Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Jika Amerika Serikat mengambil tindakan militer terhadap Korea Utara, Republik Rakyat Tiongkok pasti akan diam berpangku tangan. Yang disanggupi oleh RRT, himbauan terakhir Xi Jinping terhadap Korea Utara, seharusnya sudah merupakan peringatan terakhir, agar Kim Jong-Un melepaskan rezimnya, bahkan menghimbau Kim agar mengasingkan diri ke luar negeri.

Tapi Kim dipastikan tidak akan mengindahkan, jika demikian halnya RRT malah senang dan tidak akan intervensi lagi serta membiarkan AS bertindak.

Dulu Stalin dari komunis Soviet menyeret RRT ke dalam Perang Korea, pihak RRT kehilangan ratusan ribu serdadu, Semenanjung Korea pun kembali ke kondisi sebelum perang, tetap terpecah antara utara dan selatan.

Kini, Xi Jinping tentu tidak akan mengulangi tragedi yang sama. Situasi internasional memang begitu aneh, dulunya RRT dan AS berseteru dan bentrok di semenanjung Korea, yang disebut “mendukung Korut melawan AS”. Dan kali ini RRT kembali berhadapan dengan AS di Semenanjung Korea, mungkin sebutannya berubah menjadi “mendukung AS melawan Korut” atau “bersatu dengan AS memusnahkan Korut”.

Langkah berikutnya, RRT mungkin terpaksa harus membatalkan “Kesepakatan Kerjasama Saling Membantu Persahabatan RRT-Korut” yang ditandatangani oleh Zhou Enlai dan Kim Il-Sung pada 11 Juli 1961. Dalam kesepakatan itu ada ikatan bila salah satu pihak dalam keadaan perang, maka pihak lainnya harus “sepenuhnya memberikan bantuan militer dan bantuan lainnya”.

Kedua belah pihak tidak boleh ikut serta dalam aliansi, kelompok, tindakan atau aksi oleh musuh salah satu pihak dan lain-lain. Sebenarnya RRT sudah cukup lama tidak mematuhi kesepakatan ini! Bukankah ketika PBB memberikan sanksi pada Korut atas senjata nuklirnya, Beijing secara langsung telah melanggar isi di dalam “kesepakatan” tersebut yang menyatakan “kedua belah pihak tidak boleh ikut serta dalam aliansi, kelompok, tindakan atau aksi oleh musuh salah satu pihak.”

Kesepakatan itu telah mengalami dua kali perpanjangan secara otomatis, dan kali ini berlaku sampai tahun 2021, masih ada empat tahun lagi. Tapi Kim Jong-Un mungkin sudah menyadari, dirinya sudah tidak punya waktu empat tahun lagi!

Melepaskan Korut berarti melepaskan rezim komunis di Korea Utara, berarti meninggalkan adik kecil PKT, sehingga jumlah negara komunis semakin sedikit saja. Selain Korea Utara, Kuba dan Vietnam juga sedang berubah, ini menandakan komunisme akan punah dari muka bumi ini.

Inilah saatnya bagi RRT untuk meninggalkan komunisme. Media massa Rusia mengatakan, Beijing telah menempatkan 150.000 serdadunya di perbatasan Korut, pakar mengatakan Beijing telah mulai berkoordinasi dengan Washington atas masalah Korea Utara, begitu perang meletus, Tiongkok akan “memanfaatkan peluang itu untuk menduduki Korut”.

Padahal RRT sendiri sudah tidak mampu mengurusi orang lain, sekarang seharusnya belum timbul keinginan untuk itu.

Mengapa RRT dan Korut menjadi bermusuhan? Bukankah Korut merupakan sahabat perang PKT yang senasib sepenanggungan? Bukankah Korut sangat mengandalkan Beijing dalam hal ekonomi? Jika RRT masih menganggap Korut sebagai peredam strategisnya, maka seharusnya RRT tidak akan melepaskan sekutunya tersebut, bukankah demikian?

Kisahnya harus berkilas-balik di era 1980-an, hanya ada sedikit interaksi antara RRT dengan Korsel. Pada Juni 1989 Beijing membantai pelajar di Tiananmen, Korut langsung menyatakan dukungan, sementara Korsel tidak bersikap.

Pada saat Eropa dan Amerika menekan Beijing dengan sanksi, ekonomi RRT menghadapi krisis dan membutuhkan pasar ekspor, karena letak geografis dan kondisi ekonominya, serta hubungan alaminya dengan suku Korea di wilayah timur laut Tiongkok, maka dengan sendirinya menjadi penolong bagi perekonomian RRT, maka RRT dan Korsel pun menjalin hubungan diplomatik pada  1992. Hingga 2004, RRT telah menjadi rekan dagang yang penting bagi Korsel.

Setelah Korsel dan AS mencapai kesepakatan perdagangan bebas pada 2007, RRT juga membuat kesepakatan perdagangan bebas dengan Korsel. Sejak tahun 2010, dalam telegram AS yang dibocorkan disebutkan, pejabat tinggi Beijing memberitahu wakil Menlu Korsel bahwa RRT mendukung Korea Bersatu yang dipimpin oleh Korsel jika negara ini tidak menjadi ancaman bagi Beijing.

Bisa dibayangkan kemarahan dan rasa tidak senang Korut terhadap RRT. Media Korut menyebutkan, RRT telah “tunduk” pada Amerika, dan menjadi pion bagi Amerika untuk menyerang Korut.

Di hari berakhirnya pertemuan Trump dan Xi, Trump telah menelepon pejabat presiden sementara Korsel Hwang Kyo-Anh yang menjelaskan tiga Batasan Tiongkok dalam menyelesaikan masalah Korea Selatan.

Pemberantasan nuklir milik Korut tidak boleh menyebabkan pencemaran di wilayah timur laut Tiongkok, RRT tidak bisa menerima jumlah pengungsi yang membanjir akibat pergolakan, di seberang Sungai Yalu tidak boleh tercipta rezim yang memusuhi Beijing, dan pasukan AS juga tidak boleh mendekat ke tepi Sungai Yalu.

Ketiga batasan ini bagi AS maupun Korsel sama sekali bukan masalah. AS memiliki intelijensi dan sistem serangan udara yang presisi, kecil kemungkinannya mengakibatkan kebocoran radiasi sampai mencapai Tiongkok.

RRT juga memiliki tentara dan polisi yang memadai untuk berjaga-jaga di sepanjang Sungai Yalu, untuk menghadang arus pengungsi Korut masuk ke Tiongkok. Lokasi yang paling memungkinkan untuk dituju oleh para pengungsi Korut adalah wilayah timur jauh Rusia. Setelah rezim Kim Jong-Un runtuh, Korea Selatan akan mengendalikan seluruh wilayah Korea Utara, pada dasarnya ini adalah tujuan dari dukungan Tiongkok, yang berarti bersatunya seluruh Semenanjung Korea tidak akan menjadi ancaman bagi Tiongkok.

Terobosan senjata modern dan jarak jangkauannya telah membuat Korut yang dianggap sebagai “peredam strategis” menjadi tidak berarti lagi. Dengan bersatunya Semenanjung Korea, AS sudah tidak perlu menempatkan pasukannya di sana, juga tidak mungkin mendekat hingga ke Sungai Yalu. Jadi ketiga batasan RRT terkait masalah Korut ini tidak akan dilanggar, sikap Beijing atas agresi AS terhadap Korut pun akan menjadi berpangku tangan, hanya sebagai penonton saja.

Kelompok yang paling takut dan paling sensitif atas ditinggalkannya kebijakan anti-Amerika oleh RRT dan dipercepatnya langkah meninggalkan komunisme, tentu saja adalah kekuatan golongan kiri-ekstrem pengikut Mao dan pengikut Jiang, serta sisa kelompok yang berkepentingan di dalam PKT.

Langkah berikutnya mereka akan balas menyerang, dan bersatunya ketiga kelompok ini akan menekan Xi Jinping untuk terus anti-Amerika guna memperpanjang usia PKT.

Para pengamat dari pengikut Mao dan kubu Jiang telah melihat perubahan orientasi yang hebat ini, mereka mempertanyakan, terhadap sanksi ekonomi atas Suriah saja RRT selama ini terus menentangnya, mengapa justru menjadi “memahami” serangan militer (terhadap Suriah) tersebut?

Pada masalah Suriah, Beijing memberikan suara abstain, menandakan perubahan besar sikap RRT. Sebelumnya sebanyak 6 kali berturut-turut Beijing terus memveto resolusi masalah Suriah. Pengikut Mao meratapi kesepakatan Trump-Xi atas masalah Korut: “Korut telah dikhianati, para serdadu relawan yang tewas di medan perang (1950-1953) pun mati sia-sia.”

Ada juga pengikut Mao yang berpendapat, “Merusak hubungan RRT-Rusia seperti ini, menandakan banyak orang tak becus di sisi presiden, yang tidak bisa melihat permasalahan yang sebenarnya”.

Yang dimaksud dengan “banyak hal-hal yang sangat buruk akan sirna” oleh Trump, yang paling memungkinkan adalah menumpas sisa kekuatan paham dan rezim komunis baik di Tiongkok maupun di Korea Utara. “Pengaturan sempurna” dari Xi Jinping mungkin adalah cara untuk mencapai tujuan ini.

Pertemuan Trump-Xi di Sea Lake Manor yang “inovatif” terletak pada cara Xi berkunjung ke Finlandia terlebih dahulu, lalu “sekalian mampir” ke Amerika. Mengelabuhi sistem rezim PKT dan mengatasi berbagai rintangan, menggunakan cara “kunjungan negara” tidak resmi.

Tapi jauh lebih efektif daripada kunjungan kenegaraan yang resmi. Pengaturan yang sempurna, kemungkinan terbesar adalah menyampaikan pesan perubahan orientasi atas masalah AS, dan mencerai-beraikan PKT serta rencana dan tekadnya untuk meninggalkan PKT.

Dari sekian celoteh pengikut Mao ada satu yang menarik, “Xi adalah Khrushchev masa kini”. Sebenarnya yang dimaksud disini mungkin posisi bersejarah XI! Tindakan terbesar Khrushchev yang notabene adalah penerus Stalin yakni, menerapkan serangkaian “kebijakan anti-Stalin” di zaman Uni Soviet dulu, yang merehabilitasi nama baik para korban pembersihan penentang Stalin/partai komunis. Mungkinkah Xi Jinping akan melakukan hal itu? Mari kita nantikan bersama. Sud/whs/rmat)

TAMAT

Share

Video Popular