Oleh: Xia lin

Baru-baru ini di internet daratan Tiongkok beredar sebuah video yang menayangkan beberapa ratus siswa SD yang mengenakan syal merah di sebuah sekolah dasar Beijing dengan mengacungkan kepalan tangan kanan.

Mereka di dalam aula dan membaca teks sumpah yang ditayangkan di layar lebar dengan suara lantang “Tolak snak (makanan ringan), boikot Lotte, cintailah Tiongkok, dimulai dari saya!”

Sejak Group Lotte Korea Selatan pada akhir Februari lalu sepakat bertukar tempat dengn pemerintah Korsel demi penempatan sistem anti-rudal THAAD, media resmi Beijing menyemangati pemboikotan terhadap Lotte Mart yang berada di Tiongkok.

Ada yang turun ke jalanan, ada yang mengobral sumpah serapah, dan hingga saat ini video ini boleh dibilang adalah yang paling “khas”, “pemboikotan” ala budaya partai yang dilakukan mulai dari anak kecil.

Dalam budaya Partai Komunis Tiongkok/PKT yang menebarkan kebencian, cuci otak, tidak membiarkan anak-anak memiliki pemikiran sendiri, di dalam teks sumpah “snack anak-anak SD” itu dimanifestasikan dengan gamblang.

Dalam kata-kata sumpah pendek yang hanya 16 kata itu, penuh dengan kebencian terhadap Lotte dan cinta terhadap RRT yang berlandaskan kebencian terhadap orang lain, mereka sejak kecil telah dipupuk sebuah konsep yakni ingin mencintai sesuatu harus membenci sesuatu yang lain.

Selain itu, sumpah tersebut juga memanifestasikan bahwa PKT selamanya tidak senang jika orang di daratan Tiongkok memiliki pemikiran independen dan melalui berbagai cara melatih kebiasaan buruk ini sejak kecil.

Begitu kebiasaan itu terbentuk, dikemudian hari wajib patuh pada apa yang dikatakan oleh partai, kriteria terhadap lurus-sesat, benar-salah, kebajikan dan kejahatan semua distandarisasi sesuai kriteria yang diberikan oleh “Ibunda Partai”.

Emilia (11) gadis cilik dari Amerika, dengan raut wajah polos yang dipenuhi dengan keyakinan dan pemikiran independen. (internet)

Baru-baru ini di internet juga beredar video “gadis cilik Trump”, yakni Emilia seorang gadis kecil Amerika berusia 11 tahun berasal dari Virginia Utara, disaat menghadiri Konferensi Partai Konservatif Amerika Serikat, diwawancarai oleh Americans First Project.

Gadis kecil Amerika itu sangat fasih dan berpemikiran jernih. Ketika ditanya mengapa dia bisa menggemari Trump. Dia berkata bahwa semula dia juga tidak kenal dengan Trump, namun suatu hari dia tertarik dengan pidato Trump di televisi.

Karena pada umumnya para politisi mengajukan pertanyaan namun tidak akan memberikan solusi terhadap permasalahan, tapi Trump tidak demikian, ia tidak hanya mengangkat masalah krusial tapi juga memberikan solusinya. Misalnya pertanyaan dari reporter, solusi apakah yang telah diberikan Trump?

Dia menirukan suara dan gerakan Trump mengatakan bahwa harus membangun sebuah tembok (Meksiko). Ketika pemilihan awal Partai Republik, dia menyuruh ibunya memilih Trump namun ibunya memberikan suaranya kepada colon yang lain.

Emilia mengangkat-angkat bahunya, menandakan tidak peduli, dia tetap bersikeras akan pandangannya namun juga menghormati pilihan sang ibu. Dia menambahkan, belakangan pandangan ibunya juga berubah, dia telah memilih Trump pada pilpres terakhir.

Karena di sebagian tempat di AS, dukungan terbuka kepada Trump akan mengalami intimidasi dan pelecehan oleh sebagian orang, maka si wartawan bertanya pada Emilia apakah menjumpai hal seperti ini.

Dia mengatakan tentu saja, di sekolah ada banyak siswa yang mengejek dia namun dia tidak akan takut dan mundur. Ketika ditanya mengenai masih ada permasalahan apakah di AS  selain imigran gelap.

Dia berkata, masalah pendidikan sangat parah, serikat guru telah mengendalikan sekolah. Dia suka dengan Menteri Pendidikan yang ditunjuk oleh Trump, karena Menteri tersebut menganjurkan anak memiliki hak memilih sekolah yang mereka sukai.

Bertanya kepada dia, apakah ortunya telah memotivasinya terjun ke dalam politik, dia bilang dia sendiri terutama yang suka dan karena Trump-lah ketertarikannya dalam politik bertambah besar. Jika tidak, dia akan seperti anak-anak sebaya lainnya yang keasyikan bermain game dan menonton kartun di rumah serta tidak akan hadir dalam konferensi Partai Konservatif.

Pada raut wajah polos gadis cilik Amerika itu dipenuhi dengan keyakinan, ketika ditanya lagi apakah rencananya dikemudian hari, dia bilang ingin menuntut ilmu di Universitas Pennsylvania, lalu mengikuti wajib militer, menjadi polisi, menjadi detektif swasta, diwaktu luang meneliti teologi Mesir dan lain-lain.

Atas pertanyaan terakhir si pembawa acara, Apakah dia kelak akan mencalonkan diri menjadi presiden?

Jikalau pada saat itu negara benar-benar membutuhkan, dia juga akan mencalonkan diri sebagai presiden, juga mungkin akan menjabat sebagai hakim Mahkamah Agung.

Dari gambaran dua video jika diperbandingkan maka sangat mudah sekali membedakan, anak-anak yang dibesarkan dibawah budaya partai (komunis) dan anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan demokrasi, betapa besar perbedaan mereka.

Juga bisa dipahami, mengapa warga AS dalam gempuran media arus utama terhadap Trump, masih tetap memilih Trump, karena orang AS yang tumbuh dewasa dalam sistem demokrasi yang matang, mereka sejak kecil sudah berpikiran independen dalam penilaian, tidak mudah terpengaruh oleh faktor apapun. (lin/whs/rp)

Share

Video Popular