Kaga-Yuzen: Lukisan yang Detail akan Keindahan Alam

382
Kaga-Yuzen
Kaga-Yuzen, teknik pewarnaan sutra tradisional, yaitu metode yang digunakan untuk membuat gambar bunga-bunga pada kimono. (Benjamin Chasteen/Epoch Times)

Dikisahkan bahwa biksu Zen Yuzensai Miyazaki adalah pencipta Kaga-Yuzen, suatu metode pewarnaan tradisional Bansa Jepang yang digunakan untuk membuat gambar bunga yang rumit, yang ada pada kimono. Seni ini kadang-kadang tampak aneh ketika dilihat pertama kali, namun seni ini juga telah dikenal akan fokusnya pada keindahan alam, perhatiannya yang besar terhadap detail, dan kepatuhan yang ketat pada prosedur pembuatannya.

Langkah pertama dalam pembuatannya adalah desain. Ahli pengrajin menciptakan gambar yang rumit dengan motif dari alam, menggambar semua itu dengan sangat rinci dan kemudian menuangkannya ke atas sketsa kertas.

Langkah kedua adalah memotong sutra putih menjadi bagian kimono. Kemudian kain tersebut diletakkan di atas sketsa di atas meja kaca, dengan cahaya yang bersinar di bawahnya. Gambar di sketsa dipindahkan ke kain dengan menggunakan kuas dan cairan dari bunga biru yang dihancurkan, yang nantinya akan memudar ketika bersentuhan dengan air.

Berikutnya, sejenis pasta lem tahan lama diterapkan ke tepi garis gambar untuk membantu menjaga supaya tepi desain warnanya tetap tajam.

Kaga-Yuzen adalah teknik pewarnaan sutra tradisional, yaitu metode yang digunakan untuk membuat gambar bunga-bunga pada kimono. (Benjamin Chasteen/Epoch Times)

Seluruh bagian bawah kain kemudian dilapisi dengan air rebusan kedelai atau dengan campuran lem yang diencerkan, dan kemudian dikeringkan. Hal ini akan menyapu garis yang digambar dengan cairan dari bunga yang dihancurkan, dan hanya menyisakan pasta lem saja.

Sekarang saatnya untuk mewarnai. Kaga-Yuzen tradisional menggunakan lima warna, dan pewarnaan dilakukan dengan cara gradasi. Sesudahnya, kain ini dikenakan uap panas supaya warnanya benar-benar meresap ke dalam.

Kemudian kain tersebut dicuci. Menurut cara tradisional, kain tersebut seharusnya dicuci di sungai, tapi di jaman sekarang, kain itu dicuci di aliran air buatan manusia.

Langkah terakhir adalah untuk menyelesaikan kimono tersebut, penajaman warna dilakukan jika diperlukan dan kemudian bahan kainnya juga diratakan.

Ahli teh Jepang Satoko Souheki Mori, mengenakan kimono yang digambar oleh Toshiharu Hisatsune di depan restoran Kosaka, di New York pada 13 November 2016. (Satoko Souheki Mori)

Keindahan Alam

Kaga-Yuzen adalah metode yang berfokus pada keindahan alam.

Desain yang dibuat berasal dari unsur-unsur alam seperti bunga yang lengkap dengan daun-daunnya yang tidak sempurna, burung-burung, dan pemandangan. Secara tradisional, pewarna yang digunakan adalah pewarna alami dari lima warna klasik: nila biru, merah, krom kuning, hijau rumput, dan ungu royal.

Toshiharu Hisatsune, seorang ahli yang telah mempraktekkan Kaga-Yuzen selama 43 tahun, mengatakan bahwa pewarnaan ini mungkin adalah bagian favoritnya.

“Ini adalah refleksi dari keadaan pikiran Anda,” kata Hisatsune. “Kadang-kadang berat dan kadang-kadang lebih ringan. Warna adalah refleksi dari kehidupan Anda.”

Apa yang dia rasa paling menarik adalah bahwa Anda tidak dapat hanya menggunakan warna yang indah untuk membuat gambar yang indah. Anda harus menggunakan kedua warna baik cerah dan gelap. Anda harus menggunakan kombinasi jenis warna yang berbeda untuk membuat suatu keindahan yang utuh, katanya.

Sebuah seni Zen

Toshiharu Hisatsune, seorang seniman ahli yang mempraktekkan Kaga-Yuzen selama 43 tahun, mengajar di sebuah kelas di restoran Jepang, Kosaka, di New York pada tanggal 13 November 2016. (Benjamin Chasteen/Epoch Times)

Hisatsune, yang telah menciptakan hiasan untuk hadiah pertunangan keluarga kekaisaran Jepang, mengatakan bahwa dia beruntung mengetahui Kaga-Yuzen saat dia tidak tahu apa-apa.

Dia belajar di jurusan teknik, di sebuah universitas di Kanazawa, ibukota Prefektur Ishikawa di Jepang, suatu daerah yang dikenal karena para pengrajinnya. Dia memiliki ide; daripada mengurusi bagian teknik untuk sebuah perusahaan, dia malah ingin menciptakan sesuatu secara menyeluruh untuk dirinya sendiri. Kemudian dia bertemu dengan beberapa pengrajin Kaga-Yuzen. Dia melihat karya seorang ahli Kaga- Yuzen dan berpikir, “Oh, ini cukup sederhana.”

Dia ingat telah diberitahu bahwa dia tidak harus memiliki semua pengetahuan, atau latar belakang dalam bidang seni. Yang mana ternyata hal itu menjadi pelajaran yang paling penting.

Kaga-Yuzen diajarkan secara lisan, bukan sesuatu yang ditulis dalam buku teks, dan diteruskan dari guru ke muridnya. Seni ini juga mengharuskan seseorang untuk mengikuti langkah-langkah yang tepat, menggambar dengan sesuai di dalam garis.

Jika seseorang sudah memiliki banyak ide tentang desain dalam pikirannya, akhirnya dia malah akan sulit untuk belajar, kata Hisatsune menjelaskan. Jadi dengan pikirannya yang kosong, dia “diizinkan untuk memasuki dunia ini,” katanya.

Segera, dia mengetahui, bahwa seni ini tidak sederhana sama sekali, kata Hisatsune sambil tertawa. Tapi setelah menyalin karya gurunya, satu karya demi satu karya, dia berhasil mempelajari Kaga-Yuzen, dan belajar bagaimana membuat desain sendiri.

Dalam merancang, Hisatsune mengatakan bahwa dia mencoba untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar sesuai dengan kepribadian orang yang akan memakai pakaian yang dibuatnya, untuk memilih warna yang sesuai dengan kehidupan seseorang. Yang selalu membawa kebahagiaan pada pemakainya.

“Saya merasa senang melihat … ekspresi mereka yang cerah karena desain yang mereka rasakan cocok untuk diri mereka,” katanya.(Epochtimes/Julius/Yant)