Semua orang tahu saat ini RRT adalah negara pemalsu terbesar. Tetapi barangkali tidak jelas bahwa ternyata juga memproduksi narkotika dan obat palsu yang telah menyebar begitu luas.

Semua juga tahu Partai Komunis Tiongkok/PKT suka menghamburkan uang hasil keringat rakyat untuk negara-negara Afrika, tapi tidak tahu kalau rakyat miskin Afrika begitu membenci tapi sekaligus cinta pada orang Tionghoa.

Tiongkok di bawah pemerintahan PKT, tidak ada lagi batasan moralitas dan tradisi. Pada saat semua orang hanya melihat segi materi, kejahatan antar negara yang melibatkan mulai dari pejabat hingga rakyat pun terus bermunculan.

Menurut laporan yang dirilis oleh organisasi non-komersil AS yakni Global Financial Integrity baru-baru ini mengenai “Transnational Crime and the Developing Country” (selanjutnya disingkat trans-crime) diumumkan 11 jenis kejahatan antar negara.

Di RRT saja terdapat 10 jenis kejahatan di antaranya, antara lain narkotika, senjata, perdagangan manusia, organ tubuh, artefak budaya, produk palsu dan kegiatan jual beli produk bajakan; ada juga perdagangan ilegal satwa liar, ikan tangkapan, pembalakan kayu, serta hasil tambang.

Laporan menyebutkan ketamakan terhadap uang adalah motivasi utama terjadinya kegiatan ini. Nilai transaksi trans-crime di seluruh dunia mencapai USD 1,6 (21,3 triliun rupiah) hingga 2,2 milyar (29,3 triliun rupiah) setiap tahunnya.

Semua uang itu tidak hanya telah masuk ke dalam kantong para pelaku, sekaligus menumbuhkan kejahatan finansial dan korupsi, juga menggerogoti perekonomian negara dan merusak lingkungan alam, bahkan secara langsung telah merusak kesehatan warga.

Kejahatan trans-crime ini umumnya dilakukan oleh kelompok kejahatan yang terorganisir (OCGs), seperti mafia di dalam film “Godfather”: memiliki struktur berjenjang yang ketat, korelasi keluarga atau ras, juga banyak wanita cantik di sekitarnya.

Menurut Konvensi PBB mengenai definisi kelompok trans-crime, OCGs adalah organisasi berstruktur yang mewakili tiga orang atau lebih, eksis selama satu kurun waktu lalu melakukan aksi yang secara langsung atau tidak langsung mendapat keuntungan ekonomi atau materi, serta melakukan satu macam atau banyak macam kejahatan serius.

Dari panduan perdagangan luar negeri PKT, di satu sisi tahu tapi membiarkan saja trans-crime ilegal itu dalam skala besar. Di sisi lain tidak peduli dengan keamanan warganya di luar negeri juga kerusakan lingkungan di luar negeri. Berikut ini pemaparan trans-crime dari enam jenis kejahatan trans-crime yakni perdagangan narkoba, organ tubuh, dan barang palsu (terutama obat-obatan palsu), penyelundupan produk flora fauna liar serta hasil tambang ilegal, yang melibatkan PKT.

1. Perdagangan Narkoba: Bahan Baku Sabu-Sabu Bisa Dipesan Langsung dari RRT

Sejumlah perusahaan farmasi di RRT turut serta membuat narkotika jenis sintetis baru dan memasarkannya di seluruh dunia, bahan baku untuk membuat narkotika bisa dipesan langsung lewat internet. Pada  saat yang sama pemerintah PKT sama sekali tidak berniat mengendalikan perdagangan bahan kimia.

Tidak adanya tindakan PKT terhadap narkotika sintetis baru berarti tantangan baru yang dihadapi oleh penegak hukum negara lain. Jika tidak bisa menghentikan aliran bahan baku narkotika sintetis baru dari sumbernya, maka larangan narkoba di seluruh dunia akan seperti kucing mencoba menangkap tikus.

Narkotika konvensional seperti heroin dan kokain harus mengandalkan daerah dengan letak geografis yang unik untuk menghasilkannya. Namun narkotika jenis baru (seperti marijuana, ekstasi dan sabu-sabu yang tergolong tipe amphetamine (ATS) serta tipe zat psiko-aktif (NPS) sudah tidak lagi dibatasi oleh wilayah untuk memproduksinya. Mayoritas produksi bisa dilakukan secara setempat atau di sekitarnya, jadi dengan biaya transaksi bisa diturunkan, harga jualnya pun menjadi lebih rendah.

Penegak hukum di setiap negara membenarkan, narkotika jenis baru ini jauh lebih berbahaya daripada narkotika konvensional.

“Dan peran RRT dalam hal ini sebenarnya telah mendorong aksi kejahatan OCGs di Meksiko dan Amerika Latin,” kata Dosen honorer di US Army War College, Dr. Robert J. Bunker menjawab pertanyaan surat kabar Dajiyuan (Epoch Times dalam bahasa Tionghoa) via surel.

Bunker mengatakan, kondisi sebenarnya adalah, rezim PKT dengan pejabat korupnya yang sangat banyak  (banyak di antara mereka ada kaitannya dengan OCGs) bisa dikatakan mereka menjual apa saja, mulai dari senjata, bahan kimia untuk membuat narkoba, barang palsu, perjudian hingga ke pencucian uang, selama bisa mendapat keuntungan, mereka akan menyediakan segala bentuk layanan.

Kelompok kejahatan RRT ini mengirimkan kimia bahan baku narkoba ini secara legal ke luar negeri, seperti ke OCGs di Meksiko dan di Amerika Latin atau pengguna (narkoba), lalu dijadikan sabu-sabu,  menyebabkan narkotika jenis sintetis baru ini diproduksi di berbagai penjuru dunia dan merajalela. Saat ini RRT merupakan negara pemasok kimia bahan pembuat narkotika baru terbesar dunia.

Menurut data dari US Federal Drugs Enforcement Bureau, sebanyak 90% sabu-sabu yang dikonsumsi di Amerika berasal dari pengedar Meksiko, sedangkan sebanyak 80% bahan baku yang digunakan untuk membuat sabu-sabu di Meksiko berasal dari RRT.

Karena kurangnya ketegasan hukum dan tidak transparannya pengawasan, RRT yang memiliki bahan kimia serta industri obat-obatan yang mumpuni, sangat mudah baginya untuk memproduksi dan juga memasarkan narkotika jenis baru ini dibandingkan negara-negara lain.

Seperti bahan baku untuk membuat sabu-sabu, di antaranya adalah efredin dan flaxseed, juga ada obat sintetis lainnya, banyak di antaranya yang bisa dibeli dari luar negeri secara langsung di RRT lewat internet.

Tapi pemerintah RRT belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan ekspor bahan-bahan tersebut.

Seperti terhadap 30 jenis bahan kimia yang diperlukan dalam pembuatan sabu-sabu, PKT hanya menerapkan semacam tindakan pengawasan saja. Sementara pejabat PKT secara langsung menyatakan: sabu-sabu adalah masalah narkoba negara lain/masing-masing.

Kedubes Meksiko di RRT Jorge Guajardo yang berupaya bekerjasama dengan PKT untuk menghentikan penyelundupan narkoba di Meksiko mengatakan pada surat kabar “New York Times”, selama dirinya menjabat sebagai dubes, “RRT belum pernah menunjukkan niat untuk menyelidiki ekspor bahan kimia bahan baku narkoba (bahan pelopornya) tersebut. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG

 Sumber Dajiyuan

Share

Video Popular