Oleh: Sun Yun

Korea Utara pamer kekuatan dengan menggelar latihan tembak skala besar bertepatan dengan hari berdirinya Tentara Rakyat Korea Utara pada 25 April lalu. Sementara itu, kapal selam AS bertenaga nuklir, USS Michigan, berlabuh di Busan, Korsel.

Amerika Serikat dan Korea Selatan kembali akan menggelar latihan dengan peluru tajam di dekat perbatasan Korea, menunjukkan tanda-tanda bahaya dan konflik yang dapat meletus setiap saat. Apakah ini pertanda perang sudah di ujung tanduk? Demikian analisa CNN.

Dalam editorial CNN 26 April lalu menyebutkan, kapal perang dan kapal selam AS diperkirakan telah memasuki dekat pelabuhan di Korea Selatan. Sementara itu, Korea Utara telah menggelar latihan tembak yang terbesar dalam sejarah selama ini. Washington dan Pyongyang saling mengeluarkan opini yang provokatif dalam pekan-pekan terakhir ini.

Ditilik dari semua ini, sulit dipastikan apakah perang benar-benar sudah di ujung tanduk, atau semua ini mencerminkan bahwa pemerintah Trump tengah meningkatkan perhitungan bagaimana menghadapi Kim Jong-un.

Terkait laporan akan situasi yang rawan setiap hari, semakin mengkhawatirkan masyarakat bahwa perang akan segera meletus. Namun, benarkah situasinya telah mencapai titik yang mengkhawatirkan?

Satu percikan api dapat memicu perang

Para analis cemas situasinya seperti sebuah kotak rabuk, yang dapat meletus begitu tergesek.

Bruce Bennett, analis pertahanan senior dari RAND Corporation di Santa Monica California mengatakan, “Masalah utama sekarang adalah seseorang akan membuat kesalahan bodoh, karena gesekan sekecil apapun dapat membuat situasi di luar kendali. Situasinya belum riskan sampai pada tahap dalam tempo 3 pekan saya tidak akan ke Korea. Tapi tetap saja riskan, dan bisa jadi di luar kendali.”

Namun, meskipun terjadi kesalahan penilaian strategis, banyak ahli percaya bahwa perang belum sampai pada titik rawan.

“Jika perang di ujung tanduk, maka angkatan bersenjata AS akan masuk dalam tahap siaga (DEFCON2), dan AS akan mengumumkannya seara resmi dan terbuka,” kata Carl Schuster, profesor Hawaii Pacific University dan mantan direktur operasi di Pusat Intelijen Bersama Komando Pasifik AS.

Pasukan AS juga akan memperkuat latihan militer di dalam wilayahnya, dan mengirim sebuah kapal induk lagi ke Asia Timur.

Komando Pasifik AS mengatakan bahwa kapal induk Carl Vinson akan segera tiba di lepas pantai Semenanjung Korea sebelum akhir April, tetapi belum mengumumkan pergerakan kapal induk lainnya.

Schuster menambahkan, waspada terhadap gerakan artileri dan tank Korea Utara juga penting.

Korea Utara , Selasa 25 April 2017 menggelar latihan militer besar-besaran di kawasan kota pantai Wonsan. Meriam dikeluarkan dan tampak aktivitas yang mencurigakan, dan itu adalah gelagat buruk.  Namun, para perencana perang AS akan mengamati, berapa banyak amunisi yang ditembakkan Korut dalam latihan ini.

Schuster mengatakan bahwa Korea Utara mungkin menyisihkan lebih banyak amunisi untuk pertempuran, beda dengan latihan yang digelarnya, ini dapat dilihat dari citra satelit.

Faktor Trump

Trump dan anggota kunci dari Kabinet, baru-baru ini kembali memperingatkan Korea Utara bahwa “era kesabaran sudah habis, semua pilihan berada di atas meja.”

