JAKARTA – Pada 25 April 1999 silam, sebanyak 10.000 praktisi Falun Gong menyampaikan permohonan damai untuk mengklarifikasi berita fitnahan mencemarkan nama baik Falun Gong di Zhong Nan Hai. Namun demikian, oleh Sekjen Partai Komunis Tiongkok saat itu dijabat Jiang Zemin dipuntir sebagai pengepungan pusat pemerintahan.

Permohonan damai yang sudah terjadi pada 18 tahun silam, spiritnya tak berhenti hingga sekarang. Kini diperingati oleh praktisi Falun Gong dari Indonesia di Depan Kedubes RRT Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (25/4/2017).

Pada kesempatan itu praktisi Falun Gong memperagakan adanya praktek penyiksaan dan kekejaman yang dialami praktisi Falun Gong di Tiongkok. Kekejaman yang dialami yakni pencurian organ tubuh secara hidup-hidup, kamp kerja paksa serta penyiksaan keji.

Sejumlah spanduk yakni tuntutan agar Jiang Zemin diseret ke Pengadilan juga dilihat banyak masyarakat yang melewati lokasi aksi. Spanduk-spanduk ini turut dilihat aparat keamanan yang berjaga-jaga di lokasi aksi. Tak hanya itu spanduk dari LSM untuk menyerukan penghentian penindasan terhadap Falun Gong juga terpasang di sepanjang jalan.

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia Gatot Machali mengatakan suasana di Indonesia orang-orang bebas pergi ke mesjid dan gerjea, bahkan semua orang bebas untuk mempraktikkan agama dan keyakinan mereka.  Menurut Gatot, pihaknya tidak pernah melihat orang-orang ini ditangkap karena belajar kitab suci atau untuk mencoba menjadi warga negara yang baik.

Pada orasinya, Gatot menuturkan menyukai negara Tiongkok dan mencintai orang-orang Tionghoa. Praktisi Falun Gong di Indonesia menyampaikan ingin rekan mereka di Tiongkok dihormati dan hidup seperti manusia pada umumnya.

“Kami ingin praktisi Falun Gong di Tiongkok menikmati hak-hak asasi yang sama seperti yang telah diberikan Tuhan kepada semua orang,” kata Gatot.

Lebih rinci Gatot menyampaikan pihaknya berharap praktisi Falun Gong di Tiongkok akan memiliki kebebasan berekspresi, kebebasan berkeyakinan serta tidak seharusnya dalam kondisi teraniaya, tersiksa,  diteror, ditangkap ilegal dan interogasi. Selain itu,  diharapkan tidak akan dijatuhi hukuman penjara atau dibunuh karena kepercayaan, keyakinan dan cita-cita mereka.

“Kami berharap bahwa praktisi Falun Gong di Tiongkok bisa berjalan ke taman umum dan bebas melakukan latihan spiritual di pagi hari tanpa ancaman,” harapnya.

Peneliti Imparsial, Niccolo Attar memberikan apresiasi atas aksi damai yang dilakukan oleh praktisi Falung Gong secara rutin. Menurut dia, aksi damai ini sudah semestinya dilakukan hingga terjadi perubahan kebijakan dari Tiongkok kepada komunitas Falun Gong

Aksi yang digelar praktisi Falun Gong, kata Attar, dianggap serupa dengan aksi kamisan yang berlangsung secara terus menerus oleh pegiat aktivis HAM. Hal serupa diharapkan aksi yang digelar praktisi Falun Gong dengan isu-isu terus menerus disuarakan nantinya membuat masyarakat terbuka serta ikut bersolidaritas yang menimpa praktisi Falun Gong.

Menurut Attar, pemerintah Indonesia tak boleh lagi membatasi kegiatan-kegiatan dilakukan oleh praktisi Falun Gong di Indonesia seperti pengesahan organisasi. Hal demikian merupakan hal  tak boleh terjadi karena kebebasan berekspresi dan berorganisasi merupakan hal dijamin oleh konstitusi dan UU.

“Jadi apapun yang dilakukan komunitas Falun Gong selama mereka tak melanggar ketertiban umum atau kekerasan, harus dilindungi oleh negara,” jelasnya.

Perwakilan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Yogi dalam orasi tertulis mneyatakan sebagai organisasi yang bersandarkan pada Demokrasi dan HAM, YLBHI selalu mendorong agar setiap warga negara memperoleh haknya. Serta tak ada pembatasan oleh negara terhadap hak-hak yang semestinya diperoleh oleh warganya

“Setiap warga negara bebas untuk berekspresi, bebas untuk menjalankan keyakinannya,” tegasnya.

Sementara  Perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengucapkan belasungkawa yang sangat mendalam terhadap kawan-kawan dari Falun Gong atas adanya tragedi yang menimpa sejumlah praktisi Falun Gong pada bulan April 1999 silam.

