Kisah Nyata Wasiat Seorang Gadis 8 Tahun, “Saya Pernah Datang dan Saya Seorang Anak yang Patuh”

308
Inilah batu nisan Yu Yuan, gadis belia yang mengatur pemakamannya sendiri.

Ada seorang gadis mungil yang cantik, namanya Yu Yan. Dia memiliki sepasang mata yang indah dan sekeping hati yang polos.

Yu Yan adalah anak yatim piatu. Ia hanya sempat menikmati indahnya hidup di dunia selama 8 tahun. Kata-kata terakhir yang ia goreskan di dunia ini adalah, “Saya pernah datang dan saya seorang anak yang patuh.”

Ia berharap meninggal di musim gugur, tubuhnya yang mungil bagaikan sekuntum bunga yang tumbuh mekar dan layu secara alami. Ketika bunga-bunga krisan yang menari-nari di udara dan berguguran, ia bisa melihat angsa-angsa yang beterbangan melintang di kejauhan.

Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 Yuan atau sekitar 1.042 miliar,- yang didapat dari perkumpulan orang Chinese di seluruh dunia.

Ia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh orang bocah yang juga sedang berjuang menghadapi kematian.

Saya secara sukarela melepaskan pengobatan. (Inzet : Yu Yuan)

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang Ayah yang mengadopsinya.

Pada 30 November 1996, atau 20 bulan 10 penanggalan China, adalah saat dimana ayahnya menemukan bayi mungil tersebut diatas hamparan rumput. Di sanalah ayahnya menemukan seorang bayi yang gemetar kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di atas dadanya terdapat secarik kertas bertuliskan “20 Oktober jam 12 malam.

Yu Shiyou (30) tinggal di sebuah desa di San Xing, provinsi Sichuan, Tiongkok. Karena miskin, Yu Shiyou belum beristeri, jika masih harus mengadopsi anak yang malang ini, bisa jadi semakin tidak ada orang yang bersedia menikah dengannya.

Melihat bayi mungil yang terus menangis dalam pelukannya. Beberapa kali Yu Shiyou meletakkan kembali bayi itu lalu kembali dipeluknya kemudian diletakkan lagi.

Sang ayah angkat yang pasrah tak berdaya.

Setelah itu, Yu Shiyou  berjalan pergi sambil menoleh, namun, terlintas dalam benaknya, jika tidak ada lagi yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa mati kedinginan. Lalu dengan berat hati Yu Shiyou kembali memeluk bayi tersebut, dan dengan menghela nafas seraya berkata, “Saya makan apa, kamu juga ikut apa yang saya makan”.

Yu Shiyou Kemudian memberi nama Yu Yan pada sang bayi, karena anak itu lahir tepat pada musim panen, dan sejak itu bujangan Yu Shiyou pun menjadi seorang ayah. Tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, sehingga terpaksa memberinya makan air tajin (air beras).

Karena itulah, sejak kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa.

Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan.  Ditengah kekhawatiran dan kecemasan ayahnya, perlahan-lahan Yu Yuan pun tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari usia lima tahun, dia sudah membantu ayahnya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput, semuanya dikerjakan dengan rapi dan baik.

Yu yuan sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang ayah. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan ayahnya untuk bertahan hidup. Dia harus menjadi seorang anak yang baik dan tidak akan membuat ayahnya sedih dan marah sedikitpun.

Pada saat Yu yuan masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat ayahnya yang buta huruf menjadi bangga di desanya.

Dia tidak pernah mengecewakan ayahnya, dia bernyanyi menghibur ayahnya. Setiap hal yang lucu yang terjadi disekolahnya di ceritakan kepada ayahnya. Kadang-kadang dia bisa dengan nakalnya sengaja menguji soal-soal yang susah untuk ayahnya. Setiap kali melihat senyuman ayahnya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan sang ayah, ia juga merasa sudah sangat bahagia.

Sejak Mei 2005 silam, Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, tiba-tiba ia melihat sebaskom air sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya.

Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga ayahnya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga terus mengeluarkan darah.

Di pahanya juga mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan ayahnya membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang.

Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang sambil menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena merasa tidak enak, kemudian ia mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidungnya.