Di sisi lain, Trump memaksa agar PKT lebih bisa membujuk Pyongyang meninggalkan program nuklir mereka atau menerima sanksi yang lebih berat.

Sementara itu, Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan Amerika Serikat akan berupaya menyatukan sekutu dan negara-negara tetangga Korut, termasuk dukungan Tiongkok, dan mengencangkan tali di leher Kim Jong-un.

Yang mengkhawatirkan adalah, dalam koordinasi dengan negara-negara lain untuk menekan Korea Utara kebijakan terhadap Korut sebelumnya itu tidak akan membawa perubahan. Korea Utara biasanya selalu menanggapi sanksi dengan provokasi.

“Kami benar-benar tidak tahu apa yang direncanakan Donald Trump,” kata Bennett.

Apa yang diinginkan Kim Jong-un?

Dan hal yang sama pentingnya adalah apa yang akan dilakukan Kim Jong-un.

Meskipun ia digambarkan sebagai sosok pemimpin Korut yang masih muda dan impulsif, tetapi ambisi nuklir Korea Utara memiliki tujuan yang jelas, “Menjamin kelangsungan hidupnya.”

Joseph Bermudez, ahli dari “38 North” (garis khayal 38 derajat Lintang Utara) proyek pemantauan Korea Utara independen yang berbasis di Washington mengatakan, “Menurut (Korea Utara), satu-satunya cara mempertahankan rezim Kim berkuasa, dan mencegah serangan Amerika Serikat adalah kepemilikan senjata nuklir.”

Bennett mengatakan, para pemimpin Korea Utara menatap negara-negara seperti Libya, mereka khawatir, jika mereka menerima wortel dari AS dan menukarnya dengan meninggalkan ambisi nuklirnya, maka mereka akan menapak jalan seperti Moammar Gadhafi, tumbang.

“Dia (Kim Jong-un) menguasai sebuah negara yang parah, dari sisi ekonomi, negara ini secara halus disebut sebagai “Dunia Ketiga. Ia harus memiliki sesuatu untuk membuktikan kepemimpinannya, ia ingin memiliki kemampuan senjata nuklir, dan berharap bisa membuktikan bahwa ia bisa membuat Korut setara dengan AS,”  Bennett menambahkan.

Kekhawatiran  negara tetangga

Ketegangan yang sedang berlangsung ini, mendorong negara tetangga Korea Utara mempersiapkan segala kemungkinan terburuk.

Bulan lalu, untuk pertama kalinya, Jepang menggelar latihan evakuasi bagi warga untuk menghadapi ancaman rudal Korut di tengah ketegangan kawasan yang kian memanas. Mereka memberikan pengarahan tentang cara-cara menghadapi kemungkinan terburuk dari serangan. Tahun lalu, warga AS di Korea Selatan mengadakan latihan evakuasi dari negara tersebut jika terjadi serangan.

Partai Komunis Tiongkok/ PKT sedang mencoba untuk menjadi perantara, mengusulkan kesepakatan yang memungkinkan untuk secara bertahap mengurangi ketegangan. Sejauh ini, Korea Utara dan Amerika Serikat telah menolak proposal tersebut.

Untuk menghindari pecahnya konflik skala besar di Semenanjung Korea, itu adalah tujuan utama dari pihak Tiongkok. Beijing khawatir jika terjadi perang akan mengorbankan banyak harta benda dan korban jiwa, juga khawatir akan konsekuensi dari kolapsnya Korea Utara : Tiongkok akan diserbu oleh gelombang pengungsi.   Semenanjung Korea bersatu, dan bersekutu dengan Amerika Serikat, dan militer AS bisa dengan leluasa menuju perbatasan Tiongkok-Korut dari utara.

Para pengamat dan masing-masing pihak sepakat, bahwa perang konvensional yang komprehensif itu akan menghancurkan, tidak sejalan dengan kepentingan mendasar siapa pun.(jhoni/rmat)

Share

Video Popular