Harga Emas Kembali Bangkit, Kunci Pasar Bullish Jangka Panjang

298

Oleh: Jin Gudao

Rabu (12/4/2017) lalu Trump menerima wawancara khusus dari surat kabar “Wall Street Journal” . Ia kembali mengatakan “Dolar AS terlalu kuat”. Pada saat yang sama menyatakan tidak tertutup kemungkinan akan mengangkat kembali Janet Yellen dari kalangan konservatif untuk terus menjabat sebagai kepala The Fed.

Indeks dolar AS tahun ini turun sebesar 1,89% sementara itu imbal hasil obligasi AS yang berjangka 10 tahun memecahkan rekor terendahnya selama 5 bulan terakhir. Merosotnya kedua indeks inilah yang mendorong melonjaknya harga emas.

Selain itu, aktivitas militer pasukan AS baru-baru ini yang sangat intens, dengan garis perang yang mencakupi Suriah, Korea Utara dan Afganistan, telah menstimulus harga emas berjangka 6 bulan New York naik sebesar 0,8% pada Kamis lalu dan ditutup di harga USD 1.288,5/troy ons, memecahkan rekor harga tertinggi dalam 5 bulan terakhir, sekaligus membukukan lonjakan sebesar 11,8% tahun ini.

Meninjau kembali kinerja harga emas selama hampir dua tahun terakhir, pesimistis pasar akibat terus naiknya suku bunga AS membuat emas anjlok ke USD 1.050/troy ons, pada saat Inggris memutuskan Brexit membuat emas meroket ke angka USD 1.370/troy ons, tapi kebanyakan bergerak di harga USD 1.100-1.300, pasaran tidak bullis juga tidak bearish.

Sekarang, harga emas mungkin akan kembali menantang resistance USD 1.300, tapi apakah kali ini juga akan seperti kejadian tahun lalu “meroket” sampai ke puncak lalu terjun bebas, atau akan terus menanjak naik dengan stabil?

Survey oleh Bloomberg menunjukkan, baru-baru ini para pialang dan analis memiliki keyakinan luar biasa tinggi terhadap harga emas sampai memecahkan rekor tertinggi sejak Desember 2015 lalu. (foto internet)

Dari segi teknis, harga emas setelah mengalami penurunan jangka panjang dari puncak tertingginya USD 1.922 di tahun 2011 sampai menyentuh angka support USD 1.291, jika dapat menembusnya dan stabil, maka harga emas akan memicu ledakan pasar, tidak tertutup kemungkinan akan memecahkan rekor tertinggi baru dalam sejarah. Tapi jika mengalami tekanan, maka sangat mungkin akan kembali ke angka rata-rata 200 hari di harga USD 1.260 dan di atas support trend line jangka panjang USD 1.137.

Dengan kata lain, apakah harga emas bisa kembali trend bullish dalam jangka panjang, sangat tergantung pada trend jangka pendeknya yang sangat krusial.

Dalam jangka pendek, pergolakan geopolitik tetap akan menjadi faktor pendorong lonjakan harga emas, namun seharusnya bukan kunci kembali bullishnya harga emas, karena seperti pengalaman tahun lalu, begitu peristiwa sensitif politik berakhir, investor sangat mungkin akan menarik diri dari aset yang bersifat aman, dan kembali bergelut dengan saham dan aset berisiko tinggi lainnya.

Aliran dana (Hedge Fund) yang terus masuk tiada henti adalah jaminan agar harga emas dapat kembali bullish.

Yayasan ETF emas terbesar dunia yakni SPDR Gold Trust sejak awal April telah membeli sebanyak 6 ton emas, dengan akumulasi mencapai 842.41 ton, tapi tetap lebih rendah daripada cadangan Oktober tahun lalu yakni 970 ton, hal ini menunjukkan investor belum mengaktifkan tindakan pencegahan risiko secara menyeluruh, mungkin harga emas akan stabil bertengger di harga USD 1.300 setelah itu baru akan berubah haluan.

Kunci lainnya apakah pada semester kedua nanti harga emas akan terjebak dalam siklus seperti dua tahun terakhir pada posisi mudah turun sulit naik, ini terkait dengan kenaikan suku bunga The Fed di bulan Desember 2015 dan 2016, semester pertama pasca kenaikan suku bunga yang menimbulkan efek tekanan membuat harga emas selama dua tahun berturut-turut mengalami trend “awal macan akhir ular”.

Atmosfir kenaikan suku bunga tahun ini tidak diragukan lagi terasa lebih kental dibandingkan dua tahun sebelumnya, akan tetapi baru-baru ini Trump mengatakan tidak tertutup kemungkinan kembali mengangkat Yellen yang mungkin akan memperlambat derap langkah kenaikan suku bunga.

Kebijakan Trump lainnya seperti militer, reformasi pajak, pembangunan infrastruktur dan ekspor juga memerlukan kombinasi antara nilai tukar USD yang agak lemah dan suku bunga yang rendah, perubahan sikap penguasa pemerintahan mungkin menjadi poin pengamatan utama agar harga emas tidak menapak jejak sebelumnya pada semester kedua.

Satu lagi faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mengamati naik turunnya harga emas: selama 15 tahun terakhir harga emas hanya turun pada tiga tahun, setiap tahun rata-rata kenaikan harga emas adalah 11,2% dan paling tinggi naik sampai 30% dan terendah turun 28%, tahun ini kenaikan harga emas sudah 11,8% atau sudah melampaui kenaikan rata-rata tahunan.

Dari faktor lingkungan saat ini, tiga kondisi akhir tahun ini mungkin akan terjadi.

Harga emas tahun ini akan naik 15% sampai ke USD 1.324. Harga emas akan naik 20% ke level USD 1.382 memecahkan rekor tahun lalu. Harga emas akan seperti tahun lalu hanya naik 8% ke USD 1.244.

Jika kenaikan mencapai lebih dari 20%, mungkin itu berarti timbul kehancuran pada aset berisiko. Jika kenaikan kurang dari 8%, maka mungkin reformasi pajak Amerika berdampak baik terhadap dolar AS. (sud/whs/rp)