Oleh Tang Qing   

Bertempur untuk Tuhan

Patton benar-benar percaya pada takdir, bahkan telah mengungkapkan ingatannya dalam bereinkarnasi.

Pada 1942, ketika Jenderal Patton dan Jenderal Bradly mensurvey medan perang di Tunisia Afrika Utara, Patton tiba-tiba meminta sopir untuk berbelok ke kanan.

Reruntuhan model Romawi kuno tiba-tiba muncul di depan mata, mereka turun dari mobil, setelah berjongkok Patton bergumam seorang diri, “Di sinilah medan perangnya. Orang Kartago digempur oleh tiga legiun tentara Romawi. Orang Kartago yang pemberani sudah tidak mampu bertahan, tidak mampu lagi mempertahankan kota ini. mereka semua dibantai, tubuhnya terkena terik sinar matahari, dua ribu tahun yang lalu, saya berada di sini.”

Patton membalikkan tubuh dan tersenyum, “Apakah Anda percaya apa yang saya katakan itu?”

Jenderal Bradly dan sopir sempat terbengong-bengong.

Pada 1944, Patton menulis sebuah puisi yang menggambarkan bahwa dia melihat perannya dalam ribuan tahun bereinkarnasi.

Ia pernah menjadi tentara Kartago kuno di Afrika Utara, menjadi prajurit gagah perkasa Yunani yang berperang melawan orang Persia, tentara Romawi yang berperang untuk Caesar, menjadi Marshal Angkatan Darat Napoleon dalam pertempuran Waterloo, menjadi ksatria Perancis dalam perang Seratus Tahun antara Inggris dan Perancis dan lain-lain.

Dalam Puisi dikatakan, ”Meskipun tidak tahu tujuan dari pertempuran saya dalam kehidupan demi kehidupan. Tapi mengetahui bahwa kehendak Allah berada di atas perselisihan manusia,

Saya berperang dalam mematuhi kehendak Allah.”

“Doa Patton” malah lebih terkenal di seluruh dunia, secara resmi telah tercatat dalam sejarah Amerika Serikat. Menurut kenangan pendeta penanggung jawab atas Angkatan Darat kelompok III, Kolonel O’Neill, pada 1944 pertempuran Normandy dimulai.

Pada Desember, militer AS 101st Airborne Division yang ditempatkan di lalu lintas utama Basten di Prancis dikepung oleh tentara Jerman, dalam keadaan darurat. Patton memimpin Angkatan Darat Ketiga bergegas ke Basten untuk menyelamatkan 101st Airborne Division. Pada saat itu, daerah Basten diselimuti kabut dan salju tebal, Pasukan Sekutu tidak mampu memberikan dukungan serangan udara.

Pada kondisi darurat militer, Jenderal Patton memohon bantuan kepada Allah. Dia meminta pendeta militer membuatkan kartu doa untuk didistribusikan ke semua 250.000 perwira dan prajurit, di atasnya bertuliskan “Doa Patton” yang terkenal.

“Mahakuasa Bapa yang penuh belas kasih, kami dengan rendah hati memohon Anda untuk mengontrol cuaca buruk ini, mengkaruniai kami cuaca baik yang dibutuhkan untuk berperang. Tolong tunjukkan rahmat untuk mendengarkan seruan kami para tentara, dengan kekuatan Ilahi membantu kami untuk terus meraih kemenangan, menghancurkan tekanan musuh yang jahat, bersama dengan negara-negara di dunia untuk menegakkan keadilan bagiMu.”

Malam menjelang mars cepat, salju lebat masih tetap turun. Jenderal berpengalaman pemberani yang menggetarkan dunia dengan rendah hati berlutut di ujung jalan, berdoa sendirian kepada Allah.

“Ya Tuhan, Patton berseru kepadaMu. Dalam dua minggu terakhir, kami terus berada di neraka. Hujan, salju, badai hujan dan badai salju. Aku bahkan mulai bertanya-tanya apa sebenarnya tujuanMu. Atau dengan kata lain, Engkau berada di pihak yang mana?”

“Engkau tahu bahwa keadaan kami adalah sangat membuat orang putus asa. Memang, saya memberitahu orang-orang saya bahwa semuanya berjalan sesuai rencana, tapi yang harus ditambahkan adalah, 101st Airborne Division wilayah Basten sedang menderita pukulan berat, sedangkan badai salju yang terus-menerus membuat dukungan udara menjadi mustahil.”

“Yang sulit diatasi bukanlah Tentara Jerman, tapi cuaca buruk. Saya tidak suka mengeluh yang tidak masuk akal, tapi tentara saya mulai dari Meuse sampai dengan Echternach terus berjatuhan korban. Hari ini, saya mengunjungi beberapa rumah sakit, di mana telah dipenuhi para penderita radang dingin, sehingga penderita luka di medan perang tidak menemukan tempat pengobatan dan berada di ambang kematian. Ini bukanlah yang terburuk. Jarak pandang rendah, hujan terus-menerus membuat angkatan udara kita dalam keadaan lumpuh.”

“Ya Tuhan! Saya selamanya bukan orang yang sewenang-wenang, saya juga tidak memohon yang berlebihan kepadaMu. Aku bahkan tidak menuntut mukjizat, seluruh permintaan saya hanya empat hari yang cerah.”

Saat fajar, terjadilah sebuah keajaiban! Salju berhenti turun, enam hari berikutnya cuaca cerah. Dengan demikian, Angkatan Darat Ketiga dengan leluasa menuju ke utara berhasil menyelamatkan 101st Airborne Division yang terjebak di wilayah Basten. Dengan demikian “Doa Patton” pun telah menjadi suatu mukjizat yang terkenal di seluruh dunia.

Dibandingkan dengan Patton, Trump meskipun tidak memiliki kenangan reinkarnasi, tapi ia juga seorang yang beriman teguh. Dia tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional, tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak mengkonsumsi narkoba dan bekerja lebih dari 12 jam sehari.

Katanya Trump adalah penganut Kristen Presbiterian. Trump pernah berkata dalam sebuah pernyataan, “Saya bangga menjadi orang Kristen, setelah menjadi presiden, saya tidak akan mentolerir agama Kristen diserang dan dilemahkan terus-menerus.”

Trump juga mencantumkan diktum ibunya pada halaman judul buku “Bagaimana menjadi kaya,” yang diterbitkan oleh Random House. Kalimat ini mengatakan, “Percaya pada Tuhan dan jujur kepada diri sendiri (Trust in God and be true to yourself)”.

Sejarah telah berlangsung sekian lama, setiap generasi akan muncul orang-orang berbakat. Trump yang akan “membuat Amerika menjadi besar lagi” dan Patton yang “berperang untuk Allah” memiliki begitu banyak persamaan. Antara mereka berdua, sebenarnya memiliki semacam pertalian mentakjubkan yang bagaimanakah?

Hari ini, Trump telah berada di Gedung Putih, dan sedang berjuang untuk hari ini dan hari esok bagi Amerika Serikat. Akankah presiden ke-45 Amerika Serikat itu juga menjadi pahlawan bagi rakyatnya?  (pur/whs/rp)

TAMAT

Share

Video Popular