Oleh:  Lin Hui

Belakangan ini, situasi di semenanjung Korea kembali menjadi tegang berhubung adanya isyarat bahwa Korea Utara akan melakukan percobaan nuklir, dan ancaman balik Amerika Serikat yang akan mengambil segala tindakan untuk mengatasi masalah senjata nuklir Korea Utara.

Dalam menghadapi krisis tersebut, berbagai tanggapan dari rakyat RRT sebagai tetangga terdekat sekaligus partner Korut juga bermunculan.

Hanya dari penggunaan kata-kata sudah dapat dirasakan, seberapa dalamnya ‘keracunan (cuci otak)’ yang diderita oleh rakyat Tiongkok atas indoktrinasi Partai Komunis Tiongkok/PKT: Jelas-jelas Korut-lah yang berinisiatif memicu perang agresi tersebut, serta tentara AS dan PBB berdiri di pihak penentang aggressor, jelas-jelas PKT-lah yang telah membantu sang agresor yang bertindak semaunya.

Malah sebagai akibat PKT sendiri juga dikecam sebagai agresor, namun PKT secara sengaja telah melakukan eufemisme dan pengelabuhan, sebuah perang membantu agresor dilukiskan sebagai ‘perang keadilan’ yang “Membantu Korut Melawan Amerika (抗美援朝kàng měi yuán cháo) dan Melindungi Kampung Halaman (保家衛國bǎo jiā wèi guó)”.  

PBB  Mengecam RRT Sebagai Agresor

Data menunjukkan, Perang Korea meletus pada 25 Juni 1950, pada awalnya serangan pasukan Korut berjalan lancar, hingga pertengahan Agustus pasukan Korsel berhasil dipukul mundur hingga kota Busan, bahkan 90% wilayah Korsel telah dikuasai oleh Korut.

Pada 15 September 1950 pasukan PBB yang dipelopori oleh Amerika mendarat di Incheon dan dibawah pengeboman terus-menerus dari angkatan udara AS, pasukan Korut mulai tidak mampu bertahan lagi, maka Kim Il-sung  yang cemas mempertimbangkan permintaan bantuan PKT untuk mengirim pasukan.

Setelah PKT-Uni Soviet-Korut berunding secara intensif, dibawah penentangan senjumlah elit militer PKT, pada 19 Oktober 1950 Mao Zedong akhirnya memutuskan pasukannya ikut bergabung dalam perang Korea dan secara rahasia memasuki wilayah Korut dengan melewati sungai Yalu di perbatasan kedua negara.

Aksi bantuan PKT mendapat kecaman dari masyarakat internasional, pada 30 Januari 1951 PBB meloloskan sebuah  resolusi mengecam RRT sebagai agresor, dengan perbandingan 44 negara setuju dan 7 negara abstain. Selanjutnya pada 18 Mei 1951 PBB meloloskan lagi sebuah resolusi, meminta semua anggota PBB melakukan embargo terhadap RRT.

Pada 25 Juni  2016 tahun yang lalu, jaringan berita Pengbai (ThePaper.cn) RRT menerbitkan sebuah dokumen dekripsi Uni Soviet “Bagaimana Stalin – Mao Zedong memutuskan RRT mengirim pasukan menyelamatkan Korut”.

Dokumen tersebut sekali lagi membuktikan Korut justru adalah agresor, sedangkan apa yang disebut PKT “membantu Korut melawan AS” hanyalah sebuah tindakan yang membantu agresor dengan mengobankan ratusan ribu jiwa rakyat Tiongkok.

Foto satelit pemandangan malam semenanjung Korea, di utara garis “38”, selain Pyongyang terdapat sedikit kedipan sinar, seluruhnya diselimuti kegelapan. Sebaliknya di bagian Selatan, cahaya lampu terang-benderang yang menandakan adanya kemakmuran dan kebebasan. (internet)

PKT Menyelewengkan Ucapan Kepala Staf Tentara Amerika

Demi membodohi rakyat Tiongkok dengan lebih sempurna, PKT bahkan tak segan memanipulasi ucapan kepala staf tentara AS Bradley dalam penilaian terhadap perang Korea, “Sebuah perang yang salah, salah tempat, salah waktu dan salah musuh”, dengan demikian tidak sedikit warga di daratan Tiongkok menganggap “tindakan PKT heroik” dan membanggakan diri atas “penyesalan” orang Amerika.

Sebenarnya ucapan Bradley itu adalah penjelasannya sebagai saksi menjawab Komite Hubungan Luar Negeri Kemiliteran Senat AS yang meragukan pendapat jendral Mac Arthur yang mengusulkan memberi tekanan kepada PKT dengan cara melakukan serangan terhadap kota-kota di daratan Tiongkok. Kala itu Perang Korea belum lagi berlangsung separoh.

Ucapan selengkapnya Bradley sebagai berikut,  “Terus terang, dilihat dari sudut pandang Gabungan Kepala Staf, strategi ini (memperluas peperangan hingga wilayah Tiongkok) akan membuat kita melakukan perang yang salah, yakni salah tempat, salah waktu dan salah musuh (Frankly, in the opinion of the Joint Chiefs of Staff, this strategy would involve us in the wrong war, at the wrong place, at the wrong time, and with the wrong enemy.)”

Patut diperhatikan, Bradley menggunakan kata “would” adalah ucapan yang mengandung arti pengandaian, menunjukkan suatu hal yang mungkin akan terjadi. Maka itu yang dikatakan mutlak bukan waktu PKT telah ikut bertempur dalam medan perang Korea yang sedang berlangsung, melainkan bentrokan perang yang hendak diperluas hingga ke wilayah Tiongkok.

Dari sini terlihat, departemen militer AS selamanya tidak menyangkal sifat keadilan atas pengiriman pasukan mereka ke Korea, melainkan hanya menentang perluasan perang ke dalam wilayah Tiongkok, dan menentang pendapat Mac Arthur, karena tindakannya itu berisiko (meletusnya Perang Dunia III apabila Uni Soviet turut campur, Red.) serta sangat mungkin Amerika bakal menanggung bahaya yang amat besar.

Dari sudut pandang ini juga membuktikan apa yang terus dipropagandakan oleh PKT bahwa Amerika akan mengagresi Tiongkok merupakan perkataan yang tidak benar.

Orang Amerika Menganggap Perang Korea Merupakan Perang Keadilan

Kenyataannya, seperti halnya pemerintah Amerika, rakyat Amerika juga selalu menganggap keterlibatan dalam Perang Korea adalah menjunjung keadilan, karena adalah suatu perang demi melindungi kebebasan dan demokrasi serta perang melawan agresor, seluruh manula veteran perang yang pernah terjun dalam Perang Korea merasa bangga.

Di berbagai tempat di Amerika, terdapat banyak gedung maupun monumen peringatan Perang Korea, juga di banyak perguruan tinggi AS didirikan monumen yang mencatat nama para alumni yang gugur di Perang Korea, sedangkan di monumen Perang Korea Korsel tercatat setiap nama tentara AS yang tewas dalam perang.

Mantan menteri pertahanan Amerika Rumsfeld juga pernah mengatakan, “Diatas meja kantor saya terdapat selembar foto satelit tentang pemandangan malam semenanjung Korea, di utara garis demarkasi militer 38, selain Pyongyang terdapat sedikit kedipan sinar, seluruhnya diselimuti kegelapan. Padahal di bagian Selatan, cahaya lampu terang-benderang, itu menandakan mercu-suar kemakmuran dan kebebasan, 33.000 rakyat Amerika dan puluhan ribu orang lainnya demi melindungi mercusuar itu telah mengorbankan jiwa mereka.”

Sebaliknya, tentara PKT yang demi kepentingan PKT dikirim ke Korut, ada yang tewas di negeri orang, atau melarikan diri dari PKT, atau yang paling sial ditengah berbagai gerakan politik dikemudian hari, terus menerus mengalami kesengsaraan hingga hari tuanya yang menyedihkan di daratan Tiongkok, dari mereka siapa yang bisa mengatakan, “Saya telah ikut berperan dalam sebuah perang yang melindungi kebebasan dan demokrasi?” (tys/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular