Budaya Barat: Michelangelo Bounaroti yang Serba Bisa

227
(http://www.michelangelo-gallery.org/)

Oleh: Ming Yue

Bagi seniman dan orang yang belajar sejarah kebudayaan Barat, nama Michelangelo Bounaroti sudah tidak asing lagi. Ia adalah pemahat, pelukis dan ahli bangunan tersohor dari Italia pada zaman Renaissance, seorang seniman besar yang serba bisa dan berpengetahuan luas.

Ia giat berkarya selama hidupnya walau dalam perjalanan penciptaannya selama 70 tahun lebih banyak kekecewaan dialaminya. Karya-karya indahnya yang bersifat keteladanan, telah menambah lembaran abadi bagi khazanah peradaban manusia.

Michelangelo telah mewakili seni pahat tertinggi pada masa Renaissance Eropa, karyanya dengan objek manusia terlihat gagah perkasa, penuh karisma, dan memiliki arti yang dalam. Sejumlah besar karyanya yang digambarkan secara realistik telah memiliki roh spiritual yang sangat unik, menjadi simbol tipikal dalam keseluruhan zamannya.

Karyanya berbeda dengan semangat ilmiah dan pertimbangan filsafat dari Da Vinci, dan di dalam karya seninya telah dituangkan penuh kegairahan yang tragis. Sifat ini diekspresikan ke luar dengan gaya yang indah dan agung dan pahlawan yang diciptakannya selain merupakan simbol yang ideal juga refleksi dari kenyataan. Itulah yang  membuat karyanya mencapai puncak tertinggi yang sulit tersaingi dalam sejarah kesenian Barat.

Karya Michelangelo Buonarroti (Wikipedia)

Dilahirkan tidak jauh dari Florence dalam sebuah keluarga bangsawan Caprese pada 1475. Sang ayah pernah menjabat sebagai walikota dari  Chiusi dan Caprese. Konon ketika Michelangelo berusia enam tahun ibunya meninggal, dan ayahnya meminta seorang wanita dari seorang tukang batu sebagai inang (ibu susu).

Maka ketika ia masih balita sudah memiliki tabiat seorang tukang batu, sehingga di kemudian hari menjadi guru besar pemahat dan menjalin pertalian jodoh seumur hidup dengan batu pualam.

Sejak kecil Michelangelo sudah mencintai seni. Walau sang ayah tidak rela anaknya menjadi seniman yang berstatus sosial rendah, akhirnya toh menurut saja dengan keinginannya. Awalnya ia belajar melukis pada pelukis terkenal Florence, Domenico Ghirlandaio, kemudian belajar memahat di bawah pengarahan Lorenzo de’ Medici. Koleksi seni Clan Medici yang sangat banyak semakin membuat Michelangelo terbuka wawasannya.

Ketika berusia 16 tahun, ia telah menyelesaikan karya pahat pertamanya ‘Madonna of the Steps’ (Bunda Suci disamping Tangga) yang bakat cemerlangnya langsung diakui oleh guru dan temannya. Tahun 1492 Lorenzo wafat dengan demikian mengakhiri pelajaran yang berkesan bagi masa remaja Michelangelo.

Tahun 1496, Michelangelo datang ke Roma yang didambakannya. Tak lama ia sudah  menghasilkan “Meratapi Kristus”. Karya pahat pada masa awalnya ini telah menunjukkan daya cipta seninya yang sangat tinggi. Di dalam karya tersebut, Kristus yang sedang sekarat terbaring di atas pangkuan ibundaNya, sang ibu memandang ke bawah ke arah putranya, diliputi kepedihan dan kasih sayang.

Karya seutuhnya membuat orang selain berduka juga timbul rasa keindahan, setelah dipamerkan langsung menimbulkan kehebohan di seluruh Kota Roma, orang-orang bagaimanapun juga tidak menduga bahwa ini adalah karya dari pendatang baru yang tidak genap berusia 25 tahun.

Di Roma, Michelangelo bersentuhan dengan karya-karya guru besar zaman dahulu, ketrampilan seninya telah mengalami kemajuan pesat. Musim semi tahun 1501 setelah ia balik ke Florence mencipta patung “David”. “David” adalah karya yang mengantarkan kesuksesannya, temanya diambil dari cerita yang ada di dalam “Perjanjian Lama”.

Raja David pada zaman Israel kuno, pada masa remajanya pernah jadi penggembala. Suatu hari ketika mengantar makanan untuk kakaknya, dan turun ke medan perang, ia berjumpa dengan raksasa kejam dari pihak musuh Goliath yang sedang mengamuk. Pada saat itu, David menggunakan pelontar batu dan berhasil membinasakan Goliath. Patung David dibuat dengan sosok pemuda gagah perkasa, bersikap tegas dan tabah, sepasang matanya tajam bersinar, sedikit menundukkan kepalanya, melirik murka ke depan. Sementara itu, tangan kiri menggenggam “pelontar batu” yang disandarkan di atas bahunya, seolah siap setiap saat untuk mengirim serangan mematikan kepada musuh.

