KEDIRI  – Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan laporan sementara tim tanggap darurat bencana gerakan tanah di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Kepala Tim Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah PVMBG ini dipimpin oleh Herry Purnomo.

Berdasarkan laporan resmi yang dipublikasi menyebutkan bahwa lokasi amblesan tanah/sumur berada di Dusun Nanas, Desa Manggis dan Dusun, Jatirejo, Desa Gadungan, Kec Puncu, Kab. Kediri, Jawa Timur.

Laporan tim menyebutkan bahwa jenis bencana gerakan tanah berupa amblesan tanah pada sumur penduduk. Sedangkan waktu kejadian gerakan tanah dimulai dari Senin (24/4/2017) dan berlangsung hingga sekarang.

Peneliti di sumur yang ambles (Foto : Tim Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah PVMBG/Vsi.esdm.go.id)

Data yang dihimpun menyebutkan bahwa kondisi Daerah Bencana secara Morfologi daerah relatif datar dengan kemiringan antara 3 – 80 (merupakan kaki lereng barat laut Gn. Kelud, dengan jarak dari puncak sekitar 20 km ke arah barat laut) dengan elevasi antara 220 – 250 mdp. Adapun batuan penyusun berupa endapan piroklastik dan lahar dari Gn Kelud berukuran dari lempung hingga kerakal.

Peneliti dari PVMBG di sumur yang amblas (Foto : Tim Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah PVMBG/Vsi.esdm.go.id)

Analisa Badan Geologi menyebutkan, tata guna lahan berupa ladang/tegalan dan pemukiman (kampung). Kondisi keairan berupa limpasan air permukaan (pada waktu hujan) yang mengalir dan meresap ke dalam tanah. Air tanah dangkal; berkedalaman 0,2 – 4 m (sumur penduduk dan mata air). Sebelum terjadi bencana kedalaman muka air tanah dangkal pada sumur-sumur penduduk antara 12 – 17 m

Pada sisi kerentanan Gerakan Tanah, berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Gerakan Tanah Bulan April 2017, daerah lokasi bencana termasuk dalam zona rendah untuk terkena gerakan tanah.

Analisa Badan Geologi menyebutkan bahwa penyebab gerakan tanah berdasarkan sifat fisik lapisan abu dan pasir vulkanik yang tidak kompak dan mudah runtuh. Faktor lainnya adalah meningkatnya muka air tanah secara drastis (15 m ke 3 m).

Badan Geologi menyebut bahwa faktor fluktuasi/perubahan muka air tanah pada akhir-akhir ini secara drastis juga menjadi penyebab.  Tak hanya itu, konstruksi sumur gali (buis beton) yang tidak sampai dasar sumur, sehingga terdapat dinding sumur yang tidak ada pelindungnya dan terjadi guguran.

Sumur di Desa Gadungan Kec Puncu, Kab. Kediri, Jawa Timur. (Foto : Tim Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah PVMBG/Vsi.esdm.go.id)

Faktor lainnya adalah guguran/runtuhan dinding sumur di bawah konstruksi (buis beton) yang menimbulkan gerowong. Selain itu, diperkirakan ada pengaruh sesar pada daerah tersebut.

Menurut Badan Gelogi, mekanisme gerakan tanah terjadi akibat sifat fisik tanah/batuan yang lepas-lepas dan mudah runtuh, maka dinding sumur (yang tidak berkonstruksi) telah mengalami kikisan /runtuh secara bertahap dan menimbulkan gerowong/rongga pada dasar sumur.

Akibat terjadinya perubahan fluktuasi muka air tanah secara drastis menyebabkan pelarutan pada tanah/batuan pada bagian dinding sumur sehingga menyebabkan bagian tersebut ambles.

“Pada awal kejadian hanya 55 sumur dan sampai saat ini sudah 127 sumur yang mengalami amblesan/runtuhan,” demikian bunyi laporan Badan Geologi.

Badan Geologi menyimpulkan, masih akan terjadi amblesan pada sumur-sumur lain yang tidak berkonstruksi. Sedangkan amblesan yang terjadi tidak berpotensi menimbulkan bencana longsor/amblesan dalam skala besar.

Tim saat sosialisasi kepada masyarakat (Foto : Tim Tanggap Darurat Bencana Pergerakan Tanah PVMBG/Vsi.esdm.go.id)

Masyarakat diimbau agar tetap tenang . Sedangkan air sumur masih dapat digunakan untuk mandi, cuci dan buang air (MCK) dan tidak untuk memasak. Tim telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di lokasi bencana bersama oleh Tim PVMBG bersama dengan BPBD dan Instansi terkait lainnya

PVMBG memberika rekomendasi kepada masyarakat agar tidak mendekati sumur terutama pada waktu atau setelah hujan. Rekomendasi lainnya adalah Tidak mengambil air melalui timba, tidak menguras sumur, menimbun sumur dengan tanah/pasir dan dipadatkan. Masyarakat juga direkomendasikan agar konstruksi sumur harus sampai dasar serta  untuk keperluan memasak agar menggunakan dropping air bersih. (asr)

Share

Video Popular