Arkeolog menganalisa ulang manusia kerdil prasejarah Indonesia. Menurut mereka bahwa lenyapnya “Homo floresiensis” atau manusia kerdil “hobbit” sekitar 60.000 tahun lalu, bukan manusia modern yang menyebabkan kepunahan mereka, sehingga kembali menarik perhatian orang-orang terhadap manusia kerdil prasejarah ini.

Kolaborasi penelitian yang melibatkan arkeolog dari Australia, Indonesia, Amerika Serikat, Kanada dan ilmuwan internasional lainnya ini untuk mengidentifikasi bahwa hilangnya sang manusia kerdil mungkin sekitar 50,000-60,000 tahun lalu, terpaut jauh dengan 12,000 tahun silam yang diperkirakan sebelumnya.

Studi ini dipublikasikan di jurnal “Nature” 30 Maret 2017.  Menurut peneliti, bahwa semakin awal waktu lenyapnya manusia kerdil itu semakin menegaskan kaitanyna tidak begitu erat dengan manusia modern, tetapi lebih kepada rumpun bangsa lain.

Penuh dengan misteri

Sementara itu, menurut Antropolog asal Kanada Tocheri, seperti dilansir The Globe and Mail, Kamis (30/3/2017)  menyatakan bahwa analisis ini belum menyimpulkan apa gerangan sebenarnya hubungan antara manusia kerdil prasejarah itu dengan manusia modern.

Dr. Tocheri mengatakan, “Kita hanya berdiri di atas gunung es. Lagipula masih terlalu dini disimpulkan, karena masih ada tiga-perempat gua fosil manusia kerdil yang belum tergali, dan kita juga tidak tahu apakah masih ada fosil manusia kerdil di lokasi lainnya.”

Para manusia kerdil ini tingginya sekitar 90 cm (3 kaki), dan oleh para ilmuwan tingginya ini diibaratkan dengan manusia kerdil Hobbit dalam film “Lord of the Rings”.

Salah satu faktor manusia kerdil “Hobbit” asal Indonesia yang menarik perhatian besar dari para ilmuwan dunia ini adalah, karena teori evolusi tidak dapat menjelaskan asal muasal mereka, waktu lenyapnya mereka dan serangkaian masalah lainnya.

Menegaskan legenda kuno

Fosil manusia kerdil ini ditemukan pada 2003 di Pulau Flores oleh ilmuwan Australia dan Indonesia. Pada saat itu, ilmuwan menemukan fosil tengkorak manusia purba yang memiliki bentuk mungil atau hobbit. Manusia purba yang ditemukan di gua Liang Bua tersebut kemudian diberi nama Homo Floresiensis.

Ukurannya tidak lebih besar dari anak-anak usia tiga tahun. Tengkorak, panggul, tulang paha dan anggota tubuh bagian lainnya nyaris merupakan versi yang lebih kecil dari tulang manusia modern, dan diduga itu adalah fosil dari sesosok manusia kerdil berjenis kelamin perempuan.

Sejak itu, para ilmuwan juga menemukan lebih banyak fosil manusia kerdil. Dan para ilmuwan menyadari bahwa fosil manusia kerdil tersebut menegaskan keaslian dari sebuah legenda kuno di pulau Flores Indonesia.

Menurut legenda, tempat tersebut dulunya dihuni oleh semacam manusia dengan ukuran yang pendek mungil, berjalan lenggang lenggok, rakus (makan), dan suka bicara sendiri (mengguman).

Penduduk setempat menyebut manusia-manusia kerdil ini dengan istilah “Ebu Gogo”, artinya “nenek yang makan segalanya”, hingga abad ke-19, masih terlihat mereka berkeiaran di sekitar hutan hujan tropis.  (jhoni/rmat)

Share

Video Popular