Oleh: Xia Xiaoqiang

Baru-baru ini atlet duel campuran (Mix Martial Art, MMA) Tiongkok bernama Xu Xiaodong menantang seorang master Taichi Lei Lei (Lei Gong), hanya dalam tempo 20 detik Lei berhasil dikalahkan. Rekaman video serangan yang bertubi-tubi dari Xu Xiaodong, berikut Lei Lei tak kuasa menangkis dan terjatuh dan sempat dihajar beredar cepat di internet dan memicu pembicaraan hangat terkait wushu tradisional Tiongkok.

Xu Xiaodong (37) dijuluki sebagai “petarung MMA nomor satu RRT”, juga disebut Fighting Madman, ia kerap mengkritik wushu tradisional lemah tak berdaya, tidak memiliki kemampuan tarung yang nyata, dan mayoritas master wushu hanya menyandang gelar kosong.

Saat diwawancarai, Xu Xiaodong menyebutkan, bukannya ia tidak mengakui wushu tradisional Tiongkok, tapi hanya ingin mendobrak kalangan wushu tertentu yang suka mengelabuhi publik di RRT, termasuk juga sejumlah master Taichi.

Pada 2010, seorang murid awam budis dengan julukan “bhiksu bela diri nomor satu Shaolin” bernama Yi Long, di ajang kompetisi duel dengan petarung dari AS di Las Vegas, pada detik ke-44 ronde kedua Yilong dipukul bagian kepalanya oleh tinju kiri Groot yang berprofesi sebagai polisi. Ia  lalu roboh dan oleh wasit divonis tak mampu melanjutkan pertarungan. Waktu itu kejadian itu juga sempat memicu pembicaraan hangat seputar wushu tradisional Tiongkok.

Pihak luar banyak yang berpendapat, pertandingan wushu tradisional melawan beladiri modern seperti itu, dengan hasil akhir wushu tradisional kalah telak. Sebenarnya ungkapan ini sendiri adalah pernyataan yang keliru.  Lei Lei konon sebagai “pewaris jurus Taichi marga Yang” tidak bisa mewakili wushu tradisional, dan sekarang di Tiongkok, wushu tradisional selain diwarisi secara diam-diam oleh segelintir orang dan tidak diketahui pihak luar. Selebihnya telah punah. Jurus wushu tradisional yang sekarang banyak beredar di tengah masyarakat juga telah kehilangan intisarinya.

 PKT Ubah Intisari Wushu Tradisional

Wushu Tiongkok memiliki sejarah yang panjang, yang bisa ditelusuri hingga ke Dinasti Shang dan Dinasti Zhou. Meskipun latihan wushu telah beredar selama ribuan tahun di Tiongkok, namun kosa kata wushu sendiri baru pada zaman akhir dinasti Qing awal masa Republik (1910-an) lebih kerap muncul sebagai kosa kata. Kata “shu (術)” sendiri dulunya selalu mengandung makna seni.

Wushu adalah bagian dari kebudayaan tradisional, walaupun wushu dari tingkatan umum adalah semacam ilmu seni beladiri, namun jika hendak mencapai tingkatan yang sangat tinggi, para muridnya dituntut untuk memenuhi kriteria sangat tinggi, yang sejalan dengan kepribadian/akhlak dan perilaku seorang praktisi wushu yang sebenarnya. Seorang praktisi beladiri yang telah mencapai tingkatan tinggi, tidak akan semudah itu melukai orang lain apalagi hanya untuk mencari nama. Jadi jika dipisahkan, kata “wu (武)” dalam aksara Tiongkok terdiri dari unsur “zhi (止)” yang artinya menghentikan, dan unsur “ge (戈)” yang artinya senjata (mirip tombak), mungkin ini bukan kebetulan.

Sesungguhnya, Wushu tradisional Tiongkok telah punah, penyebab utamanya adalah setelah PKT berkuasa pada 1949, secara sistematis kebudayaan tradisional Tiongkok pun dirusak, salah satunya adalah wushu, sejumlah pakar wushu tradisional tulen dicap sebagai aliran sesat reaksioner dan dieksekusi mati.

