Ada seseorang yang telah meninggal, ketika ia menyadarinya, ia melihat tangan Sang Buddha membawa tas dan menghampirinya. Lalu terjadilah dialog antara si mati dan Buddha seperti berikut ini.

Buddha : Mari nak, kita pergi.

Pria (almarhum) : Begitu cepat sudah harus pergi ? Saya masih punya banyak rencana yang belum.

Buddha : Maaf, tapi waktunya sudah tiba.

Pria : Apa isi tas Anda itu?

Buddha : Barang-barang peninggalan kamu.

Pria : Barang saya? Maksudmu itu barang-barang saya, pakaian dan uang …

Buddha: Barang-barang itu bukanlah milikmu, mereka (barang) itu milik Bumi.

Pria : Apakah ingatan saya?

Buddha: Bukan. Mereka milik waktu.

Pria : Bakat saya?

Buddha: Bukan. Mereka adalah nasib.

Pria : Teman-teman dan keluarga saya?

Buddha: Bukan, nak, mereka adalah perjalanan yang pernah kamu lalui.

Pria : Isteri dan Anak-anak saya ?

Buddha: Bukan, mereka adalah jiwa Anda.

Pria : Kalau begitu pasti tubuh  saya.

Buddha: Bukan, bukan,  tubuhmu itu adalah debu.

Pria : Kalau begitu pasti roh saya !

Buddha: Nak, kamu salah, rohmu itu milik saya.

Dengan air mata berlinang, dan dengan perasaan takut pria itu mengambil tas dari tangan Sang Buddha dan membukanya…

Air matanya berlinang membasahi segenap mukanya, dan dengan perasaan hancur bertanya pada Buddha.

Pria : Apakah saya tidak pernah memiliki apa pun?

Buddha: Ya. Kamu tidak pernah memiliki apapun.

Si Mati : kalau begitu, apa yang menjadi milikku ?

Buddha: Setiap waktu kamu, setiap saat ketika kamu hidup itu adalah milikmu.

Hidup ini singkat dan hanya sebentar. Hiduplah sewajarnya, cintailah hidup dan nikmatilah hidup yang diberikan!

Hidup adalah kemenangan. Bekerja untuk memperoleh penghasilan hanyalah permainan. Sehat itu barulah tujuan, dan kebahagiaan itu adalah arti yang sesungguhnya.

Seratus tahun kemudian (kiasan seseorang yang sudah tiada), kamu tidur punyamu, begitu juga dengan saya. Ungkapan seindah apapun tidak bisa lagi diutarakan denganmu, karena kita akan tidur pulas, tertidur dalam waktu yang sangat lama dan lama.

Karena itu, harus saling menghargai antar orang-orang dekat (keluarga atau sohib), karena waktu setiap insan itu semakin berkurang, pada akhirnya harus berpisah.

Jangan bertikai, jangan beradu emosi, bicarakan dengan tenang dan baik-baik, saling pengertian dan toleran. Hargai dan syukuri orang-orang yang baik terhadapmu, karena setelah tiada, internet juga tidak bisa lagi dihubungi!

Hidup, tidak peduli lama atau singkat, hanya sekali bagi setiap insan di muka bumi. Hidup setiap orang terus berlanjut, baik suka maupun duka. Hidup, semua orang menjalaninya, tidak peduli naik atau turun (lika-liku hidup).

Manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan setiap persoalan atau hal ihwal, tidak ada yang sempurna. Ada orang yang picik, tapi cukup anda abaikan saja, tidak perlu perhitungamn dengan orang seperti itu, karena hanya akan mengganggu pikiran Anda. Ada beberapa hal yang tidak perlu anda pedulikan, karena hanya akan membuat lelah secara fisik dan mental.

Dunia ini luas, hati manusia juga sangat kompleks, jadi mungkinkah tidak akan bertemu dengan orang yang berhati sempit dan picik?

Dunia fana ini sangat dalam, dunia yang gemerlap, mungkinkah tidak akan mengalami hal yang merisaukan?

Tidak perlu berpikir terlalu dalam, hiduplah sewajarnya dengan menyesuaikan diri dan tenang dalam keadaaan bagaimanapun!

Tidak perlu terlalu menurutkan hawa nafsu untuk mendapatkan sesuatu, maka sehamparan langit biru pun akan selalu menyertai hidup anda!

Siapapun pasti akan takut kehilangan, terlebih lagi setelah berusaha mempertahankannya dengan susah payah, namun, akhirnya tidak ada sesuatu apapun yang bisa dipertahankan.

Oh asmara, sebaiknya biarlah berjalan secara alami. Tidak peduli apakah memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi atau bersikap acuh tak acuh, dan tidak peduli lagi, hanya waktu yang akan membuktikan kebenaran. Siapa yang berkata benar dan siapa yang dusta, dan siapa yang sayang padamu itulah sosok orang yang akan menyeka air matamu.

Seseorang dalam seumur hidupnya, ada yang kagum, juga ada yang benci. Ada yang iri, ada yang memandang hina. Tidak apa-apa. Mereka semua hanya orang asing, orang yang tak dikenal. Memang begitulah hidup, semua yang kamu lakukan tidak akan bisa membuat setiap orang puas. Tapi, jangan sampai kehilangan karakter diri hanya untuk menyenangkan orang lain.

Mata yang sama, pandangan yang beda. Telinga yang sama, cara mendengarnya (menangkap maksud) tidak sama. Mulut/ bibir yang sama, tapi dalilnya beda. Hati yang sama, tapi pola pikir beda. Uang yang sama, tapi cara menggunakannya beda. Orang-orang yang sama, tapi gaya/pola hidup beda.

Bagaimanapun pintarnya seseorang, pasti akan bertemu dengan ahlinya. Sebesar apapun pengorbanan/perjuangan, pasti akan bertemu dengan sosok orang yang berbudi.

Kerendahan hati yang bagaimanapun juga harus menghadapi orang-orang yang menghargai.

Apa yang kamu ketahui tidak perlu diungkapkan semuanya, dan jangan percaya dengan semua yang kamu dengar. Dunia ini bukan dilihat dengan mata, tetapi dengan hati!

Coba hitung dengan hati, hidup kita berapa lama lagi, cukup untuk kita sia-siakan, cukup untuk kita lewatkan, cukup untuk kita mendesah. Hiduplah dengan baik, hiduplah dalam kesederhanaan setiap hari melewati hari-hari selanjutnya.

Saat tidak ada uang, bekerjalah dengan rajin, maka uang pun akan datang.  Ini disebut imbalan rezeki yang pantas anda dapatkan dari-Nya atas usaha kerasmu.

Ketika ada uang, sedekahkanlah uangmu, maka orang-orang pun akan datang. Ini disebut menabur rezeki mendekatkan orang-orang.

Jika tidak ada kehilangan, maka tidak akan memperoleh! Ingat …… dunia itu bulat, bagaimana perlakuan anda terhadap orang lain, maka orang lain juga akan memperlakukan anda seperti itu terhadap anda. Ingat akan kebaikan orang lain itu juga merupakan berkah untuk anda sendiri! (Jhony/rmat)

Share

Video Popular