Erabaru.net. Tiongkok menghubungi Korea Utara/ Korut untuk menghentikan aktivitas nuklir dan rudalnya, serta AS dan Korea Selatan agar menahan diri untuk melakukan latihan militer bersama.

Menteri Luar Negeri Wang Yi berbicara di pertemuan menteri negara Dewan Keamanan PBB, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan senjata militer yang sedang dikembangkan Pyongyang, diiringi dengan meningkatnya  ketegangan di wilayah tersebut.

Wang memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer  hanya akan menyebabkan bencana yang lebih buruk.

Washington menekankan perlunya keberadaan Tiongkok untuk menekan Korut, namun Wang merespon bahwa sejatinya tak hanya Tiongkok, namun seluruh negara harus bersama menekan Korut mengenai pengembangan program senjata pemusnah masal.

Dia mengatakan perlu diadakan dialog dan kompromi yang melibatkan kedua belah pihak.

Wang mengajukan kembali sebuah proposal yang ditujukan kepada Pyongyang untuk menangguhkan program nuklir dan rudalnya dengan imbalan penangguhan latihan militer AS.- Korea Selatan, yang sebelumnya telah ditolak oleh negara sekutunya.

Sekretaris Jenderal PBB khawatirkan pecahnya perang

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan dia telah memperingatkan resiko eskalasi militer di kawasan Asia Timur, termasuk salah perhitungan dan salah paham, sebagai hasil percepatan aktivitas pengembangan program nuklir dan rudal balistik yang dilakukan Korea  .

Dia mengutuk keras tindakan Korut yang menolak tuntutan Dewan Keamanan PBB agar menghentikan program nuklir dan rudalnya.

Guterres menambahkan bahwa gambar yang diambil dari satelit komersial mengindikasikan bahwa kondisi Korut saat ini tengah bersiap melakukan uji coba senjata nuklir tambahan.

Dia mendorong agar komunitas internasional juga turut andil dalam mencegah konflik dan lebih berusaha dalam membangun stabilitas perdamaian global.

Tak lupa, Guterres juga memberi peringatan kepada Korut agar menahan diri untuk tidak melakukan uji coba nuklir selanjutnya, sesuai dengan resolusi PBB dan memulai pembicaraan perdamaian kembali.

“Ini berarti membuka kembali dan memperkuat saluran komunikasi antara Korea Utara dengan negara lain, terutama militer dengan militer, untuk meminimalisir resiko terjadinya kesalahan perhitungan ataupun kesalahpahaman,” kata Guterres.

Seruan Tillerson untuk berikan sanksi

Sekretaris Negara Rex Tillerson mendesak diberikannya sanksi baru untuk Korut pada pertemuan PBB.

Dia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa kegagalan dalam bertindak melawan program senjata Korut dapat menyebabkan “bencana.besar”.

Tillerson menyerukan kepada komunitas global untuk meningkatkan isolasi keuangan terhadap Korea Utara. Dia juga menyebutkan sanksi baru juga perlu  untuk melawan entitas dan individu yang mendukung program nuklir dan rudal Korea Utara, serta lebih memperketat pengawasan terhadap penegakkan sanksi-sanksi tersebut bagi Korea Utara dan pendukungnya.

Dia menambahkan AS tidak akan ragu dalam menjatuhkan sanksi kepada negara lain yang mendukung aktivitas ilegal Korea Utara. Bahkan, AS akan mencari tahu lebih dalam terkait peran Tiongkok sebagai mitra dagang utama Korut.

Tillerson juga memperingatkan negara-negara agar menurunkan intensitas hubungan diplomatik dengan Pyongyang.

“Mengatasi masalah keamanan global adalah hal yang paling mendesak di dunia saat ini, dan jika gagal maka dapat membawa dampak bencana besar bagi dunia,” katanya.

Menteri Rusia Katakan Ketakutan Dunia Jika Perang Terjadi

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Gennady Gatilov mengatakan kondisi retorika agresif ditambah dengan pelenturan otot secara sembrono yang terjadi di Korea Utara telah menyebabkan situasi dimana dunia bertanya-tanya apakah perang akan segera terjadi.

Gatilov memperingatkan pada pertemuan menteri negara Dewan Keamanan PBB Jumat lalu, bahwa jika salah mengambil atau menyalahartikan satu langkah, maka dapat menyebabkan konsekuensi yang paling menakutkan dan menyedihkan bagi keamanan internasional.

Dia mengatakan saat ini Rusia kerap melihat situasi yang berkembang di kawasan “panas” ini dan mengutuk keras uji coba nuklir dan rudal balistik yang dilakukan Pyongyang. Secara geografis, Rusia adalah tetangga Korut.

Tetapi Gatilov menekankan kemungkinan Korut tidak akan menghentikan program senjata nuklirnya selama masih bisa menjadi penangkal ancaman langsung bagi keamanan Korut. Dan dia menambahkan segala sanksi dan tekanan yang ditujukan pada Pyongyang tidak akan menyelesaikan isu ini. (jul/rp)

Share

Video Popular