Ekspor Revolusi Komunisme ke Asia Tenggara (2)

587
Hingga akhir 1969 pasukan komunis Kamboja hanya berjumlah 3.000 personil, namun pada 1975 sebelum menyerang ibu kota Kamboja Phnom Penh, berkat bantuan massive PKT, pasukan yang dikenal brutal dengan sebutan Khmer Merah itu telah berkembang menjadi sebuah kekuatan bersenjata beranggotakan 80.000 personel. Nampak pada foto suasana tegang disaat pengepungan phom penh oleh Khmer Merah pada awal April 1975. (internet)

Abad lalu pada 1960-an, hubungan RRT dan Uni Soviet 2 negara komunis raksasa mengalami perpecahan. Selanjutnya politik luar negeri RRT menganut garis ekstrim kiri dengan menggunakan bentuk ideologi sebagai garis pemisahaan antara hubungan negara.

Ketua Partai Komunis Tiongkok/PKT saat itu Mao Zedong beranggapan, RRT harus mewakili Uni Soviet menjadi pusat revolusi dunia, dialah pemimpin revolusi dunia.

Mengekspor Revolusi Ke Kamboja

Kamboja yang sangat bersahabat dengan RRT, dibawah organisasi dan dorongan pejabat luar negeri serta para ahli bantuan luar negeri RRT, telah terjadi serentetan “aksi perlawanan” terhadap pemerintah Kamboja.

Sihanouk sebagai kepala negara Kamboja terpaksa mengusir 2 orang ahli RRT dan melakukan pembatasan terhadap penyebaran pengajaran ideologi Mao Zedong serta melarang pembagian “Kutipan Kata-kata Ketua Mao” dan lencana Mao. Surat terbuka yang diedarkan oleh kedubes RRT di Kamboja itu mengatakan, ”Menghormati Ketua Mao merupakan hak setiap orang Tionghoa”.

Pada Agustus 1967, Sihanouk mengirim menlu Kamboja melakukan kunjungan ke RRT, meminta RRT tidak melakukan propaganda revolusi kebudayaannya di Kamboja. Namun PM RRT Zhou Enlai saat itu malah menuntut balik Sihanouk mengijinkan keturunan Tionghoa di Kamboja memiliki hak untuk mencintai ketua Mao, mencintai sosialisme dan mencintai RRT.

Pada 1968 komunis Kamboja resmi mendirikan pasukan militer, hingga akhir 1969 yang hanya berjumlah 3.000 personil, namun pada 1975 sebelum menyerang ibu kota Kamboja Phnom Penh, telah berkembang menjadi sebuah kekuatan bersenjata beranggota 80.000 personel, yang “dilengkapi dengan perlengkapan mutakhir dan gagah berani”, semuanya ini berkat bantuan dari PKT.

Pada 1970, PKT telah membantu perlengkapan persenjataan untuk 30.000 pasukan Pol Pot, demikian yang tertera di dalam buku “Catatan riel membantu Vietnam melawan Amerika” karangan Wang Xiangen.

Mengekspor Revolusi ke Singapura

PKT menyalahgunakan kerinduan terhadap masyarakat ideal dari keturunan Tionghoa Asia-tenggara dan pertalian perasaan dengan negara leluhurnya, telah mengembangkan kekuatannya dengan mendirikan sebuah organisasi front persatuan yang disebut “Front Persatuan Sosialisme”.

Di dalam sebuah referendum  penentuan nasib Singapura, dengan mengatasnamakan berpendirian kelas proletar internasionalisme, mereka menentang kemerdekaan negara Singapura lantaran Partai Komunis Singapura masih termasuk cabang dari Partai Komunis Malaysia.

Selanjutnya dalam pemilu negara Singapura pada 1963, juga dikalahkan oleh Partai Aksi Rakyat yang dipimpin Lee Kuan Yew. Sehingga pada akhirnya memilih jalur kekerasan dan menciptakan teror, bergabung dalam “Front Pembesan Nasional Malaysia” yang dikendalikan  oleh PKM, dengan demikian mengalami penindasan oleh pemerintah Singapura.

Lee Kuan Yew menganggap dukungan PKT terhadap partai komunis Malaysia dan Singapura merupakan sebuah ancaman laten besar bagi kestabilan masyarakat, perkembangan ekonomi dan keharmonisan berbagai etnis Singapura.

Pada 1976 Lee kali pertama mengunjungi RRT, tujuan utamanya adalah menuntut PKT agar berjanji melepas politik “Ekspor revolusinya” ke berbagai negara Asia Tenggara.

Pada kunjungan kali kedua ke RRT, Lee secara tegas meminta PKT menutup siaran radio PKM yang berlokasi di dalam wilayah RRT, dengan imbalan negara-negara Asia Tenggara mendukung kedudukan Khmer Merah di dalam PBB. PKT terpaksa memanggil pemimpin PKM dan memberinya batas waktu untuk menutup siaran radio PKM di provinsi Hunan itu.

Mengekspor Revolusi ke Filipina

PKT mendukung Partai Komunis Filipina aliran Mao yang dipimpin Jose Maria Sison, yang pernah  mengenyam pelatihan di RRT selama 3 bulan. Setelah kembali ke negaranya, ia yang dijuluki “Mao Zedongnya Filipina.” Ia mengumpulkan anggota komunis Filipina aliran ekstrim, hingga pada 1969 mendirikan “Tentara Rakyat Baru” Filipina (belakangan berganti nama “Tentara Pembebasan Rakyat”), guna mengobarkan perjuangan bersenjata.

Pada 1971, demi menyongsong “klimaks revolusi” Filipina, Sison menentukan “garis PKT” sebagai garis partai, mengirim delegasi 14 orang ke RRT yang dipimpin oleh orang nomor 2 dalam partai, Ricardo Malay untuk  menerima pelatihan.

Pada saat itu, PKT selain memberi pasokan senjata kepada pasukan komunis Filipina, juga memberikan pelatihan tentang perang gerilya dalam pelayaran di laut,  penggunaan ramuan herbal dan akupunktur dalam penyembuhan penyakit.

Dikemudian hari ketika Malay menerima wawancara sebuah media, ia menyampaikan dirinya telah menyadari bahwa diantara revolusi RRT dan Filipina memiliki perbedaan yang sangat besar, tidak dapat menjiplak begitu saja model Maoisme.

Hingga abad ke 20 awal 1980an, begitu usai Revolusi Kebudayaan, Deng Xiaoping yang baru naik tahta lagi, perlu mengambil langkah-langkah pragmatis dalam bidang diplomatik, maka PKT secara resmi melepas dukungannya terhadap gerakan kekerasan melawan pemerintah yang dilakukan oleh partai komunis di berbagai negara, ekspor revolusi itu pun berakhir sudah. (tys/whs/rmat)

TAMAT