Ratusan Fosil Manusia Purba Jutaan Tahun di Situs Sangiran Masih Ditemukan Warga Secara Tak Sengaja

143
Suasana seksi Pengembangan kantor Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran melakukaan eksplorasi di Situs Semedo (Dokumentasi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran )

JAKARTA – Fosil manusia purba yang berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun di Situs Warisan Dunia UNESCO Sangiran masih bisa ditemukan oleh warga sekitar secara tak sengaja di sekitar area.

Situs sangiran ini terletak di kawasan dua kabupaten di Jawa Tengah yakni di Kecamatan Gemolong, Kecamatan Kalijambe dan Plupuh di Kabupaten Sragen. Lokasi lainnya adalah di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

Sangiran (Ko Hon Chiu Vincent/UNESCO)

“Menariknya, fosil yang terdapat di Situs Sangiran sebagian besar bukan ditemukan oleh para peneliti profesional, melainkan oleh penduduk yang tinggal di kawasan situs ini,” demikian ditulis oleh situs Kemdikbud awal April 2017 ini.

Menurut laporannya, fosil-fosil di Situs Sangiran sebagian besar ditemukan secara tidak sengaja di lapisan tanah purba di Situs Sangiran oleh masyarakat setempat. Oleh karena ketidaktahuan masyarakat tentang cara teknis penyelamatan temuan, seringkali pada saat diangkat temuan itu justru rusak atau hancur.

Sangiran Early Man Site (Ko Hon Chiu Vincent/UNESCO)

Terkait hal ini, penerimaan temuan fosil dari penduduk setempat adalah salah satu model tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Penyerahan fosil berawal dari kesadaran masyarakat yang dengan sukarela menyerahkan fosil yang ditemukannya atau dimilikinya.

Menurut laporan Kemdikbud, penyerahan fosil dilakukan secara langsung oleh warga yang membawa fosil temuannya ke kantor BPSMP Sangiran yang kemudian diterima oleh petugas. Temuan fosil untuk ditempatkan di laboratorium sebagai tujuan pendataan, diidentifikasi, kemudian dikonservasi.

Sangiran Early Man Site (Ko Hon Chiu Vincent/UNESCO)

Namun, fosil yang diserahkan langsung oleh warga setempat seringkali tidak dilengkapi dengan data dan informasi yang akurat dan lengkap. Hal yang biasa terjadi pada penyerahan temuan fosil adalah penyerahan fosil tidak dilakukan langsung pada saat hari penemuannya.

Hal lainnya adalah Fosil tersebut disimpan dulu di rumah penemu dalam waktu yang lama, sehingga penemu sering lupa kapan dan di mana lokasi penemuannya. Selain itu, fosil yang diserahkan penduduk seringkali berupa pecahan atau tidak utuh, dan fosil sudah dibersihkan sehingga tidak terdapat lapisan tanah yang menempel pada fosil tersebut. Hal itu menyebabkan informasi mengenai fosil tersebut tidak dapat digali lebih lanjut.

Karena itulah Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, unit pelaksana teknis (UPT) Kemendikbud yang bertugas mengelola Situs Sangiran, aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat tentang cara penyelamatan temuan fosil. Tidak hanya itu, BPSMP Sangiran pun memberikan imbalan kepada anggota masyarakat yang menemukan fosil dan menyerahkannya ke BPSMP Sangiran.

Pada 2017 ini, hingga bulan Februari tercatat telah ditemukan fosil sebanyak 305 fragmen, yang sebagian besar ditemukan warga sekitar. Pada Maret 2017 lalu, Kepala BPSMP Sangiran, Sukronedi, menyerahkan kompensasi kepada penduduk setempat atas kerelaannya menyerahkan temuan fosil ke BPSMP Sangiran. Pemerintah memberikan apresiasi berupa piagam penghargaan dan kompensasi berupa sejumlah uang.

Periode pertama pemberian kompensasi kepada penemu fosil di Situs Sangiran pada 2017 dilaksanakan pada Kamis, (23/3/2017). Pemberian kompensasi diberikan kepada 47 orang yang menemukan fosil di Situs Sangiran sepanjang Januari hingga Maret 2017. (Kemdikbud/asr)