Partai Komunis Malaysia Merupakan Cabang Luar Negeri PKT (3)

248
Pada kunjungan pimpinan PKT Deng Xiaoping (kanan) di bulan Oktober 1978 ke Singapura, PM Lee Kwan Yew (kiri) menegaskan kepada Beijing agar “Harus menghentikan ekspor revolusi”, menghentikan siaran radio PKM dan PKI dari wilayah Tiongkok Selatan, serta menghentikan dukungan terhadap pasukan gerilya PKM. (internet)

Oleh: Cheng Jing

Abad lalu paruh kedua, di Asia Tenggara pernah berkali-kali terjadi peristiwa rasialis berskala besar terhadap etnik Tionghoa, banyak yang tidak mengetahui bahwa peristiwa itu sangat erat kaitannya dengan politik “Ekspor Revolusi Kekerasan” dari Partai Komunis Tiongkok (PKT).

PKM Mengalami Gempuran Terakhir

Akan tetapi, gempuran mematikan terhadap PKM justru datangnya dari PKT sendiri.

Setelah berakhirnya Revolusi Kebudayaan, PKT mengalami kesulitan di dalam dan luar negari, mereka melakukan perubahan politik luar negerinya.

Pada Oktober 1978, Deng Xiaoping berkunjung ke Singapura, Lee Kwan Yew menyerukan PKT agar “Harus menghentikan ekspor revolusi”, menghentikan siaran radio PKM dan PKI di wilayah Tiongkok Selatan, serta menghentikan dukungan terhadap pasukan gerilya.

Menanggapi desakan luar negeri, pada 1980, Deng Xiaoping selaku pemimpin PKT saat itu meminta Partai Komunis Malaysia/ PKM Chen Ping mengikuti instruksi Beijing untuk melepas perjuangan bersenjata. Pada pertemuan tersebut diputuskan pemancaran radio dihentikan siarannya pada akhir Juni 1981.

Dibawah tekanan negara-negara Asia-tenggara setelah terselenggaranya konferensi Menlu ke-15 Asia Tenggara, masing-masing negara memperkuat pembasmian terhadap factor kekacauan di dalam negeri. Semua Negara memperbesar tekanan terhadap partai komunis.

Pada 1985, wakil sekjen PKM Wang Yijiang bertandang ke RRT meminta bantuan ekonomi, tapi mengalami penolakan oleh PKT. Atas permohonan untuk menampung veteran berusia lanjut dan cacat fisik, juga ditolak oleh PKT.

Setelah ditelantarkan oleh PKT, ironisnya, mereka diampuni dan ditampung oleh bekas musuhnya.

Pemerintah Thailand dan Malaysia memberi setiap personel bekas anggota PKM sebidang tanah dan tempat tinggal untuk menyambung hidup mereka. Pada 1987, pemimpin teras PKM juga menyambut baik seruan pemerintah Thailand untuk “jangan berperang, mari berdagang” dan mencapai kesepakatan untuk berdamai.

Pada Desember 1989, delegasi PKM yang dipimpin oleh Chen Ping, akhirnya menandatangani persetujuan perdamaian dengan pemerintah Thailand dan Malaysia, meletakkan senjata mereka dan keluar dari hutan.

Malaysia: Komunis Merupakan Sejarah Kelam

Chen Ping yang telah keluar dari hutan, namun pada akhirnya tetap tidak dapat kembali ke tanah airnya, pemerintah Malysia menolaknya, manuduh Chen sebagai “dedengkot teroris”. Chen terpaksa menetap di Thailand.

Pada November 2009, Chen Ping mengaku kekerasan yang dilakukan oleh PKM saat itu telah mencederai masyarakat dan sanak keluarganya serta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Namun tetap ditolak oleh wakil perdana menteri saat itu, “Karena PKM yang dipimpinnya telah sangat melukai penduduk Malaysia …..maka sampai hari ini Anda masih belum dapat dimaafkan.”

Menteri Dalam Negeri Malaysia mengatakan, “Komunis merupakan sebuah lembaran hitam Malaysia. Demi menyebarkan ideologi komunis, mereka bahkan tidak segan-segan membunuh rakyat berbagai etnis kita, oleh sebab itu pemerintah Malaysia tidak akan mengijinkan komunis dibangkitkan. Sebagian besar penduduk Malaysia tidak akan melupakan kekejaman komunis, bagi mereka, Partai Komunis harus dikubur untuk selama-lamanya.”

Pada 16 September 2013, Chen Ping yang kala itu berusia 89 tahun meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Bangkok Thailand. (tys/whs/rmat)

TAMAT