Bagi jagat sastra dunia,  nama Leo Nikolayevich Tolstoy yang hidup pada  abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sudah tak asing lagi. Karya-karya novelis asal Rusia ini  sudah tersebar luas, dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, serta menjadi acuan bagi studi sastra kontemporer. Ia juga dikenal sebagai empu sastra realis karena karyanya berpijak dari realitas sosial.

Pandangannya tersebut justru telah menghadapkan banyak karyanya pada berbagai pelarangan, dan akhirnya pengucilan dari komunitas agama tertentu. Kini reputasinya telah pulih, dan diakui sebagai salah satu pemikir yang brilian sepanjang zaman. Belakangan ia juga dikenal sebagai seorang tokoh pembaharuan moral dan spiritual di negaranya.

Tolstoy memang termasuk penulis yang produktif pada zamannya, ia menulis beberapa karya, ada dua karyanya yang paling tersohor yakni War and Peace, dan “Anna Karenina”. Karyanya cukup kompleks, dipenuhi dengan ratusan watak yang setiap babak memiliki peranannya sendiri di dalam pengolahan cerita-cerita yang dinukilkannya dalam novel itu.

(The print Collector/Getty Images)

Banyak kritikus sastra menganggap War and Peace sebagai novel teragung sepanjang sejarah. Sebanyak 580 watak yang diceritakan dalam naskah novel tersebut telah menggabungkan tokoh-tokoh sejarah seperti Napoleon, Marat dan Alexander dari Rusia, bersama tokoh-tokoh rekaan seperti keluarga Bezukhov, Rostov, Bolkonsky dan Kuragin. Ia mendedahkan secara piawai problem sosial, politik, dan tradisi masyarakat Rusia.

War and Peace menggambarkan pemikiran Tolstoy tentang takdir dan manusia. Isaiah Berlin, mengomentari  novel itu di dalam “The Hedgehog and The Fox” pada 1953 sebagai berikut.

“Tidak ada siapapun yang dapat menandingi Tolstoy di dalam meluangkan satu perasaan yang spesifik, satu kualitas yang tepat mengenai sesuatu perasaan… yang dimiliki oleh satu kejadian tertentu, oleh individu, keluarga, masyarakat dan seluruh bangsa.”

Begitu juga dalam novelnya “Anna Karenina” yang sudah difilmkan beberapa kali, Tolstoy menceritakan penderitaan tragis seorang isteri bangsawan bernama Anne yang jatuh cinta kepada Count Vronsky yang kembali telah membawa kegairahan dalam kehidupannya.

Karya lain Tolstoy yang  kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah “Si Kecil Filip, Pergi ke Sekolah”. Enam puluh dongeng anak Rusia terangkum dalam buku ini. Dalam ceritanya itu ia menanamkan kebenaran, kejujuran, keadilan, kemurahan hati, kesetiakawanan yang sejati, kecerdikan, ketaqwaan kepada Yang Mahakuasa serta kerelaan mengampuni kesalahan sesama, merupakan nilai-nilai penting dalam kelangsungan hidup anak.

Itulah sebabnya, kenapa Tolstoy tidak merasa turun bobot kepengarangannya dengan menyapa anak-anak melalui dongeng sebagai pengantar tidur. Ia ternyata mencintai anak-anak dan sangat memperhatikan pendidikan dan perkembangan kepribadian mereka.

Hadji Murat yang juga sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah fiksi terakhir karya Tolstoy yang diterbitkan tahun 1912. Novel ini menceritakan kisah perlawanan Hadji Murat, seorang pemimpin Muslim yang disegani dan menjadi momok bagi tentara Rusia. (Erabaru/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds