Banyak yang pernah mengalami penindasan di sekolah, fenomena seperti ini memang sangat menjengkelkan, tapi sampai sekarang, intimidasi dan penindasan masih saja berlanjut, bahkan semakin liar dan tak terkendali.

Belum lama ini, terjadi sebuah kasus yang brutal di salah satu sekolah kota Luzhou, Sichuan, Tiongkok. Seorang siswa SMP bernama Zhao Xin (14) dipukul hidup-hidup sampai tewas karena tidak memberi “jatah / uang keamanan.”

Terbetik berita, Zhao Xin sebelumnya pernah di-bully di sekolahnya. Ia diperas 1,000 yuan atau sekitar Rp. 200,000,- tapi, Zhao Xin tidak memberinya, karena memang ia tidak punya uang sebanyak itu, lalu ia ceritakan hal itu kepada kakek-neneknya.

Mendengar itu, orangtua Zhao Xin bukan main marahnya, kemudian melapor ke polisi. Kantor polisi setempat kemudian mencatat laporan tersebut, dan menginformasikan ke pihak sekolah, tapi  karena tidak ada sesuatu yang terjadi, kemudian kasus itu dianggap sebagai masalah yang biasa antar anak-anak, lalu lambat laun kasus itu pun dilupakan.

Belakangan, penindasan semakin intensif, langsung minta Zhao Xin memberikan 10.000 yuan sebagai “uang keamanan”, jika tidak memberikan uang, maka akan langsung “dihabisi”. Tentu saja, Zhao Xin tidak sanggup memberikan uang sebanyak itu, lalu bersama dengan anggota mafia setempat, anak yang malang itu pun dipukul sampai tewas.

Saksi mata yang melihat mayat Zhao Xin mengatakan, sekujur tubuh Zhao Xin dipenuhi dengan luka lebam, tangan dan kaki patah, bahkan dilempar dari lantai lima, untuk menciptakan kesan seolah-olah jatuh dari lantai atas. Setelah tragedi itu, unit terkait bermaksud mencoba menyembunyikan fakta sebenarnya, mereka ingin membakar secara paksa mayat korban tanpa menunggu kedatangan orang tua korban.

Keluarga Zhao Xin sangat sedih sekaligus marah, tidak tahu bagaimana mencari keadilan untuk anaknya. Salah satu penindas di sekolah itu adalah anaknya kepala sekolah, dan polisi tampak melindungi tersangka, bahkan melarang mereka menceritakan perihal laporan dari orang tua korban sebelumnya.

Karena tak berdaya, ibu Zhao Xin lalu berteriak di gerbang sekolah, “Anak-anak kalian tidak aman disini, lihatlah apa yang sedang aku lakukan sekarang!”

Oknum yang membunuh Zhao Xin total ada 5 tersangka, pihak sekolah ingin menyelesaikan kasus itu secara pribadi, dan mengajukan syarat, satu orang 200.000 yuan, sebagai kompensasi sebesar 1 juta yuan atau sekitar Rp. 2 miliar untuk keluarga Zhao Xin.

Namun, Ibu Zhao Xin tidak setuju berdamai, ia hanya ingin menghukum para pembunuh seberat-beratnya sebagai bentuk keadilan bagi anaknya.

Pasca insiden tersebut, Gubenur Provinsi Sichuan pernah berkunjung ke sekolah terkait untuk menangani hal itu, saat itu setidaknya ada 13 unit kendaraan, 9 unit bis yang mengiringi rombongan Gubernur yang dijaga ketat.

Kasus penindasan hingga tewas yang dialami Zhao Xin sekarang telah meningkat, hingga terjadi bentrokan antara penduduk setempat dengan polisi. Sementara tersangka juga belum tertangkap.

Dalam rangka menjaga stabilitas, beberapa jalan setempat telah ditutup untuk lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki.

Keluarga Zhao Xin dan beberapa tokoh kesejahteraan umum menunggu sepanjang malam di sekolah, saling berhadap-hadapan dengan polisi. Menurut sumber terkait, beberapa anggota keluarga Zhao Xin telah ditangkap oleh polisi.

Bullying di sekolah bukanlah hal yang sepele, para penjndas yang arogan dan bersewenang-wenang itu pasti sebelumnya juga pernah melakukan hal serupa.

Zhao Xin dipastikan bukan korban penindasan pertama, lantas apakah anak-anak korban penindasan lainnya yang beruntung masih hidup itu bisa dianggap tidak pernah mengalami hal seperti itu?

Jika pembunuhnya tidak dihukum, bagaimana masyarakat akan percaya dengan hukum!

Anak yang malang, pergilah dalam kedamaian! (jhoni/rp)

 

Share

Video Popular