Delapan belas tahun silam, sepuluh ribu lebih praktisi Falun Gong mendatangi Zhongnanhai di Beijing untuk mengajukan petisi damai. Sikap mereka yang damai, rasional, namun tetap berkeyakinan teguh itu, tidak hanya mengejutkan para petinggi Partai Komunis Tiongkok/  PKT, juga mendapat simpati dan pujian dari masyarakat internasional.

Sejak saat itu “25 April” menjadi prasasti bagi moralitas yang belum pernah ada dalam sejarah Tiongkok. Delapan belas tahun kemudian, Senin (24/04/2017), sebanyak hampir 1000 orang praktisi Falun Gong di wilayah New York datang ke depan gedung Konjend RRT menggelar malam penyalaan lilin, memperingati delapan belas tahun peristiwa petisi damai tersebut.

Pertemuan di mulai pada pukul 6 petang. Mentari senja menyorot redup permukaan Sungai Hudson. Di antara kemilau kuning pantulan cahaya senja dari permukaan sungai, para praktisi Falun Gong yang berseragam biru menjadi terlihat menonjol. Diiringi alunan musik mereka berlatih lima metode Gong yang lembut dan perlahan. Dan di depan mereka, adalah Gedung Konjend PKT di New York.

Sehari sebelumnya gedung Konjend PKT terlihat luar biasa sunyi. Jendela yang hitam gelap, tak ada sedikit pun cahaya lampu apalagi tanda kehidupan, bahkan bendera berwarna merah darah di atas tiang di depan gedung itu pun terlihat pucat tak bergairah.

Alami Kesulitan dan Penderitaan, Hati Tetap Berbelas Kasih

Shi Ning baru lima bulan tiba di Amerika Serikat, ini adalah untuk kali pertama dia datang ke depan Konjend.

“Saat mereka menangkap saya pertama kalinya, saya ditanya mengapa begitu bersikukuh. Saya balik bertanya pada mereka, hal apa yang paling baik di dunia ini? Mereka tidak bisa menjawab. Saya katakan pada mereka, yang terbaik di dunia ini adalah Sejati-Baik-Sabar.”

Sebelum bergabung dengan Falun Gong, Shi Ning yang bekerja sebagai programmer piranti lunak komputer mengidap kepenatan mata yang sangat parah, tadinya sudah tidak mampu bekerja lagi. Beruntung bertemu dengan Falun Dafa, tak hanya menyehatkan jasmaninya, bahkan pekerjaannya pun semakin berprestasi, setiap tahun dia menjadi karyawan teladan di divisinya.

“Setelah berkultivasi Falun Dafa, Master Li Hongzhi mengajarkan kami agar selalu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, mengerjakan segala hal harus mempertimbangan orang lain terlebih dulu. Sedangkan partai komunis sebaliknya menuntut kami untuk menjadi orang yang sinis tapi patuh terhadap partai.”

Dalam proses mematut diri menjadi orang baik sesuai kriteria Falun Dafa, jiwa dan mental Shi Ning menjadi lebih lapang dan terbuka. Orang-orang di sekitarnya pun merasakan hal itu beserta manfaatnya.

Karena teguh berlatih Falun Gong dia dipenjara secara ilegal oleh PKT, dijebloskan ke penjara dan kamp kerja paksa, dia pun telah berjumpa dengan banyak narapidana yang merasa putus asa, jiwanya hancur dan dicemooh masyarakat.

“Ketika mereka mendengar informasi mengenai Falun Dafa, mendengar sebuah puisi karya Master Li Hongzhi dan sepenggal kata-katanya, mereka berkata pada saya, Dafa yang begitu baik ini, pemerintah justru melarangnya, apakah mereka sudah gila?”

Mereka bahkan mengucapkan kata-kata yang tak terlupakan hingga kini oleh Shi Ning yakni, “Mereka berkata, andai saja dulu saya mengenal Falun Dafa, hari ini saya tidak mungkin dipenjara disini.”

Ketika Shi Ning dibebaskan dari penjara itu, banyak narapidana yang dijatuhi hukuman seumur hidup bahkan terpidana mati sambil meneteskan air mata mengatakan padanya agar terus bertahan sampai akhir.

Setelah melalui begitu banyak penderitaan, Shi Ning dalam melihat Konjend RRT yang muncul dalam dirinya bukan kebencian, melainkan belas kasihan.

“Saya merasa mereka sangat menyedihkan. Para staf di Konjend RRT itu, mereka juga warga RRT. Usia manusia hanya sekian puluh tahun saja, mengapa mau diperalat begitu saja oleh PKT? Apalagi di tengah masyarakat yang demokratis dan bebas ini, mengapa masih membantu para preman itu untuk menindas sesama rakyat Tiongkok? Layakkah itu?”

“Saya tidak membenci mereka walaupun mereka pernah menyakiti saya. Karena ajaran di dalam Falun Dafa adalah harus selalu mempertimbangkan keadaan orang lain tanpa kecuali.”

Shi Ning sangat berharap orang-orang di Konjend RRT, sebagai seorang manusia hendaknya melihat, menghadapi dan mendengarkan, mengapa para warga senegara kita ini begitu kukuh berpendirian terhadap Falun Dafa. “Di Tiongkok mereka tidak berani bersuara, di masyarakat bebas ini mereka juga tidak berani bersuara, tolong tanya: Jiwa seperti apakah kalian itu?”

Langit berubah gelap, para praktisi Falun Gong menyalakan lilin di tangan, diangkat di atas kepala, mereka pun dengan khidmad mengenang para praktisi Falun Gong yang dianiaya hingga tewas. (sud/whs/rp)

Share

Video Popular