Oleh: Zheng Yi

Erabaru.net. Dikatakan lingkungan ekosistem Amerika sangat baik, terutama di wilayah timur, rumput pun tidak layu di musim dingin, tidak seperti wilayah barat yang menguning. Dimana-mana terdapat hutan lebat, yang dihuni kawanan rusa dan tupai berlompatan kesana kemari, juga ada luwak, tikus tanah, angsa dan beruang.

Di setiap sungai maupun danau, setiap lemparan kail pasti bisa mendapatkan ikan. Selama beberapa tahun penulis berdiam di AS, selalu menetap di wilayah timur. Di musim gugur, sepanjang jalan Highway 95 yang melintang di sepanjang pesisir timur selalu merah seperti api menyala, tidak hanya pohon mapel, juga pohon cotinus coggygria (smoke tree), semua memerah daunnya, sungguh sangat indah dan mempesona.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kemudian saya baru mengetahui, lebih dari seabad lalu, alam di Amerika Timur jauh lebih indah daripada sekarang. Waktu itu di seluruh wilayah timur terdapat pohon raksasa yang indah yang dikenal dengan pohon chestnut.

Jangan dibandingkan dengan pohon chestnut di daratan Tiongkok atau jenis pohon lain, jika ingin dibandingkan, bandingkan seekor kucing dengan sapi, atau seekor kuda dengan dinosaurus. Pohon chestnut Amerika (kastanya/Castanea dentata) sangat tinggi dan besar, tingginya dapat mencapai 30 meter atau setinggi bangunan 10 lantai, dengan diameter 3 meter, yang harus dipeluk 5-6 orang untuk melingkari batangnya.

Pertumbuhannya juga sangat cepat, dan sudah berbuah dalam waktu beberapa tahun, batang kayunya juga sangat keras, bisa dibuat perabot, panel lantai, dan juga membangun rumah.

Uniknya lagi, pohon chestnut mengandung Tannin yang kaya, bersifat anti-keropos alami dan tidak perlu diproses secara kimia, bisa langsung dipakai untuk membuat pagar, bantalan rel KA, dan dermaga. Ada lagi yang tak terbayang oleh Anda, yakni batang kayunya yang sangat lurus dan rata, pilihan utama bagi para pengrajin kayu atau pengukir.

Masih ada lagi, pohon sebesar itu, menghasilkan buah chestnut (kastanya) yang rasanya sangat sedap, sekeluarga duduk mengelilingi perapian sambil membaca Alkitab atau berkumpulnya keluarga, buah chestnut dipanggang di atas bara api, manis dan empuk. Digiling menjadi bubuk bisa ditambahkan ke dalam tepung gandum untuk dibuat roti.

Yang paling sulit Anda bayangkan adalah pohon raksasa yang ibarat legenda ini dulunya pernah menutupi hampir seluruh pesisir timur: mulai dari paling utara Amerika yakni negara bagian Maine terus ke arah barat daya, melalui Pegunungan Appalachians sampai ke Lembah Ohio, melalui belasan negara bagian sampai ke selatan di negara bagian Mississippi. Berapa banyak jumlahnya?

Sekitar 4 milyar pohon! Jika dihitung dengan jumlah penduduk AS saat ini sekitar 300 juta jiwa, maka rata-rata dari setiap orang terdapat belasan pohon chestnut. Apakah masih perlu menanam tanaman pangan?

Setiap hari setiap orang bisa menikmati mie atau roti chestnut makanan favorit ibu suri dinasti Qing, Chixi. Tanaman istimewa ini juga menyusup hingga ke dalam sastra Amerika, di banyak buku terdapat jejak agung mereka. Henry David Thoreau (penulis dan filsuf asal Amerika Serikat) yang menyendiri berdiam di Danau Walden pernah menulis seperti ini, “Pohon-pohon tua ini ibarat orang tua kita, bahkan mungkin adalah orang tua dari para orang tua kita.”

Sayangnya tak lama setelah Thoreau meninggal dunia, pohon chestnut Amerika pun mulai menapak jalan kematiannnya. Wabah penyakit dari Asia telah memusnahkan pohon raksasa chestnut, mungkin sejenis cendawan yang berasal dari Jepang, yang bisa menyebar lewat hewan dan unggas.

Awalnya terjadi kelainan pada kulit batang, lalu seluruh pohon pun mati. Di era tahun 1880-an abad XIX, ditemukan sekumpulan pohon chestnut yang pertama terserang penyakit. 20 tahun kemudian (1910) diberitakan di New York, hal itu pun memicu panik. Para pramuka mencuci kulit pohon dan berupaya menyelamatkannya.

Pohon yang berpenyakit ditebang lalu dibakar, bahkan sebatang dahan pun tidak luput. Masyarakat, ilmuwan dan pemerintah berusaha menyelamatkannya, namun segala cara tidak mampu menghentikannya. Dan 20 tahun kemudian (1930) warga AS mengakui realita dan tidak lagi melawan. Pohon chestnut ibarat raksasa itu yang dulunya pernah menyelimuti tanah yang luas, telah tumbang dan punah begitu saja.

Lalu pohon ek (oak) menggantikan pohon chestnut mengisi lahan yang kosong itu, juga terbilang tinggi dan besar, kualitas kayunya juga bagus, tapi tidak bisa menggantikan berbagai legenda yang ditinggalkan pohon chestnut: buah pohon ek tidak enak dimakan, batang kayunya juga tidak anti-keropos alami, jumlah tupai di hutan menjadi jarang, beberapa jenis serangga pun ikut terancam punah.

Beberapa tahun terakhir ini, ada beberapa temuan pohon chestnut di sejumlah daerah pantai timur, antara lain:

1. Pada Maret 2008, di rawa dekat Danau Erie negara bagian Ohio ditemukan sebuah pohon chestnut dengan tinggi 27 meter, dan lingkar batang 1,5 meter. Saat ditemukan pohon itu sudah berusia 7 tahun, lokasi presisi pohon itu sampai saat ini masih dirahasiakan.

2. Pada 1983, sejumlah orang yang berupaya menciptakan lagi kejayaan itu membentuk American Chestnut Foundation, jumlah pesertanya mencapai 6.000 orang, yang terdiri dari pensiunan ilmuwan juga para pemilik pertanian. Mereka memiliki 486 kebun buah dan 120.000 pohon eksperimen. Ilmuwan ketua bernama Hubbard telah membiakkan puluhan ribu pohon chestnut kawin silang di Virginia dengan harapan dapat menemukan jenis yang anti jamur.

Harapan kini ada pada pohon chestnut Tiongkok (Castanea mollissima), meskipun pohon chestnut Tiongkok lebih pendek, kualitas kayunya juga tidak sebaik jenis Amerika, tapi mampu mengatasi penyakit layu tersebut. Jenis baru hasil kawin silang memiliki sifat anti-jamur, namun berbagai karakteristik lainnya tidak baik.

Setelah berulang kali proses kawin silang dan pemilihan dari beberapa generasi, Hubbard akhirnya mendapatkan bibit pohon chestnut kawin silang dengan 94% keturunan Amerika dan 6% keturunan Tiongkok. Kelebihan pohon chestnut Amerika dipertahankan, bahkan memiliki kemampuan anti-jamur dari chestnut Tiongkok. Yang sangat disayangkan adalah, jenis baru ini sangat manja, dan hanya bisa tumbuh di Virginia.

Untuk menyelamatkan pohon chestnut yang diimpikan warga AS, para ilmuwan pun membuat berbagai proyek. Selain kawin silang, ada juga yang menggunakan jamur untuk melawan jamur, ada yang menggunakan teknik rekayasa genetika, namun “bibit unggul” yang mereka harapkan hingga kini belum didapatkan.

Penulis terus menduga, bagaimana pohon chestnut asal Jepang atau asal Asia yang telah memusnahkan pohon chestnut Amerika itu bisa masuk ke Amerika?

Tidak jelas sejarahnya, tapi dipastikan berasal dari sebuah kapal dari Jepang. Setiap ekosistem yang lengkap selain bandel, juga sangat lemah. Hanya dibutuhkan sebuah pohon dari luar atau hewan atau serangga yang dibawa oleh kapal layar bertiang tiga, maka ekosistem yang telah terbentuk selama puluhan ribu tahun pun akan mengalami nasib naas. Menjaga ketat menyusupnya spesies dari luar. Inilah alasan setiap negara kini memberlakukan pemeriksaan ketat di perbatasan.

Menurut informasi “The Second International Conference on Biological Invasion”, saat ini di Tiongkok telah dipastikan terdapat 544 jenis spesies menyusup, di antaranya yang menyebabkan kerusakan serius dan dalam jumlah besar mencapai lebih dari 100 jenis, setiap tahun kerugian ekonomi diperkirakan mencapai ratusan milyar Yuan.

Dan penyebarannya juga meluas dengan cepat. Tiongkok telah menjadi salah satu negara yang paling serius mengalami penyusupan spesies dari luar negeri. Tentu saja tidak hanya Tiongkok, penyebaran seperti ini tentu saling terjadi satu sama lain. Ikan mas Asia menyusup ke Amerika, Dàzháxiè (kepiting berbulu dari Tiongkok) menyusup ke Jerman, telah menyebabkan bencana ekosistem yang sulit ditanggulangi.

Kisah pohon chestnut Amerika ini seperti ramalan yang sangat jahat. Kapal laut yang membawa virus jamur itu menyebar di sepanjang pesisir Samudera Pasifik selalu menari-nari di benak saya. Perkembangan transportasi masa kini telah mendatangkan kekayaan dan kebudayaan, namun di saat yang sama juga menimbulkan wabah, spesies asing dan peperangan.

Perang mungkin masih bisa dicegah, namun menyusupnya spesies asing dan musnahnya spesies tertentu tidak mungkin bisa dihentikan. Tragedi yang menimpa pohon chestnut Amerika akan terulang kembali di belahan dunia lain, hal ini tidak perlu diragukan lagi. Akan menjadi apa pemandangan dunia ini di masa mendatang?

Sepertinya tidak ada seorang pun ilmuwan ekologi bersikap optimis akan hal ini.

Thoreau yang agung mengatakan, “Jika seseorang hidup dengan tulus dan jujur, maka ia pasti akan hidup di tempat yang sangat jauh……”

Di dunia ini kini, dimanakah tempat yang jauh itu?

Thoreau yang ibarat peramal mengatakan, “Selama hidup penghargaan terbesar yang saya menangkan adalah ada orang bertanya pada saya apa yang saya pikirkan dan mendengarkan dengan seksama jawaban saya.”

Di dunia ini kini, berapa banyak orang yang akan bertanya pada Thoreau dan mendengarkan jawabannya dengan seksama?

Teknologi modern dan perekonomian telah berhasil mengubah dunia yang beraneka corak warna menjadi “kampung dunia” yang kecil-kecil, terdengar seperti warta baik, tapi boleh jadi malah bencana. Bergeser sedikit saja dari sisi timur kampung sudah tiba di penghujung sisi barat, apakah kita benar-benar bahagia karenanya?

Sebuah dunia yang beraneka corak warna dan luas telah menjadi kampung-kampung kecil yang penuh nafsu dan uang.

Di tengah keinginan kita yang tak terbatas, segala hal yang indah akan berubah menjadi legenda pohon chestnut Amerika. (sud/whs/rp)

Share

Video Popular