Demi patung tersebut, Michelangelo telah menghabiskan waktu sekitar tiga tahun, membuatnya nyaris mencapai taraf kondisi sempurna tanpa cacat. Keberhasilan “David”, menjadikan Michelangelo sebagai pakar pemahat yang paling besar kala itu. “David” oleh pemerintah waktu itu diletakkan di atas lapangan di depan gedung pemerintahan Kota Florence, hingga saat ini kita masih tetap bisa menikmati karya luar biasa tersebut.

Tahun 1503 karena kesohorannya di Florence, Sri Paus dari Roma saat itu, Julius II mengundangnya ke Roma mengikuti pembuatan makam Sri Paus. Belakangan karena hasutan dari seniman yang iri, proyek terpaksa dihentikan.

Tahun 1508, Michelangelo kembali ke Roma, dipaksa mengerjakan fresco ceiling untuk langit-langit Gereja Sistine yang sebelumnya tidak begitu dikuasai dengan baik. Perasaannya waktu itu marah bercampur sedih dan tanpa diduga fresco ceiling tersebut malah menjadi karya terbesarnya.

Luas fresco ceiling Sistine mencapai sekitar 500 m2, dalam sejarah kesenian adalah salah satu mural yang terbesar. Di bagian tengah aula itu, ia memasang scaffolding (andang) dan melukis sembilan gambar religius dengan ukuran tidak standar, semuanya mengambil tema dari Kitab Suci, mulai cerita Kitab Kejadian sampai ke Bahtera Air Bah Nabi Nuh. Seperti: 1. “Tuhan Memisahkan Terang dari Gelap,” 2. “Penciptaan Matahari dan Bulan,” 3. “Tuhan Memisahkan Daratan dari Lautan,” 4. “Penciptaan Adam,” 5. “Penciptaan Wanita,” 6. “Teperdaya dan Diusir dari Eden,” 7. “Pengorbanan Nuh,” 8. “Air Bah,” 9. “Nuh Mabuk.” Karya Fresco raksasa tersebut memerlukan empat tahun lebih baru selesai.

Di antara kelompok mural tersebut, “Penciptaan Adam” dinilai paling menonjol. Rancangan karya itu menunjukkan dia telah memperoleh petunjuk inspirasi supranatural, ia menjadikan tubuh Adam sebagai sentral, Adam seolah baru terbangun dari tidur pulas dan sedang berbaring miring bermalasan dengan santai serta tubuhnya sepertinya kurang tenaga. Namun sosok tubuh muda perkasa Adam diwujudkan oleh sang pelukis penuh dengan keindahan ideal yang maksimal dan yang terpendam dalam.

(http://www.michelangelo-gallery.org/)

Adam menjulurkan tangan hampir menyentuh tangan Tuhan yang telah menganugerahinya jiwa dan mengalirinya dengan daya hidup. Sentuhan jari Tuhan dan jari manusia ini adalah titik fokus seluruh lukisan, juga tanpa diragukan adalah simbol dari seluruh “Abad Penciptaan”.  Hal yang membuat penasaran adalah Michelangelo tidak membiarkan kedua tangan tersebut tersentuh menyatu dan memancarkan kegaiban penciptaan Tuhan. Jarak yang terpaut sedikit tersebut telah menjadi sekejap penantian yang langgeng dan telah meninggalkan ruang imajinasi yang abadi.

Tahun kedua, Julius II wafat, Sri Paus baru penggantinya Leo X memutuskan membuatkan patung bagi makam pendahulunya. Michelangelo menghasilkan tiga karya dari batu pualam, “Musa” adalah salah satu yang terkenal. Dalam karyanya itu, gaya Florence dan Roma telah melebur menjadi satu dan sukses besar. Dua karya lainnya “Budak Pemberontak” dan “Budak yang Sekarat” juga termasuk karya pahatnya yang sukses.

Bersamaan itu, ia membangun kapel (gereja kecil) bagi clan Medici di Florence, mewariskan satu kelompok pahatan yang penuh makna “Pagi”, “Senja”, “Siang”, “Malam”. Ia juga menerima titipan dari Sri Paus untuk membuat mural raksasa “Pengadilan Terakhir” (The Last Judgement). Gambar tersebut dimulai tahun 1541 dan diselesaikan dalam waktu enam tahun.

Disebutkan dalam “Bibel” ketika hari kiamat tiba, Kristus akan melakukan sidang terakhir, untuk menghukum yang jahat dan memberkati yang baik dan menentukan tujuan akhir dari umat manusia. Di tengah bidang lukisan ini, Kristus mengangkat tangan kanan terlihat segera akan memancarkan Pengadilan Terakhir. Di sebelah kiri terdapat pengikut Kristus yang menanggung derita berkat kepercayaan mereka dan masing-masing dari mereka memegang peralatan penganiayaan serta mengadu kepada Kristus.

Masa tua Michelangelo tinggal di Roma dengan kegemarannya pada seni arsitektur.  Pada 20 tahun terakhir masa hidupnya, ia dengan bergairah menekuni bidang bangunan, merancang dan mengorganisasikan pekerjaan proyek Katedral Santo Petrus yang  desain gedung untuk seluruh katedral dirancang olehnya.

Daya cipta tinggi dalam bidang bangunan membuatnya menjadi pakar bangunan yang tersohor pada masa Renaissance di Italia.  Dalam usia 89 tahun, ia meninggal dunia di ruang kerjanya pada 18 Februari 1564. (Sumber:Minghui School/asr)