Walaupun tragedi tersebut berlangsung lama,  namun demikian rasa sakit dan trauma yang ditanggung oleh korban tidak akan menghilang hingga akhir hayat. Hal ini disebabkan karena rantai kekerasan masih berlangsung. LBH Jakarta menegaskan hal demikian pertanda  adanya proses impunitas yang terjadi terhadap pelaku beserta bawahannya yang diduga mendukung tragedi tersebut.

“Dengan ini kami mengutuk keras tindakan yang dilakukan Jiang Zemin beserta bawahannya yang mendukung adanya tragedi yang menimpa praktisi “Falun Gong” karena tindakan tersebut bertentangan  Pasal 23 Deklarasi Universal HAM, Statuta Roma dan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik,” dalam pernyataan tertulis.

Peristiwa permohonan damai atau Zhong Nan Hai, 25 April 1999, di mana sekitar sepuluh ribu praktisi Falun Gong atau Falun Dafa di Tiongkok, bermula pada April 1999 di Tiongkok setelah sejumlah media yang dikenadilan rezim Partai Komunis Tiongkok melancarkan fitnahan terhadap Falun Gong. Bahkan klarifikasi terhadap pemberitaan miring berujung pada penangkapan sekitar 45 paktisi di Kota Tianjin, Tiongkok.

Aksi teatrikal persidangan memvonis Jiang Zemin atas kesalahannya selaku penindas praktisi Falun Gong. Jiang Zemin mengeluarkan tiga instruksi pada saat itu yakni Hancurkan Secara Fisik, Bangkrutkan Secara Finansial dan Cemarkan Reputasinya yang semuanya ditimpakan kepada Falun Gong. (Erabaru.net)

Sebagai rangka permohonan pembebasan terhadap praktisi Falung Gong yang ditahan, pada saat itu praktisi Falun Gong mengggelar aksi damai dan klarifikasi fakta kepada Pemerintah Tiongkok waktu di luar Kantor Dewan Pengaduan Negara di Beijing. Pada saat itu, Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji langsung menemui perwakilan praktisi Falun Gong. Setelah diterima, semua orang pulang dengan tertib.

Tetapi pimpinan PKT saat itu, Jiang Zemin memiliki rencana lain. Tiga bulan kemudian pada 20 Juli 1999, Jiang Zemin melancarkan kampanye penindasan terhadap praktisi Falun Gong.

Bahkan peristiwa permohonan damai itu, diputar balik sebagai pengepungan oleh Partai Komunis Tiongkok yang diprakarsai Jiang Zemin dengan melakukan propaganda besar-besaran untuk menjatuhkan Falun Gong. Penyelewengan informasi ini menyebabkan masyarakat Tiongkok dan masyarakat dunia menerima informasi hoax tentang Falun Gong.

Selanjutnya Partai Komunis Tiongkok malah memulai penindasan Falun Gong secara menyeluruh di daratan Tiongkok sejak 20 Juli 1999, yang menyebabkan ratusan ribu hingga jutaan praktisi Falun Gong disiksa, dibunuh dan bahkan ada yang diambil organ tubuhnya secara paksa untuk diperjualbelikan.

Adapun luas wilayah penindasan terhadap praktisi Falun Gong terjadi pada seluruh pelosok di Tiongkok bahkan Jiang Zemin dengan kroninya memanfaatkan Kedubes RRT di seluruh dunia untuk melakukan interrvensi kepada pemerintah negara-negara di dunia untuk turut mengekang aktivitas Falun Dafa.

Tentang mekanisme dan metode penindasan yang dimotori oleh Jiang Zemin menyalahgunakan jajaran diplomatik, militer, keamanan negara, sisitem pendidikan, media negara, internet, peradilan, sumber keuangan negara serta struktural partai untuk melakukan penindasan terhadap praktisi Dafa di Tiongkok. Metode penganiayaan beragam mulai penculikan, pencucian otak, propoganda kebohongan, perampasan dan pengambilan organ tubuh praktisi Falun Dafa.

Melansir dari situs id.falundafa.org Falun Gong atau Falun Dafa adalah metode latihan yang berlandaskan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan ini juga disertai metode pengolahan jiwa dan raga. Melalui olah raga disertai dengan lima perangkat latihan termasuk meditasi. Sedangkan melalui olah jiwa berlandaskan pada prinsip Sejati-baik-sabar.

Selama puluhan tahun sejak Falun Dafa diperkenalkan ke masyarakat secara luas sejak pertama kali pada 1992 kini telah menunjukkan manfaat bagi jiwa dan raga bagi yang berlatih Falun Dafa. Mereka yang berlatih mendapatkan banyak manfaat mulai dari kesehatan secara jiwa dan raga serta penerapan prinsip Sejati, Baik, Sabar dalam keseharian mereka. (asr)

Ilustrasi penindasan yang dialami praktisi Falun Gong (Erabaru.net)
Ilustrasi penindasan yang dialami oleh praktisi Falun Gong (Erabaru.net)
Ilustrasi penindasan yang dialami praktisi Falun Gong (Erabaru.net)
Peragaaan pengambilan organ secara paksa yang dialami praktisi Falun Gong (erabaru.net)

Share

Video Popular