Oleh:  Xie Tian

Sikap Presiden Trump di saat sebelum dan sesudah Perundingan Trump-Xi, serta sikapnya terhadap Suriah maupun Korut, sangat mengejutkan dunia.

RRT sendiri juga diam-diam telah merampungkan perubahan orientasi kebijakan strategi nasionalnya.

Masyarakat dunia yang sempat dibikin bingung oleh Trump yang telah menjatuhkan 59 buah rudal jelajah dan 20.000 pon bom jenis MOAB di Afganistan, belum menyadari makna di balik perubahan strategi RRT, serta berbagai dampak dan perubahan pada situasi dunia maupun Tiongkok sebagai akibat dari orientasi baru ini.

Masyarakat yang jeli akan melihat, kali ini, sepertinya adalah takdir, karena hanya dalam semalam, kebijakan diplomatik Trump, termasuk kebijakan Amerika terhadap Tiongkok, Rusia, Korea Utara, Suriah, dan NATO, telah mengalami perubahan 180°.

Kekuatan yang menentukan di balik peristiwa ini mungkin selamanya tidak akan diketahui oleh masyarakat luas. Tapi munculnya realita ini sudah sangat mengejutkan. Amerika jelas telah kehilangan kesabaran terhadap Rusia, Menlu AS Tillerson bersikap semakin keras terhadap ungkapan dari pihak pemerintah Rusia, AS bahkan tidak segan-segan membombardir sekutu Rusia yakni Suriah.

Perlakuan AS terhadap rezim Assad Suriah sangat berbeda dengan gaya Obama yang lemah lembut, ketika rezim Assad telah melanggar batasan senjata kimia. Dalam dua hari saja reaksi keras langsung dilakukan. NATO yang oleh Trump sempat disebut kuno dan tidak efektif, menjadi menonjol posisi strategisnya.

Strategi yang kerap dipakai oleh Korut yakni memprovokasi dan mencipta keonaran untuk menarik perhatian internasional tiba-tiba gagal. Kim Jong-Un yang berusia 30 tahun lebih di hadapan Trump yang seusia kakeknya, tiba-tiba menyadari bermain manja dan ngambek tidak lagi efektif, tapi sirkus ini tetap harus dimainkan.

Perubahan kebijakan Tiongkok adalah hal yang paling mengejutkan dan telah diamati oleh para pengamat. Diam-diam Tiongkok telah merampungkan perubahan besar strategi nasionalnya, kemanakah arah kebijakannya?

Jika dianalisa secara detil, akan didapati dalam hal perdagangan dan ekonomi, wilayah kedaulatan, keamanan nasional, dan situasi dunia, sebenarnya secara menyeluruh telah melepaskan kebijakan anti-Amerika yang dari awal kepemimpinan partai komunis dulu sampai di masa Jiang Zemin selalu dipegang teguh.

Dari yang secara permukaan munafik dan pura-pura baik tapi diam-diam anti-Amerika, kini telah berubah menjadi bekerjasama secara sungguh-sungguh dengan AS.

Dan setelah menyadari inti dari permasalahan antara RRT-AS, serta inti terbesar dari sosial-ekonomi Tiongkok, muncullah fenomena menyeluruh dan mempercepat melepaskan pemerintahan oleh partai komunis.

Pasca pertemuan Trump dan Xi di Sea Lake Manor, yang dipaparkan di atas meja adalah “kesepakatan 100 hari perdagangan” yang dicapai kedua belah pihak. Kabinet Trump tidak lupa menegaskan, ini adalah suatu kesepakatan “yang berorientasi pada hasil”.

Dengan kata lain, orang Amerika tidak hanya akan memperhatikan apakah pihak RRT telah melakukan kewajibannya, berapa banyak yang telah dilakukan, seberapa besar upaya yang telah dilakukan, dan akan melihat pada hasil akhirnya, melihat apakah telah memenuhi target yang telah ditetapkan oleh AS.

Pemerintah Trump memutuskan untuk tidak menetapkan RRT sebagai negara pengendali nilai tukar mata uang, sebagai prasyarat untuk membuat RRT bersedia bekerjasama dengan AS dalam hal menyelesaikan masalah Korut.

Terhadap perubahan kebijakan diplomatik AS ini, sekretaris pers Gedung Putih Spicer tidak menyangkal, dan menjelaskan bahwa “situasi telah berubah”. Bagaimana situasi telah berubah?

Tentunya ini terkait dengan janji yang dibuat oleh Xi Jinping. Trump mengatakan, “Xi Jinping hendak melakukan hal yang benar. Lalu, hal “benar” apakah yang ingin dilakukan oleh Xi?”

Sebenarnya PKT, atau Tiongkok di bawah pemerintahan PKT, telah secara tuntas melepaskan kebijakan anti-Amerika, dan melangkah bersama AS untuk membentuk aliansi baru.

Ketika diwawancara oleh reporter FOX Trump mengatakan, saat makan malam dengan Xi Jinping, ketika sedang menikmati hidangan cuci mulut berupa kue coklat, Trump mengatakan pada Xi Jinping bahwa rudal Amerika telah ditembakkan ke Suriah, dan sebanyak 59 buah rudal semuanya tepat mengenai sasaran.

