Oleh Tang Qing

Gaya kepemimpinan yang keras

Keduanya memiliki gaya kepemimpinan yang keras, berani berkata berani bertindak, suka mengambil langkah tegas dan maju tak gentar.

Patton berani dan lugas, mendapat julukan “jenderal bernyali besar”. Ia sangat mengutamakan kecepatan dan ofensif yang ganas, telah melahirkan strategi perang baru dengan operasi tempur yang lebih terkoordinasi dari beragam angkatan bersenjata.

Pada periode dua kali perang dunia, ia telah menjadi tokoh sentral dalam teori perang lapis baja.

Terdapat komentar yanag mengatakan bahwa semangat petualangan Patton, sampai batas tertentu telah menyemangati para prajurit Sekutu dan telah mempercepat berakhirnya Perang Dunia II dengan kemenangan.

Jajaran tingkat atas militer Jerman dalam menghormati Patton melebihi jenderal Sekutu lainnya. Generalfeldmarschall Karl Rudolf Gerd von Rundstedt dari pasukan Jerman setelah tertangkap dan diwawancarai hanya memberikan pernyataan singkat, “Dia (Patton) adalah yang terbaik di antara kalian.”

Jenderal besar Alfred Josef Ferdinand Jodl, Direktur Operasional Komando Tertinggi Jerman beranggapan bahwa Patton penuh keberanian, lagi pula suka terlibat dalam gerakan besar. Ia berani mengambil risiko besar sehingga memperoleh kemenangan besar.

Patton sangat membenci desertir dan pengecut. Selama Perang Dunia II, selama dua hari pada 3 dan 10 Agustus 1943, ketika ia berada di dua rumah sakit garis belakang untuk mengunjungi tentara yang terluka dan melihat dua tentara yang menderita “kelelahan tempur” dan tidak terlihat luka-luka yang jelas, ia pun marah besar.

Patton menegur dua orang itu, bahkan juga menghadiahi 2 kali tamparan ke wajah mereka. Akibat tindakan controversial nya ini hampir saja Patton diberhentikan dari jabatannya.

Pada malam hari 3 Agustus tersebut, Patton menulis dalam buku hariannya, “Aku kebetulan telah bertemu dengan) satu-satunya pengecut yang tersesat dalam pasukan ini. Setiap kompi hendaknya menangani orang-orang seperti ini dengan baik, kalau mereka mengelak dari tanggung jawab maka hendaknya diadili atas tuduhan pengecut untuk kemudian ditembak mati.”

Pada 10 Agustus, Patton mengatakan pada orang lain, “Aku tidak tahan, setiap kali terpikir ada pengecut di dalam, bedebah itu membuat darahku mendidih. Aku tidak akan membiarkan brengsek tak bernyali berleha-leha di dalam rumah sakit kita. Suatu hari kelak kita mungkin harus menembak mati mereka, jika tidak, sama saja dengan memelihara sekelompok idiot.”

Insiden ini menimbulkan kegemparan besar di Amerika Serikat, Patton dipaksa meminta maaf kepada dua tentara itu. Meskipun Patton tidak dibebas-tugaskan dari jabatannya sebagai komandan, tapi selama hampir satu tahun ia tidak mengkomando operasi tempur.

Pada 11 Juni 2016 Trump tiba dengan pesawat jet pribadi di Pennsylvania AS, pada pesawat tercetak nama besarnya “TRUMP”. (Jeff Swensen / Getty Images)

Sederhana dan tegas, maju tak gentar

Dalam kamus Patton hanya terdapat keberhasilan.

“Saya tidak ingin menikmati kesenangan, hanya ingin mencapai keberhasilan. Saya lebih suka bekerja keras seratus tahun untuk memenangkan sebuah perang, daripada hidup seribu tahun tapi dengan bersantai-ria tanpa hasil apapun.”