Tapi, kurang dari sepuluh menit, baskom kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas.

Biaya untuk penyakit ini sangat mahal dan tidak terjangkau oleh ayah Yu Yuan, umumnya memerlukan sekitar 300.000 Yuan atau  sekitar Rp.570 juta. Ayahnya mulai cemas melihat Yu Yuan yang terbaring lemah di ranjang.

Saat itu sang ayah hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara sang ayah meminjam uang ke sanak saudara dan teman, tapi ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Sang ayah akhirnya mengambil keputusan menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat sepasang mata ayahnya yang cemas dan pipi yang kian tirus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari, Yu Yuan menarik tangan ayahnya, air mata pun mengalir dikala kata-katanya belum sempat terucap. “Ayah, saya ingin mati”.

Ayahnya dengan pandangan kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”.

“Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidak sanggup menanggung beban penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada 18 juni, Yu Yuan yang baru berusia 8 tahun mewakili ayahnya yang buta huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan.

Gadis 8 tahun yang polos ini mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan kematiannya.

Hari itu juga setelah pulang ke rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah mengajukan permintaan apapun, hari itu meminta dua permohonan kepada ayahnya, “Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.

Yu Yuan berkata kepada ayahnya, “Nanti setelah saya tidak ada, kalau ayah merindukan saya lihatlah foto ini”.

Keesokan harinya, ayahnya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli dua stel baju baru seharga 30 yuan. Yu Yuan sendiri memilih celana pendek warna pink, sementara bibinya memilihkan satu stel rok warna putih dengan corak bintik-bintik merah.

Begitu mencoba, Yu Yuan tampak enggan melepaskannya. Kemudian mereka bertiga ke sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose seceria mungkin dan berusaha untuk tersenyum. Namun, dalam ketegarannya, ia tak kuasa menahan linangan air matanya.

Sejak itu, Yu Yuan tidak bisa sekolah lagi, sepanjang waktu ia berdiri di jalan setapak di depan desanya sambil membawa tas sekolah dengan pandangan mata berkaca-kaca dan selalu basah oleh linangan air mata. Jika bukan karena seorang wartawan bernama Fu Yuan yang bekerja di surat kabar Chengdu Evening Newspaper, Yu Yuan dipastikan bagaikan selembar daun yang rontok dan jatuh ditiup angin senja.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, reporter cantik bernama Fu Yuan itu kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail.

Cerita tentang seorang anak berusia 8 tahun yang mengatur pemakamannya sendiri itu akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Segenap kota seakan terhenyak oleh kisah tersebut, banyak yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai pelosok negeri, bahkan sampai ke seluruh dunia.

Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah mengumpulkan 560.000 Yuan . Biaya operasi pun telah tercukupi, bahkan lebih dari cukup. Api kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang!

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Salah seorang netizen di-emailnya bahkan menulis, “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup.

Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia tampak tersiksa di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menanganinya mengatakan, bahwa dalam proses terapi akan mendatangkan rasa mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata.

Yu yuan yang sejak lahir sampai maut menjemput pun tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Xu Ming menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung. Hari kedua saat dokter Xu Ming datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Mama Xu. Pertama kalinya mendengar suara itu, Xu Ming terhenyak, kemudian dengan tersenyum dan dengan lembut membalas sapaan Yu Yuan, “Anak yang baik.”

“Nanti setelah kamu sembuh, mama bawa kamu makan ke KFC,” kata Dr. Xu Ming pada Yu Yuan.

Sesaat Yu Yuan tampak bingung, ia benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa KFC itu.

Semua orang mengharapkan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan kembali hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Ia pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana!

Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan. Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain!

Fisik Yu Yuan sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Pada 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan, “Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?

“Karena mereka semua adalah orang yang baik hati”.

“Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati.”

“Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa menjadi semakin baik,” kata Fu Yuan, wartawan Chengdu Evening Newspaper.

Dari bawah bantalnya, Yu yuan mengambil sebuah buku pelajaran matematikanya, kemudian diberikan kepada Fu Yuan.

“Tante, ini wasiat saya….”

Fu Yan terkejut, dan segera membukanya, dan memang benar, Yu Yuan kecil ini telah mengatur segala persiapan terkait kematiannya.

