Tahanan di Tiongkok dibunuh untuk diambil organnya guna menyuplai kebutuhan industri transplantasi organ yang didukung oleh negara,  dimana satu dari  5 penerima transplantasi diyakini berasal dari luar negeri, demikian penjelasan ahli dalam masalah tersebut.

Diperkirakan orang asing adalah 20% penerima transplantasi organ dari 60.000-100.000 organ yang ditransplantasikan setiap tahun di Tiongkok, demikian penjelasan seorang jurnalis investigasi bernama Ethan Gutmann pada sesi tanya jawab dengan Klub Koresponden Asing Thailand pada tanggal 17 Oktober 2016.

Sebagian besar turis asing penerima transplantasi organ berasal dari wilayah Asia, kata  Gutmann melalui Skype saat pemutaran  film  Hard to Believe, sebuah film  dokumenter masalah pengambilan organ di Tiongkok yang memenangkan penghargaan.

Gutmann berkata, ” Turis asing penerima transplantasi organ yang terbanyak  berasal dari Jepang, kedua berasal dari Korea Selatan. Karena negara tersebut adalah negara makmur dan waktu tunggu untuk mendapatkan organ adalah sangat lama di negara tersebut. Transplantasi organ di Tiongkok selesai dilakukan dalam waktu dua minggu sampai satu bulan.”

Orang Taiwan yang terbanyak mengunjungi Tiongkok untuk melakukan transplantasi , hingga  pada  tahun 2015 Pemerintah Taiwan melarang warganya pergi ke Tiongkok  untuk melakukan transplantasi organ karena adanya laporan pengambilan organ, termasuk buku Gutmann’s The Slaughter , yang diterbitkan pada tahun 2014.

Di Tiongkok  tidak ada waktu tunggu  untuk mendapatkan organ, tidak seperti pada negara lain yang memiliki sistem donor, karena industri transplantasi organ di Tiongkok  menggunakan sistem kecocokan antara donor dengan penerima organ. Sumber utama organ berasal dari narapidana—yang terutama adalah praktisi Falun Gong, yang dibunuh untuk memenuhi kebutuhan organ, demikian kata Ethan Gutmann dan lainnya.

Gutmann mengatakan bahwa orang asing membayar minimum 10 kali lipat daripada orang Tiongkok  yang menerima transplantasi organ. Gutmann berkata,” Terutama orang Jepang seringkali tidak menawar biaya transplantasi di mana mereka membayar satu juta dolar atau setengah juta dolar untuk sebuah hati.”

Gutmann mengatakan” Saya berbicara dengan beberapa orang Tiongkok yang membayar harga untuk orang Tiongkok  dan mereka harus menunggu selama 6 bulan untuk melakukan transplantasi organ. Untuk menekan biaya transplantasi guna mendapat keuntungan yang besar, mereka membunuh korban yang tidak rela organnya diambil dan mengambil banyak organ dari tubuh korban tersebut untuk dijual kepada banyak penerima transplantasi organ.”

” Hal ini berhubungan dengan waktu tunggu untuk mendapatkan organ—mereka melakukan pencocokan jaringan sehingga pengambilan organ dilakukan secara terus-menerus,” katanya

Gutmann menekankan bahwa penelitiannya tidak memusatkan perhatian pada turismeorgan. Tujuan utama Ethan Gutmann bersama dengan David Kilgour  dan David Matas adalah dari mana organ itu berasal.

Gutmann mengatkaan ” Saya pikir ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Saya sangat tertarik pada korban; ada ratusan juta korban di mana mereka punya kehidupan sendiri.”

Sejak tahun 1999, praktisi Falun Gong disiksa di Tiongkok, di mana sejak saat itu terjadi peningkatan tajam dalam jumlah kasus transplantasi organ di Tiongkok. Korban yang lebih sedikit berasal dari Uyghur, Tibet, dan penganut agama Kristiani.

Gutmann mengatakan walaupun Tiongkok mendapatkan banyak uang dari hasil pengambilan organ, namun masalah utamanya adalah masalah politik di mana Partai Komunis Tiongkok  ingin mengenyahkan kelompok tertentu.(Visiontimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular