Tindakan Anak Durhaka Ini Membuat Peti Mati Tidak Bisa Diangkat, Tiba-tiba Diantara Kerumunan Orang-orang Muncul Seekor Anjing, Keajaiban Terjadi

59

Orang bilang hewan juga punya perasaan, tidak ada bedanya dengan manusia jika memperlakukannya dengan tulus.

Ada seorang tua renta di kota Pingxi, namanya Zhang Shan-xiang, yang baru genap berusia seratus tahun.

Zhang Shan tinggal sendirian di rumah tua, anak-anak perempuannya sudah menikah, sementara menantu perempuannya, karena tidak suka hidup bersama dalam satu atap dengan orang tua, lalu pindah dan menetap di tempat lain.

Zhang Shan-xiang tidak keberatan dengan pilihan menantunya, istrinya Zhang pergi lebih awal, tapi Zhang memang tegar, ia tinggal sendirian selama lebih dari sepuluh tahun tanpa isterinya.

Tujuh tahun lalu, si orang tua pernah melihat seekor anjing yang menggigil, bulunya jarang, jelas anjing itu dalam keadaan sakit. Karena tidak ada yang peduli, Zhang Shan yang baik hati lalu memelihara anjing malang itu.

Selama tujuh tahun Zhang Shan merawat anjing itu dengan telaten, sekarang ia tampak sehat dan perawakannya juga besar. Ia juga sangat jinak dan menurut pada orang tua.

Selain itu, ia juga sepertinya paham dengan maksud manusia. Selama bertahun-tahun, Zhang Shan hidup bersama dengan anjingnya, Zhang Shan selalu mencurahkan segala sesuatunya dengan anjingnya, dan anjing itu akan menggonggong sebagai isyarat seolah-olah paham dengan maksud Zhang Shan, lalu bergelayjut dalam pelukan Zhang Shan xiang.

Anak-anaknya tidak pernah mengunjungi Zhang Shan meski sekadar menjenguk, tapi Zhang Shan juga tidak peduli, justru Zhang Shan selalu terlihat ceria ketika sedang ngobrol dengan lingkungan atau tetangga sekitar.

Suatu hari Zhang Shan ke toko peti mati melihat-lihat sebentar, kemudian ia memesan satu peti mati. Pembuat peti mati yang melihat raut wajah Zhang Shan tampak segar bugar itu merasa penasaran lalu tersenyum sambil berkata, “Pak, Pak, hidup anda masih cukup lama.”

“Tidak, saya sudah tua,” kata Zhang Shan sambil menggeleng, dan menjamah kepala anjing setianya.

Selama tiga hari berturut-turut, Zhang Shan mengunjungi segenap desanya. Pada hari ketujuh, Zhang Shanxiang pun pergi untuk selamanya.

Ketika tiga putra dan dua putrid Zhang Shan xiang tiba, mereka pun terlihat menangis pilu. Tapi entah kenapa, saat mau dimakamkan, peti mati itu tiba-tiba tak bisa diangkat, meski sepuluh orang sekalipun, sontak saja hal itu membuat beberapa putri Zhang Shan menangis keras.

“Ayah, pergilah dengan tenang,” kata putra sulung memeluk peti mati Zhang Shan sambil menangis meraung.

Namun, setelah beberapa kali dicoba, peti mati Zhang Shang tetap saja tidak bisa diangkat. Kebetulan pada saat itu, seorang Taoist tiba di tempat pemakaman, ia memandang sejenak, dan mengerutkan dahi.

“Boleh saya coba?”

Taoist itu melihat-lihat peti mati, lalu memandang putra sulung Zhang Shan xiang, tiba-tiba tersenyum dan berkata, “Semasa hidupnya, kakek ini pasti kesepian seorang diri.”

“Omong kosong, ayah saya memiliki kami anak-anaknya, mana mungkin kesepian seorang diri,” kata si putra sulung.

“Kami anak-anaknya ini boleh dikata sebagai anak-anak yang berbakti, selalu membawa sesuatu untuknya, beberapa hari ini mata kami juga bengkak karena menangis sedih.”

Tapi Taoist itu justru tersenyum, “Kalau memang begitu, lalu mengapa peti matinya tidak bisa diangkat?”

Orang-orang yang mendengar itu pun terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Saat itu, Taoist melihat-lihat sekeliling rumah, lalu tersenyum dan berkata, “Kakek ini ada yang menemani semasa hidupnya, tapi  temannya ini belum datang.”

Mendengar kata-kata Taoist, orang-orang di pemakaman sontak terkejut, sejak kapan orang tua itu punya teman?

Anak-anak Zhang Shan-xiang tiba-tiba marah mendengar kata-kata Taoist.

“Omong kosong,” kata salah satu anak Zhang Shan dengan emosi.

Tapi Taoist tidak menampiknya, ia justeru berkata, “Meskipun kalian bilang sering membawakan sesuatu untuknya, tapi siapa yang pernah melihatnya?”

Anak-anak Zhang Shan terdiam mendengar pertanyaan Taoist, orang tua ini tinggal di rumah tua, sedangkan anak-anaknya memang cukup jauh tinggalnya, dan selalu menitip orang membawakan sesuatu untuk orang tua.

“Tapi tunggu dulu,” kata si Taoist.

Tak lama kemudian, anjing piaraan Zhang Shan tiba-tiba muncul dari kerumunan, dan terlihat berlumuran darah di sekujur tubuhnya, ia berjalan menghampiri peti mati dengan mata berlinang.

Saat itu, orang-orang baru teringat orang tua itu selalu membawa seekor anjing semasa sisa hidupnya dulu. Dan tepat pada saat itu juga, raut muka si putra sulung tampak berubah, sambil bergumam, “Anjing ini, bukankah sudah kujual? Kenapa bisa kembali lagi?”

Taoist itu tersenyum, “Anjing ini telah menemani si orang tua selama beberapa waktu, bisa jadi orang tua ini sangat rindu sama anjingnya, belum mau pergi.”

Tak lama kemudian, peti mati orang tua itu pun bisa diangkat. Setelah pemakaman, anjing piaraan sekaligus teman setia orang tua itu pun tidak mau pergi dari makam, ia terus menjaga di depan makam si orang tua yang dulu pernah merawat dan membesarkannya.

Taoist terlihat tidak tahan melihat suasana itu, lalu menyuruh putra sulung Zhang Shan membuat sebuah kandang di samping makam orang tua, supaya anjing itu punya tempat bernaung.

Sejak peristiwa itu, putra-putri Zhang Shan xiang terus merenung, lebih-lebih si putra sulung tampak amat sangat menyesal. (Jhony/rp)