Patton pernah menerbitkan ucapan pidatonya yang paling terkenal. Ia mengatakan, “Orang Amerika sangat menyukai sang pemenang. Orang Amerika tidak pernah memaafkan pecundang. Orang Amerika memandang hina pengecut. Kalau orang Amerika ikut bertanding, haruslah menang. Saya menganggap hina orang yang telah kalah tapi masih tertawa. Itulah sebabnya orang Amerika sampai sekarang belum pernah kalah perang, di kemudian hari juga tidak akan pernah kalah. Seorang Amerika sejati bahkan sangat membenci pemikiran tentang kegagalan.”

Berpikir besar (think big), melakukan hal besar dan menjadi seorang pemenang (be a winner) adalah motto Trump. Dalam kamus Trump, juga hanya ada kata berhasil, jika meskipun mengalami kegagalan, ia juga tidak menyerah. Pada 1990-an abad lalu, beberapa bisnis Trump dipaksa menyatakan bangkrut, tapi ia pantang menyerah, terus bekerja keras dan akhirnya bangkit kembali.

Di dalam medan tempur Patton melaksanakan norma sederhana dan berani.

“Perang adalah sederhana, tegas dan tanpa belas kasih, itu sebabnya membutuhkan seseorang yang sederhana dan tak kenal ampun untuk berperang sampai titik darah penghabisan.”

Dia berkata, “Cara untuk menang dalam perang adalah dengan mengalahkan musuh. Cara agar musuh tidak menyerang Anda adalah dengan menyerangnya, tiada henti menyerangnya.”

Dalam “The Apprentice” acara perlombaan ala reality TV show, dimana setiap kali acara, Trump akan memecat seorang peserta kompetisi dengan kinerja yang buruk, dan mengatakan, “Anda dipecat (You’re fired)!”

Dengan gaya sederhana dan langsung semacam itu sangat disukai banyak pemirsa.

Pidato yang memotivasi

Patton berbicara tanpa tedeng aling-aling dan diwujudkan dengan “berbicara kotor”. Sebelum invasi Normandia 1944, salah satu pidato Patton pada batalyon III Angkatan Darat AS, beredar sangat luas.

Film “Jenderal Patton” pemenang piala Oscar menjadikan bagian dari pidato ini sebagai pembukaan. Namun di dalamnya tercampur banyak kata-kata kotor, ada beberapa ahli militer beranggapan bahwa ini tidak profesional, tapi reaksi para anak buah Patton sangat baik.

Beberapa ahli sejarah bahkan memuji bahwa pidatonya ini  merupakan motivasi terbesar dalam sejarah, setidaknya dalam hal meningkatkan semangat juang para prajurit, bukannya dalam bidang kesusasteraan.

“Mana ada bangsat yang dapat memenangkan suatu perang melalui kematian dia kepada Negara. Untuk memenangkan perang, Anda harus melalui kematian para bajingan tengik lainnya (merujuk kepada musuh) yang tewas dalam perang bagi negaranya.”

Ini adalah pembukaan pidato yang paling terkenal.

Pada akhir pidatonya, ia mengatakan, “Nanti bila perang berakhir, kalian laki-laki sejati ini setelah tiba di rumah, Anda berhak untuk mengatakan satu hal. Nak, pada waktu itu kakekmu adalah bersama Batalyon Ketiga Angkatan Darat yang agung, dan juga berjuang bahu-membahu dengan George Patton si anak jalanan! ”

Patton pernah menulis surat kepada keluarganya dan menjelaskan mengapa pidatonya penuh dengan bahasa kotor, “Ketika saya ingin agar para anak buah untuk mengingat, benar-benar mengingat baik-baik beberapa hal yang benar-benar penting, maka saya akan memberi mereka dua kali lipat kata-kata kotor. Mungkin bagi sekelompok ibu-ibu tua yang menghadiri pertemuan afternoon tea tidak begitu mengesankan, namun itu justru dapat membuat tentaraku mengingatnya. Anda tidak mungkin dapat memimpin pasukan tanpa mengucapkan kata-kata kotor, bahkan harus dapat membuat ‘kata-kata yang keluar harus kotor.’ dan berbicara dengan fasih. Tentara tanpa kata-kata kotor maka pasti tidak dapat berperang, bahkan tidak dapat membobol kantong kertas teh yang sudah direndam air kencing.” (pur/whs/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular