Oleh: Jin Gudao

Beberapa waktu lalu, Saudi Arabia yang memiliki kelebihan produksi minyak mentah sebesar 90% kapasitas dunia serta mendominasi ekspor minyak bumi di OPEC, menguasai pergerakan harga minyak bumi.

Kebijakan penambahan dan pengurangan produksinya sangat berpengaruh terhadap naik turunnya harga minyak, juga membuat harga minyak mentah bertahan cukup lama di harga USD 100 per barel dan tidak pernah turun.

Akan tetapi beberapa tahun terakhir ini seiring dengan terus berinovasinya teknologi penambangan minyak serpih di Amerika Serikat dengan teknik retakan hidrolis, pasar minyak mentah yang stabil mulai muncul keretakan pasokan lebih banyak dibandingkan kebutuhan.

Dua tahun lalu Saudi Arabia yang mendominasi harga minyak masih berbangga diri dengan harga minyak yang anjlok dari USD 80 per barel terjun bebas menjadi hanya USD 26 per barel, karena berharap dengan demikian bisa mengenyahkan para produsen minyak serpih dari pasar.

Lebih dua tahun sudah berlalu, produsen AS yang memiliki vitalitas hidup lebih ulet bukan hanya tidak tersingkir, bahkan penambangan minyak serpihnya terus berinovasi dan biaya produksi berhasil diturunkan dari USD 100 per barel hingga mencapai USD 30-50 per barel.

Beberapa waktu lalu data menunjukkan ekspor harian minyak serpih sudah berlipat ganda hingga 1 juta barel/hari. Dengan kata lain, saat ini minyak mentah negara bagian Texas berkisar antara USD 47-50 per barel, produsen minyak serpih terus menggerogoti pangsa pasar minyak OPEC.

Di sisi lain, meskipun biaya penambangan minyak mentah di Saudi Arabia hanya USD 10/barel, tapi tunjangan kesejahteraan sosial yang tinggi telah menjadi beban yang amat besar bagi keuangan negara tersebut, karena ketatnya anggaran keuangan terpaksa BUMN produsen minyak bumi Saudi Aramco melakukan IPO listing di bursa efek tahun ini, untuk menggalang dana menghadapi situasi darurat ini.

Dan agar IPO ini sukses, dengan tetap mempertahankan harga minyak, pada Mei 2016 lalu Saudi pun telah mengganti Menteri Perminyakan Ali al-Naimi yang menyebabkan anjloknya harga minyak beberapa tahun terakhir.

Pada saat yang sama akhir tahun lalu Saudi Arabia memutuskan menggabungkan hasil produksi semester pertama OPEC dengan Rusia, yang akhirnya sukses mendorong harga minyak mentah ke level USD 50 per barel.

Meskipun sekarang OPEC tetap mengurangi produksi minyak mentah sebanyak 1,8 juta barel setiap hari, tapi cadangan minyak mentah tidak hanya menurun bahkan terus bertambah menyebabkan harga minyak anjlok lagi di bawah USD 50/barel.

Saudi Arabia yang was-was terpaksa harus mengalah lagi, terjadilah rapat OPEC minggu lalu membahas penurunan produksi dilanjutkan hingga semester kedua, untuk menopang harga minyak di level USD 47/barel. Karena itu, Rabu (29/3) lalu minyak mentah Texas naik sebesar 2,4% lantaran putusnya pasokan dari Libya, atau ditutup di harga USD 49,51/barel.

Memasuki kwartal kedua, harga minyak mungkin akan menanjak lagi akibat kelanjutan pengurangan produksi OPEC pada semester kedua, dan akan menembus angka USD 50/barel, produsen minyak serpih dengan senang hati akan terus memproduksi dalam jumlah besar.

Dengan kata lain, pengurangan produksi OPEC akan membuat harga minyak bisa bernafas sedikit lega sementara waktu ini, tapi juga memicu produksi besar-besaran minyak serpih, di tengah perang minyak bumi yang fluktuatif seperti ini, Saudi jelas sudah kalah telak, terpaksa hanya bisa mengurangi produksi dengan menyesuaikan harga minyak, dan hanya bisa menyaksikan musuh kuatnya minyak serpih terus mendekat.

Kekalahan Saudi juga menandakan tidak adanya penyelesaian pasokan minyak mentah berlebihan selama jangka waktu panjang ini, dengan berakhirnya harga pembiayaan pendaftaran listing dari Saudi Aramco, topik pengurangan produksi bersama juga akan segera berakhir.

Jika pada saat itu cadangan minyak tetap banyak, maka tragedi anjloknya harga minyak dua tahun lalu akan terulang kembali. (epochtimes/rp)

Share

Video Popular