Abad lalu pada 1960-an, hubungan RRT dan Uni Soviet 2 negara komunis raksasa mengalami perpecahan. Selanjutnya politik luar negeri RRT menganut garis ekstrim kiri dengan menggunakan bentuk ideologi sebagai garis pemisahaan antara hubungan negara.

Ketua Partai Komunis Tiongkok/ PKT saat itu Mao Zedong beranggapan, RRT harus mewakili Uni Soviet menjadi pusat revolusi dunia, dialah pemimpin revolusi dunia.

Maka PKT meningkatkan dukungan mengekspor revolusi terhadap partai komunis di berbagai negara dalam menentang pemerintah masing-masing dengan kekerasan, terutama terhadap nagara-negara Asia-tenggara, dengan mendukung penuh partai komunis setempat melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah sah mereka.

Waktu itu PKT beranggapan, Asia, Afrika dan Amerika Latin merupakan daerah paling lemah bagi kekuatan imperialisme.

PKT dapat memulai dari Asia Tenggara dan Asia sebagai pusat gerakan, dengan terlebih dahulu menancapkan bendera merahnya di Asia-Afrika-Amerika Latin untuk kemudian ditancapkan ke seantero dunia.

Mengekspor Revolusi ke Indonesia

Di Indonesia, sejak awal 1950-an hingga 1960-an pada abad 20, PKT telah memberi bantuan ekonomi dan perlengkapan militer berskala besar kepada Indonesia, bersamaan itu juga mengekspor “revolusi” dan menopang PKI.

Zhou Enlai, PM RRT saat itu dalam sebuah kesempatan pernah menyatakan, di Asia Tenggara terdapat begitu banyak etnis Tionghoa, pemerintahan Beijing berkemampuan melalui mereka mengekspor “komunisme”, sehingga dalam semalam saja, seluruh Asia Tenggara dapat berubah warna.

Pada saat itu PKI merupakan salah satu partai terbesar di Indonesia, dengan membanggakan diri memiliki 3 juta orang anggota yang tersebar di dalam partai, pemerintahan dan militer, di sekeliling presiden Soekarno sendiri juga terdapat tidak sedikit agen/anggota komunis.

Aidit pemimpin PKI merupakan seorang pemuja Mao, juga seorang penganut ideologi Mao Zedong. Ketika RRT dan Uni Soviet mengalami perpecahan, ia secara tegas mendukung PKT. Antara 1963-1965 ia sering memimpin delegasi PKI berkunjung ke RRT.

Pada waktu itu PKT melakukan dukungan kepada partai komunis di berbagai negara di dunia yang dianggap sebagai tanggung jawabnya, namun partai harus secara teguh mempertahankan “perjuangan bersenjata” di dalam negerinya, bukan semacam partai komunis revisionis yang menganut “jalur parlemen”.

PKI dibawah pengaruh ideologi “kiri” Mao, berupaya melakukan “perebutan kekuasaan secara kekerasan” di dalam negeri, namun pada akhirnya selain gagal total dalam mencapai tujuan, sebaliknya malah mengalami pemberantasan total.

Pada 30 Sepetember 1965, terjadi peristiwa “30 September”, Suharto dari kalangan militer dalam tempo relatif singkat mengambil alih kekuasaan riel, PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia. Menurut data statistik yang tidak lengkap, terdapat jutaan anggota PKI yang ditangkap, terbunuh dan diadili.

Mengekspor Revolusi ke Myanmar

Pada 1967, kedutaan besar dan cabang kantor berita RRT Xinhua di Myanmar mempropagandakan Revolusi Kebudayaan yang sedang berlangsung di RRT kepada etnis Tionghoa setempat.

Di bawah dorongan kedubes RRT dan ormas etnis Tionghoa beraliran kiri, keturunan Tionghoa di Myanmar mengenakan lencana profil Mao Zedong, meneriakkan cuplikan kata-kata ajaran Mao dan berhadapan dengan penguasa Myanmar, membuat masyarakat Myanmar sangat antipati.

PKI dibawah pengaruh ideologi “kiri” Mao, berupaya melakukan “perebutan kekuasaan secara kekerasan” di dalam negeri, namun pada akhirnya selain gagal total dalam mencapai tujuan, sebaliknya malah mengalami pemberantasan total. (internet)

Saat itu ekonomi Myanmar mengalami kesulitan, sehingga digunakan oleh penguasa militer Myanmar untuk mengalihkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah yang memerintahkan penutupan sekolah-sekolah etnis Tionghoa.

Pada 26 Juni 1967 di ibukota Myanmar terjadi peristiwa kekerasan anti Tionghoa, sekelompok besar masyarakat Myanmar menyerbu sekolah, toko-toko dan ormas etnis Tionghoa serta kedubes RRT di ibukota Rangoon, puluhan etnis Tionghoa dipukuli hingga tewas, ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Di Beijing pemerintah RRT menurunkan 200 ribu warganya untuk melakukan demo dan meneriakkan yel-yel ganyang pemimpin Myanmar Ne Win, hubungan RRT-Myanmar pun memburuk.

Pada Juli 1967, media resmi PKT mengeluarkan seruan mendukung penuh rakyat Myanmar melakukan perjuangan bersenjata dibawah pimpinan Partai Komunis Myanmar, melakukan perlawanan terhadap pemerintah Ne Win. Bersamaan itu PKT mengirim delegasi penasehat militer dan lebih dari 200 pasukan tempur bergabung ke dalam pasukan komunis Myanmar.

Pada awal 1968, sekitar 2000 orang kaum pelajar RRT bersama pasukan bersenjata komunis Myanmar yang dilatih di RRT terus mengalir masuk dan bergabung dengan gerilyawan komunis Myanmar,  menduduki wilayah Kokang dengan menghancurkan pasukan pemerintah, sebanyak 1000 lebih kaum muda itu tewas di medan perang.

Pada masa pertengahan 1970-an, PKT mengurangi bantuannya terhadap komunis Myanmar, seiring dengan berkurangnya bantuan, gelombang semangat revolusi kaum komunis Myanmar menjadi redup dan akhirnya lenyap.

Pada 1975, Mao Zedong dengan kondisi sakit-sakitan berdiri sempoyongan menerima kunjungan Ne Win dan “telah melakukan percakapan yang ramah dan akrab”. (tys/whs/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular