JAKARTA  – Sebelum suara gemuruh dan longsor menerjang, masyarakat di dua dusun Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur sejatinya sudah ditempatkan pada sejumah pengungsian sementara. Pengungsian sejumlah warga ini dilakukan dikarenakan sudah ditemukan adanya gerakan tanah sejak 20 hari yang lalu.

Hujan deras menyebabkan munculnya retakan-retakan di perbukitan. Dari peta rawan longsor, Desa Banaran merupakan daerah bahaya tinggi longsor. Sejak adanya tanda-tanda longsor masyarakat mengungsi sementara pada malam hari.

“Sebenarnya 11 Maret sudah ada retakan, hujan deras, masyarakat sudah tahu,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Minggu (2/4/2017).

Akibat longsor di Ponorogo (BNPB)

Sejak 11 Maret 2017 lalu, selanjutnya retakan semakin meluas dan melebar. Sehingga pada 17 Maret 2017 retakan menjadi 9 meter dan terus bertambah. Atas kejadian ini seluruh aparat di Ponorogo, Jawa Timur yakni Pemda Kabupaten Ponorogo dan BPBD Ponorogo sudah mengantisipasi segala kemungkinan terjadi.

Aparat dengan sigap melakukan sosialisasi termasuk mendirikan posko sosialisasi kepada seluruh jajaran masyarakat. Atas imbauan ini, masyarakat akhirnya mengungsi hanya pada malam hari. Hingga pada perkembangan lanjutannya pada 31 Maret 2017 retakan di perbukitan terus bertambah hingga 20 meter dan pada malam harinya terjadi hujan deras.

Suasana longsoran di Ponorogo (Dokumentasi BNPB)

Pada akhirnya pada Sabtu (1/4/2017) pukul 07.40 WIB terjadi longsor dan menimpa 32 pemukiman warga dan penghuninya. Sekitar pukul 06.00 WIB pagi, pada saat itu masyarakat sedang memanen jahe dan tiba-tiba suara gemuruh datang dari puncak bukit disertai asap serta menerjang dengan kecepatan tinggi. Usaha masyarakat untuk melarikan diri pada saat itu tak berhasil, kalah cepat dengan terjangan longsoran.

Akibatnya, 300 jiwa masih mengungsi di rumah kepala desa dan kerabat. Rincian yang terdampak langsung sebanyak 35 Kepala Keluarga atau 128 jiwa terdiri 100 jiwa berhasil menyelamatkan diri dan 28 orang tertimbung longsor. Saat ini pengungsi masih trauma karena anggota keluarga yang hilang dan kondisi saat longsor yang menerjang diserta bunyi gemuruh.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Minggu 2 April 2017 (Erabaru.net)

Lebih jauh Sutopo menjelaskan penyebab terjadi longsor dikarenakan kondisi alam. Apalagi pada saat itu tak terjadi hujan. Oleh karena, kata Sutopo, memberikan peringatan dini kepada masyarakat tentang potensi longsor mengalami kesulitan. “Biasanya kita evakuasi saat hujan lebat, namun di Ponorogo cuaca cerah,” kata Sutopo.

Perbandingan kejadian sebelumnya, di Kabupaten Banjarnegara tepatnya Desa Jemblung pada September 2015 lalu, juga terjadi bencana longsor saat cuaca tak mengalami hujan. Namun retakan-retakan tanah berlangsung saat terjadinya hujan.

Peristiwa yang terjadi di Ponorogo tak mungkin masyarakat diungsikan selamanya. Pasalnya, masyarakat membutuhkan keperluan hidup untuk mencari nafkah dengan bercocok tanam. Apalagi soal longsor tentang ketidakpastian terjadinya longsor, bahkan hal serupa sudah terjadi pada sejumlah daerah di Ciamis, Sukabumi dan Ciamis sudah terjadi retakan hingga setengah meter serta berlangsung bertahun-tahun.

“Lebarnya setengah meter tapi tak terjadi longsor, ini fenomena geologi tak bisa kita prediksi kapan pastinya longsor, relokasi adalah pilihan terakhir tapi tak mudah, penuh ketidakpastian mencegah longsor,” jelas Sutopo.

Akan tetapi sistem peringatan dini terhadap bencana longsor sudah dibangun pada sejumlah daerah seperti di Karanganyar, Jawa Tengah dan Aceh Besar. Ketika terjadi retakan atau potensi longsor, tanda peringatan pun berbunyi. Sistem ini pada dasarnya sudah dibangun 200 unit, namun masih diperlukan ratusan ribu unit untuk seluruh wilayah Indonesia.

Sementara pada aspek manajemen kelola perbukitan di wilayah Ponogoro itu hanya tanaman semusim seperti jahe, jagung dan singkong. Sehingga akar-akar pohon dari tanaman keras sangat minim untuk mencegah longsor. Hal inilah menjadi faktor pada umumnya di tanah Jawa dikarenakan daerah-daerah tersebut seharusnya dijadikan kawasan konservasi.

Sebenarnya, peta rawan longsor selalu diberikan kepada sejumlah kepada daerah pada setiap bulan. Oleh karena itu, daeran zona merah yakni rawan longsor sudah diketahui di seluruh Indonesia. Namun demikian, 40 juta lebih masyarakat Indonesia sudah terlanjut tinggal di daerah rawan longsor.

Faktor kemiskinan menjadi penyebab sehinga menjadikan masyarakat lemah untuk kemampuan proteksi diri dengan mitigasi bencana. Walaupun demikian, kata Sutopo, upaya penanggulangan longsor sudah sepenuhnya dilakukan.  Namun, kalah cepat melampaui kerusakan lingkungan termasuk keberadaan lahan kritis bencana. (asr)

Share

Video Popular