Ini adalah surat wasiat 3 halaman yang ditulis sendiri oleh seorang anak berusia delapan tahun di atas ranjang pasien ketika akan menghadapi kematian. Karena masih kecil, ada beberapa huruf yang keliru secara guratan, tapi bisa dipahami oleh si pembaca.

Dari surat itu bisa diketahui, kalau surat itu tidak ditulis sekaligus. Tapi dipisah, Yu Yuan membagi 6 bagian surat wasiatnya, dengan pembukaan, “Tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu lembar surat itu nama tante Fu Yuan disebut tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Sementara di belakangnya ada enam belas sebutan, yang semuanya berisi tentang “permintaan” kepada wartawan Fu Yuan setelah kematiannya, serta pernyataan terima kasih dan selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memberikan perhatian kepadanya.”

“Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tante Fu, rumah ayah saya hampir roboh, ayah jangan marah, jangan bunuh diri. Tante Fu, tolong bantu jaga ayah saya, tante, dana untuk pengobatan saya tolong bagikan sedikit untuk sekolah saya. Terima kasih tante tolong sampaikan kepada pemimpin palang merah, setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya, supaya mereka lekas sembuh.”

Surat wasiat ini membuat air mata Fu Yuan berlinang membasahi pipinya, menangis terisak.

“Saya pernah datang dan saya seorang anak yang patuh.”

Pada 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan, hampir satu bulan lamanya Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Awalnya ia berusaha untuk makan secara diam-diam, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaannya semakin parah.

Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus serta transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Melihat Yu Yuan yang tampak sangat tersiksa menahan sakit, dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan penderitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya meski telah diupayakan dengan berbagai cara.

Yu Yan merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, dia memohon para dokter dan perawat, “Biarkan aku mati saja, saya benar-benar tak sanggup lagi…”

Dokter dan perawat berusaha menghiburnya, memintanya untuk bertahan, semuanya akan baik-baik saja.

Namun, akhirnya, Yu Yan meninggalkan dunia ini, para dokter mencoba berupaya menyelamatkannya setelah Yu Yuan berhenti bernapas, namun upaya penyelamatan yang berlangsung sekitar 80 menit itu gagal, dan akhirnya anak belia ini pun pergi selamanya.

Yu Yan kecil yang baru berusia 8 tahun ini akhirnya terbebas dari siksaan penyakit, pergi dengan tenang.

Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini. Benarkah “malaikat kecil” yang polos dan murni seperti air dan indah seperti puisi itu telah pergi ke dunia lain?

Wartawa Fu Yuan meraba wajah mungil Yu Yuan yang perlahan-lahan mulai mendingin itu dengan linangan air mata. Ia tidak akan pernah bisa memanggil tante lagi dan tidak akan bisa lagi tertawa ceria.

Di kecamatan Shichuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Semuanya menyatakan belasungkawa. Salah seorang netizen menulis di emailnya “Anak yang manis, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu dan terbanglah.”

Pada 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah para “ayah dan ibu” yang tidak dikenal Yu Yuan semasa hidupnya, namun demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka mereka pun datang dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan meski hujan sekalipun.

Di depan pusaranya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa ceria. Sementara di atas batu nisannya tertulis, “Saya pernah datang dan saya seorang gadis yang patuh (30 – 11- 1996 – 22 – 8 – 2005).”

Dan dibelakang batu nisannya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah kehangatan dari orang-orang yang pernah dirasakannya semasa hidup.  “Beristirahatlah dalam kedamaian gadis kecilku, Surga Tuhan akan lebih semarak dengan adanya dirimu.”

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa biaya pengobatan sebesar 540.000 yuan tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita leukimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah Yang Xin lin, Xu Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Di antara tujuh anak yang malang ini, yang terbesar berusia 19 tahun, sementara terkecil berusia 2 tahun. Semuanya adalah anak-anak dari keluarga tak mampu, anak-anak miskin papa yang berjuang melawan kematian.

Pada 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyum bahagia tampak menghiasi raut wajah sang bocah.

“Saya telah menerima bantuan dari kehidupanmu, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami dari atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku seorang anak yang patuh.” (Secretchina/ Jhony/rmat)