Wushu RRT yang telah dimodifikasi oleh Komite Olahraga Nasional PKT (sejak tahun 1950-an) telah hampir kehilangan intisari sejati wushu tradisionalnya. Jurus aliran wushu tradisional semuanya telah dirombak menjadi jurus untuk kompetisi. Jurus antara aliran wushu tradisional dengan aliran kompetisi modern sangat berbeda: aliran tradisional mengutamakan menempa diri dan mentalitas ditambah penerapan nyata, sedangkan aliran kompetisi lebih mengejar keindahan gerakan.

Aliran tradisional digunakan untuk meningkatkan kualitas diri, sedangkan aliran kompetisi digunakan untuk mencari medali. Daya tarik aliran tradisional terletak pada jiwa spiritual setelah meningkatkan diri, sedangkan aliran kompetisi hanyalah semacam olahraga yang indah dengan gerakan akrobat tingkat tinggi.

Aliran kompetisi sangat bertolak belakang dengan aliran tradisional, dan aliran kompetisi yang dirombak oleh Komite Olahraga telah menjadi satu-satunya modal bagi atlet untuk mencari uang, ini menyebabkan wushu tradisional punah.

Dunia Persilatan Yang Telah Tiada

Pada 2009 sebuah buku berjudul “Dunia Persilatan Yang Telah Tiada” beredar dan menggemparkan kalangan wushu di Tiongkok. Tidak ada yang mengira, seorang manula berusia hampir 50 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai penjaga pintu di sebuah toko elektronik di Xidan, Beijing, ternyata adalah seorang master wushu berilmu tinggi, yang pernah berguru pada tiga orang master aliran Xing Yi (形意拳) yakni Tang Weilu, Shang Yunxiang dan Xue Dian. Orang tua itu adalah Li Zhongxuan (李仲軒).

Li Zhongxuan (1915-2004), warga Hexian provinsi Tianjin, murid dari master Xing Yi yakni Tang Weilu, Shang yunxiang, dan Xue Dian, di dunia persilatan ia dijuluki “Tuan Kedua”. Keluarga dari ayah maupun ibunya adalah keluarga pejabat di wilayah Beijing dan Tianjin, karena harus mentaati aturan perguruan “tidak boleh ada status sebagai pejabat bagi pesilat”. Li pun melepaskan peluangnya menjadi pejabat. Di usia 34 tahun Li telah mundur dari dunia persilatan, dan ia menepati sumpahnya pada gurunya master Shang Yunxiang, seumur hidup tidak boleh menerima murid.

Selama masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976), Li Zhongxuan mengalami banyak tekanan, sempat juga mengalami 19 tahun dicuci otak di kamp kerja paksa oleh partai komunis. Tiga orang gurunya dari aliran Xing Yi, Tang Weilu, Shang Yunxiang dan Xue Dian, adalah murid dari Golok Tunggal Li Cunyi, status mereka di dunia persilatan setara dengan status Zhang Daqian dan Xu Beihong di dunia seni.

Shang Yunxiang (尚雲祥) sangat dihormati di kalangan teman, dan master kontemporer Sun Lutang yang menyebutnya berlatih wushu telah mencapai tingkat “jiwa dan raga menakjubkan, dan menyatu sejati dengan Tao”. Sedangkan Sun Lutang (孫祿堂 1860-1933) sendiri adalah guru besar yang sangat berbakat dan mampu menggabungkan jurus-jurus dari aliran Xing Yi, Taichi dan Ba Gua ke tingkat setengah dewa serta dijuluki master nomor satu di Tiongkok.

Di masa tua Li Zhongxuan menulis serangkaian artikel di majalah “Spirit of Martial Arts”, mempublikasikan data sejarah dan prinsip jurus yang berharga. Ia disebut-sebut sebagai “saksi hidup terakhir dari periode puncak dunia wushu Tiongkok”, tulisannya mengundang reaksi dari seluruh kalangan seni beladiri (wushu) di RRT.

Li Zhongxuan mengungkapkan secara verbal sebanyak 28 seri artikel satu persatu, lewat pengalaman yang kaya dan pemahamannya dalam berlatih, tidak hanya mengungkapkan fakta dunia persilatan yang telah lama hilang puluhan tahun silam, juga memaparkan setiap intisari dan arti sebenarnya dari latihan wushu Tiongkok dari dasar sampai ke tingkat paling atas. Sebuah jalan menuju peningkatan pun menjadi terpampang jelas di hadapan masyarakat waktu itu. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular