Orang Tua ini Sengaja Memakai Baju Rombeng ke Rumah Anaknya, Tapi Diusir, Belakangan Ia Mewariskan Setengah Hartanya kepada Orang Lain yang Baik Hati

809

Suami saya adalah seorang sopir truk, sangat rajin, sebagai istri, beberapa kali saya memintanya supaya izinkan saya untuk ikut membantu mencari nafkah, tapi dia melarang.

Dia hanya berkata sambil tersenyum, “Suatu hari nanti saya pasti akan berhasil, saya akan memberikan kehidupan yang lebih baik padamu!”

Awalnya saya hanya menganggap itu hanya sekadar lelucon, tapi dalam batin saya merasa bahagia juga, tapi tidak pernah terlintas dalam benak saya. Suami saya benar-benar berubah menjadi seorang hartawan, dan semua ini berkat kebaikan hatinya!

Suatu hari ketika ia mengendarai mobil di jalan, tiba-tiba muncul sebuah mobil melaju dari arah berlawanan!

Ia terkejut dan spontan menginjak rem, tapi tabrakan tak bisa dihindari, mobil itu baru berhenti setelah sempat jungkil balik beberapa kali, ketika itu suaminya baik-baik saja, tapi ia bergegas menghampiri sopir yang melaju berlawanan itu meski ia sendiri masih terjaga dari shocknya.

“Pak tua, Anda baik-baik saja?”

Ia berteriak cemas di depan jendela mobil, di dalam mobil tampak seorang pria tua berusia 60-an, sepertinya tidak ada yang serius, hanya saja pak tua itu bergeming, terlihat sangat ganjil.

Kemudian sang suami memanggil ambulans dan polisi. Setelah polisi tiba di lokasi kejadi, mereka melihat uang kertas bernominal 100 dolar di belakang mobil pak tua dengan nilai yang tidak biasa, mereka curiga pak tua itu adalah oknum ilegal!

Pak tua berbaring di atas ranjang pasien, suami saya mengambilkan segelas air hangat sambil mengatakan akan  menghubungi keluarganya, tapi dia menolak mengataka, “Jangan hubungi mereka!”

Orang tua itu lalu berkata sambil menangis terisak, menceritakan kisahnya kepada kami. Sebenarnya ia memiliki dua anak, karena istrinya telah meninggal, sehingga dia sendirian dengan susah payah membesarkan anak-anaknya.

Sekarang mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak, tetapi selama delapan tahun tidak pernah melakukan kontak sama sekali, juga tidak pulang ke rumah.

“Karena mereka memandang rendah saya sebagai petani yang buta huruf, dan takut dibikin malu”.

Demi dihargai di depan menantu dan cucunya, selama bertahun-tahun ia berusaha keras mengembangkan usaha pertaniannya, bahkan telah membuka peternakan skala besar. Dan dari hasil usaha kerasnya selama beberapa tahun itu kemudian ia telah menjadi hartawan setempat.

Tetapi disaat memetik kejayaannya ia didiagnosis menderita kanker, dan sisa hidupnya juga tidak lama lagi. Semula ia berencana mengunjungi dua putranya, sambil membawa satu kotak uang tunai, ke rumah putra sulungnya!

Pak tua itu sengaja berpakaian compang-camping, dengan maksud menguji reaksi putra sulungnya, namun, raut muka anak dan menantunya itu seketika berubah melihat penampilannya, mereka mengira pak tua itu datang untuk minta biaya pension.

Ia berlutut sambil terisak mengatakan tidak punya uang, hingga akhirnya diusir. Dengan perasaan sedih, kemudian ia pergi ke rumah anak keduanya, namun tak terlihat ada reaksi apapun setelah cukup lama memencet bel pintu, ternyata putra keduanya telah diberitahu, jadi, memang sengaja tidak menyambut kedatangannya.

Dengan perasaan kecewa, ia pulang ke rumah, karena tekanan yang terlalu berat, sehingga tanpa sengaja mengendarai mobil ke arah yang berlawanan. Pak tua itu bertanya pada suami saya, apa boleh tinggal beberapa hari di rumah kami?

Ia ingin merasakan sejenak kehangatan dan kebahagiaan saat berkumpul bersama keluarga. Meskipun orang asing yang tak dikenal, tapi suami saya pikir itu adalah jodoh, lalu dengan senang hati menyambutnya.

Tapi tak disangka, begitu tinggal lebih dari enam bulan lamanya. Anak-anak kami pun memanggilnya kakek, dan kami berdua juga berbakti dengan menganggapnya sebagai orang tua.

Menjelang kepulangannya ke rumah Bapa, ia memanggil kami, sambil mengucapkan terima kasih ia berkata,  “Saya akan memberikan setengah dari warisan saya untuk kalian, setengah sisanya disumbangkan kepada masyarakat, terima kasih masih sempat bertemu dengan kalian pada detik-detik terakhir dalam hidup saya!”

Suami saya menangis terisak, dan sesuai dengan pesannya, surat dari tulisan tangannya itu dikirim ke kedua putranya.

Beberapa hari setelah pemakaman, tak disangka kedua anaknya datang dan berteriak ingin mengambil warisan. Dengan emosi suami saya mendamprat mereka, “Dasar kalian anak durhaka!”

Tapi akhirnya ia mengalah, memberikan 100.000 Yuan pada mereka masing-masing supaya pergi.

Meskipun pak tua itu telah memberi kami banyak uang, tapi setelah didiskusikan akhirnya kami memutuskan menyumbangkan uang dari pak tua itu kepada mereka yang lebih perlu dibantu, seperti saat sang suami membantu orang tua itu.

Sikap dan tingkah laku anak-anak pak tua itu benar-benar tak bisa dibandingkan dengan sesosok orang asing yang baru dikenal orang tua tersebut! (Jhony/rmat)