Xi Jinping mendengar selama 10 detik, dan meminta penerjemah mengulangi terjemahannya, lalu berkata pada Trump, menghadapi orang yang tega melepaskan senjata kimia terhadap anak-anak, tindakan AS itu tidak salah.

Landasan keputusan Trump membombardir Suriah, juga adalah karena anak-anak. Konsep kebajikan paling fundamental antara Trump dan Xi dalam hal kemanusiaan, dalam hal menghadapi kekuatan jahat telah mendasari keduanya saling menerima dan bersedia bekerjasama. Ini juga seharusnya yang mendorong Xi agar melepaskan paham anti-Amerika dalam dirinya.

Dalam sejarah PKT, selama periode perang saudara antara Nasionalis dengan Komunis (1945-1949), tidak ada anti-Amerika yang benar-benar menyolok. Anti-Amerika yang sesungguhnya adalah setelah rezim komunis berdiri (1949), karena takut akan kekuatan kebenaran internasional yang diwakili oleh AS yang akan membasmi kekuatan komunis di seluruh dunia.

Selama periode Perang Dingin (1947-1991), karena alasan kepentingan, demi menghilangkan ancaman nuklir Negara Uni Soviet kala itu, PKT menempuh jalan bekerjasama dengan Amerika untuk melawan Soviet.

Tapi walaupun AS telah meyelamatkan sekutu moralnya RRT dari ancaman bahaya, PKT yang dasarnya anti-kemanusiaan tetap tak tenang hatinya, tidak menentang Amerika secara terang-terangan melainkan diam-diam anti-Amerika, rakyat Tiongkok diprovokasi untuk menentang Amerika secara membabibuta.

Bagi orang Amerika, orang dari daratan Tiongkok sepertinya sangat anti-Amerika. Tapi mengapa RRT anti-Amerika? Bukankah setiap warga RRT berharap bisa pindah ke Amerika?

Baik dengan cara menyelundup, studi dan tidak kembali, migrasi dengan investasi, dengan cari  suaka politik dan perlindungan, seluruh rakyat Tiongkok dari kalangan bawah sampai atas, baik kaya maupun miskin, berbondong-bondong mengungsi ke AS.

Faktanya, yang anti-Amerika adalah Partai Komunis Tiongkok/PKT, rakyat Tiongkok sendiri sama sekali tidak anti-Amerika! Jika dikatakan Iran anti-Amerika, mungkin dari pemerintah sampai rakyatnya semua seperti itu. Tapi di RRT sama sekali tidak seperti itu, rakyat sangat menyukai Amerika, pemerintah sepertinya juga menyukai Amerika, bergembira ria dengan pejabat tinggi Amerika.

Siapakah sebenarnya yang anti-Amerika?

Sesungguhnya adalah sistem PKT, organisasi PKT, dan inti dari PKT, yang menentang Amerika dari dalam hatinya! Jadi, Xi Jinping melepaskan kebijakan anti-Amerika, makna yang sebenarnya adalah meninggalkan unsur kekuatan anti-Amerika di tengah masyarakat Tiongkok dan juga inti dari anti-Amerika, yakni kelompok pemerintahan PKT!

RRT melepaskan anti-Amerika dan mempercepat melepaskan komunis, tanda-tanda pertamanya adalah, perubahan sikap dan pendirian pada masalah rezim komunis Korea Utara (Partai Buruh Korea Utara). Dalam perjalanan pulang dari kunjungan Xi Jinping ke AS, RRT telah mulai memperketat sanksi terhadap Korut.

Kapal bermuatan antrasit (batubara kilap) dalam jumlah besar dari Korea Utara, telah ditolak dan dikembalikan ke Korea Utara, pada dasarnya ini telah memutus mata pencaharian Korut.

Mencermati ringkasan kesepakatan RRT-AS yang dirilis oleh Gedung Putih akan didapati bahwa dalam hal ekonomi RRT membuat langkah mengalah yang cukup besar, yakni setuju untuk menjaga keseimbangan dagang RRT-AS, mengurangi pasokan mata uang, dan mengendalikan inflasi.

Bahkan demi menghapus defisit dagang AS terhadap RRT, telah menetapkan “kesepakatan 100 hari” untuk mencapai kesepakatan. Langkah mengalah RRT yang terbesar dalam hal diplomatik adalah bergabung dengan AS, memperkuat kerjasama untuk memaksa Korut agar melepaskan senjata nuklir, karena rencana nuklir Korut telah memasuki tahap yang membahayakan.

Aliansi baru antara RRT-AS telah terbentuk setelah pertemuan di Sea Lake Manor AS. Yang paling kaget dan marah dengan adanya aliansi RRT-AS ini, dipastikan adalah Korut dan Rusia.

PKT memberikan tekanan terhadap Korut, memaksa Korut melepaskan senjata nuklirnya. Perusahaan dagang RRT dituntut oleh Biro Bea dan Cukai untuk mundur dari bisnis impor batubara dari Korea Utara. Sebanyak belasan unit kapal yang memuat lebih dari 2 juta ton batubara dari Korut ditahan di pelabuhan Tiongkok, lalu dikembalikan lagi ke Korut.

RRT mulai menggembosi Korut, demi membantu AS memberantas tuntas rezim komunis Kim Jong-Un. Setelah proses menghapus komunis dan setelah netralisasi komunis rampung, maka tak lama lagi akan tiba gilirannya bagi Tiongkok. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular