Oleh: Lin Hui

PKT Menyumbang Pasukan Tempur Lengkap Kepada Kim Il Sung

Erabaru.net. Pemimpin pertama Korea Utara Kim Il-sung (nama asli Kim Song-ju) ketika berusia belasan tahun ikut ayahnya melarikan diri ke Tiongkok, setelah tamat Sekolah Dasar -1 kecamatan Fusong provinsi Jilin, belajar di Sekolah Menengah Yuwen di kota Jilin.

Pada 1931 resmi menjadi anggota PKT (Partai Komunis Tiongkok), kemudian mengikuti Pasukan Koalisi Anti Jepang Timur Laut Tiongkok dan pernah menjabat sebagai Komandan Divisi. Usai perang melawan Jepang, pada 1946 dibawah dukungan Uni Soviet dan PKT, Kim kembali ke Korea Utara serta menjadi pemimpin tertinggi komunis.

Dukungan PKT kala itu kepada Kim Il-sung bukan hanya persenjataan dan bahan pangan saja, bahkan beberapa kali menyumbang pasukan tempur kepadanya. Untuk kali pertama adalah ketika Kim Il-sung belum lama tiba di tanah air.

Sebagai orang baru di Korea, demi kelancaran mengkomando para tokoh, ia belajar cara-cara PKT dan PKUS dengan membersihkan orang-orang yang patut dicurigai dan yang tidak mempercayainya. Guna menunjang kekuatan Kim Il-sung, PKT pada 1947 menarik 2 batalyon dari Resimen II dan Brigade I Garnisun Judong, total 1.200 personil “dikirim” ke Korea.

Setelah berhasil menumpas Hyun Jun-he dari perwakilan Komunis Korea dan Cho Man-sik dari perwakilan Nasionalis, Kim Il-sung telah mengendalikan kekuasaan tertinggi dan pada 1948 mendirikan rezim baru.

Akan tetapi, Kim merasa tidak puas hanya menguasai wilayah utara dari semenanjung Korea saja, ia pun bermimpi mencaplok wilayah selatan, dan mewujudkan persatuan Korea. Setelah memperoleh persetujuan dari Stalin, mulailah Kim merencanakan pencaplokan Korea Selatan.

Pada awal 1949 merasa kekuatan militernya belum memadai, Kim mengirim utusan ke Beijing dengan misi permohonan 3 divisi etnis Korea yang berada di bawah komando Tentara Medan IV pimpinan Lin Biao untuk diserahkan kepada Tentara Rakyat Korea.

Menurut data deskripsi arsip negara Rusia, isi telegram dari Kovalev mengenai hasil pertemuan Mao Zedong dengan duta dari Korut (18/05/1949) kepada Stalin (pimpinan PKUS): ”Tentang masalah bantuan kader dan persenjataan kepada pasukan Korut, kamerad Mao mengatakan, dapat memberi bantuan tersebut. Di Timur Laut Tiongkok terdapat 2 juta penduduk etnis Korea, mereka telah membentuk 2 divisi pasukan etnis Korea (setiap divisi 10.000 personil), satu diantaranya telah memiliki pengalaman tempur. … Selain itu, kami telah melatih 200 perwira, mereka sedang menjalani pelatihan tambahan, sebulan kemudian sudah dapat dikirim ke Korut. Jika pecah perang antara Korea Utara dan Selatan, kami akan memberi segala bantuan yang bisa dilakukan, terutama mengenai perbekalan dan persenjataan yang diperlukan oleh 2 divisi tersebut.”

Menurut laporan, demi memenuhi kebutuhan Kim Il-Sung, pada 18/06/1949 Komite PKT Provinsi Jilin dituntut dalam satu bulan memperbanyak anggota baru pasukan etnis Korea sebesar 1.500 personil, usia 17 – 30 tahun.

Pada 20 Juli 1949, divisi 164 dan 166 dari pasukanPKT pimpinan Lin Biao dengan seluruh perlengkapan tempurnya memasuki wilayah Korut dan disusun sebagai divisi 5 dan divisi 6 Tentara Rakyat Korut.

Pada 18 April 1950, PKT membentuk lagi divisi 156, ditambah prajurut etnis Korea yang berada dalam divisi 139, 140 dan 141, dibentuk menjadi sebuah divisi infanteri, membawahi 2 resimen infantri, sebuah brigade mekanik dan sebuah divisi sepeda motor, dengan membawa seluruh pelengkapan tempurnya tiba di Yuan shan Korut, dibentuk menjadi divisi 7 Tentara Rakyat Korut.

Sedangkan di lain susunan pasukan Korut juga terdapat brigade pasukan PKT.

Sampai disitu, kekuatan pasukan yang diberikan PKT kepada Kim Il-Sung telah mencapai 3 divisi infantri, total 37.000 personil. Setelah mendapat bantuan massive dari PKT, 2 bulan kemudian (25/06/1950) Kim memulai serangan dadakannya terhadap Korea bagian selatan.

Korsel yang tidak melakukan persiapan sama sekali, dengan cepat dipukul mundur oleh Tentara Rakyat Korut hingga ke ujung selatan Semenanjung Korea oleh divisi-6 (asalnya adalah divisi 166 PKT) yang kekuatan utamanya adalah pasukan PKT.

Tindakan agresi Kim Il-sung mendapat kecaman dari masyarakat internasional, PBB mengeluarkan sebuah resolusi yang memutuskan untuk mengirim pasukan ke Semenanjung Korea, membantu Korea Selatan memukul mundur agresi Korut.

Setelah pasukan Amerika mendarat, 100.000 pasukan Korut ketika dipukul mundur hingga kembali ke utara garis demarkasi militer lintang 38 °, disaat itu pasukan Korut hanya tersisa kurang dari 30.000 personil, kekuatan utama pasukan Tentara Rakyat Korut telah lenyap dan tidak eksis lagi.

Yang mengenaskan adalah pimpinan pasukan PKT setingkat divisi yang ikut dalam pertempuran dan masih bertahan hidup, telah mengalami tuntutan penanggung-jawaban. Seperti Jin Wuting, komandan brigade dari Korps Tentara II yang ikut dalam pertempuran, dicopot dari semua kedudukkannya dan dipecat dari militer, akhirnya muntah darah dan meninggal.

Komandan Brigade JinXiong setelah mengalami kekalahan, mengajak beberapa stafnya melakukan perang gerilya di pegunungan Taibai, belakangan bergabung kembali dengan Pasukan Relawan RRT dan menjabat wakil panglima pasukan. Setalah perang Korea usai, Jin Xiong mengalami perhitungan dengan dituduh sebagai anasir reaksioner pemecah belah.

Selain itu, pimpinan teras divisi 6 Fang Hushan dan Li Quanwu juga mengalami penuntutan oleh Kim Il-sung atas tanggungjawab kekalahannya, Fang kemudian dianggap sebagai oknum reaksioner anti partai sedangkan Li Hushan dijatuhi hukuman mati.

Ketika masyarakat di daratan Tiongkok mengetahui apa yang disebut oleh PKT sebagai “Mendukung Korea Melawan Amerika”,  sesungguhnya adalah membantu Korut melakukan perang agresi, bagaimanakah kesan mereka?

Ketika para pemimpin dan prajurit yang tewas di medan perang di negeri orang atau nasib mereka yang berakhir dengan amat mengenaskan, karena diperalat oleh PKT dan Kim Il-Sung sebagai serdadu umpan meriam, bagaimana meraka bersikap?

Bagi PKT, jelas sekali selamanya rakyat hanyalah sebagai alat pemanfaat untuk memuaskan ambisi mereka, dan hingga kini tidak sedikit orang Tiongkok masih saja tidak menyadari sedang diperalat oleh PKT.  (whs/rp)

TAMAT

Share

Video Popular