JAKARTA –  Bencana longsor yang melanda di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur baru-baru ini mengingatkan akan adanya potensi bencana pada sejumlah wilayah Indonesia. Tak hanya di Ponorogo, banyak wilayah di Indonesia yang rawan longsor.

Data BNPB menyebutkan daerah rawan longsor tersebar di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.  Terdiri sebanyak 274 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari longsor di Indonesia.

“Sejak hari ini longsor bencana paling mematikan, artinya meninggal korban bencana adalah longsor paling banyak,” jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (2/4/2017).

Peta bahaya longsor menyebar secara menyeluruh di Indonesia. Secara total jumlah penduduk terpapar dari bahaya sedang-tinggi longsor 40,9 Juta jiwa. Puluhan juta penduduk ini tercatat tinggal pada daerah-daerah yang rawan terjadi longsor.

Oleh karena itu, perkiraan tentang bahaya bencana longsor sudah bisa diperkirakan melalui peta bencana yang dibuat oleh Badan Geologi. Peta perakiraan rawan longsor ini dibuat selama perbulan yang mana diserahkan kepada aparatur di daerah dan bisa diakses secara luas oleh masyarakat di internet.

Sepanjang tahun bencana longsor yang melanda pada sejumlah daerah sudah terdata pada peta bencana dan terus berulang pada waktu-waktu tertentu. Sama halnya adalah seperti di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, bencana longsor selalu terjadi pada daerah-daerah yang sudah diperkirakan.

“Jadi masalah sudah terlanjur 40,9 juta masyarakat tinggal di situ,” jelas Sutopo.

Sebanyak 40,9 juta jiwa sebagai terpapar bahaya bencana longsor, rincinya sebanyak 4,28 juta jiwa balita, 323.000 kelompok disabilitas dan 3,2 juta jiwa lansia. Semuanya terpapar longsor saat musim hujan tiba dan minim kemampuan memproteksi diri dari bencana seperti faktor kemiskinan.

Kejadian hanya sepanjang awal 2017 ini, tercatat sebanyak 882 bencana pada tiga bulan pertama menyebabkan 103 orang tewas, 961.440 jiwa mengungsi, 11.559 unit rumah rusak dan 406 unit fasilitas umum rusak. Bencana berupa 95 persen hidrometerologi, banjir, puting beliung dan longsor merupakan bencana yang paling dominan. (asr)

Share

Video Popular