.

Dari sini bisa disimpulkan, bahwa selama ini RRT diam-diam selalu mendukung riset dan pengembangan nuklir Korut.

Bagi RRT, nilai Korut bukan karena Korut adalah negara paham sosialis, melainkan karena Korut bisa menjadi perwakilan RRT di wilayah Asia Timur Laut dan perwakilan yang penuh dengan jiwa suka menginvasi ini juga bisa menjadi pion untuk menciptakan ketegangan di wilayahnya, sehingga bisa melemahkan pengaruh dan tekanan militer dari AS di zona tersebut.

Penangkalan Militer Oleh AS Terhambat Apa Saja?

Pidato oleh Menlu AS Tillerson pasca kunjungannya ke RRT di antaranya yang paling disoroti adalah kedua kalimat ini, ‘kesabaran strategi militer’ Amerika terhadap Korut sudah habis, pemerintah Amerika tidak akan berunding dengan Korut lagi dan, mendahului serangan militer serta sanksi yang semakin ketat sudah masuk dalam daftar untuk menghadapi masalah Korut.

Di saat yang sama, AS terus memperketat sanksinya. 21 Maret melarang penjualan perlengkapan terkait terhadap 11 perusahaan Iran, Korut dan Suriah serta sanksi terhadap orang pribadi, di antaranya termasuk Beijing Zhongke Huazhong Electric Co. Ltd., Dalian Zhenghua Trade Co. Ltd., dan 9 perusahan lainnya serta daftar nama sejumlah orang pribadi.

Media massa mengatakan, di dalam daftar nama tersebut, mayoritas sudah pernah diumumkan pemerintah Amerika sebelumnya dengan tuduhan melanggar larangan AS, diam-diam membantu Iran, Korut, dan Suriah dalam mengembangkan senjata berdaya bunuh besar, terutama juga tuduhan memasok suku cadang senjata rudal balistik ke negara-negara itu.

Ini adalah sanski kedua yang diterapkan oleh Amerika terhadap Korea Utara sejak tahun lalu.

Pada September 2016 lalu, tim penasihat AS-Korsel merilis laporan bersama yang menuding Hongxiang Group RRT membantu mengembangkan rencana nuklir Korea Utara, Departemen Kehakiman AS secara resmi telah menuntut perusahaan Dandong Hongxiang Industrial Development Corporation berikut empat orang penanggungjawabnya, alasannya karena perusahaan tersebut dan para penanggungjawabnya telah ikut terlibat dalam pelanggaran larangan PBB terhadap Korea Utara, dengan menyediakan dana bagi pihak Korut, serta mengekspor barang-barang yang membantu rencana nuklir Korut dan pencucian uang.

Dari segi politik, AS menempuh cara memperbesar tekanan secara bertahap terhadap Korut sudah benar. Akan tetapi, dalam hal menghadapi negara preman seperti ini AS mendapat sejumlah hambatan. Apa saja hambatan itu?  (sud/whs/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular