Sang Raja Menepati Janji Masa Kecil, Menikahi Gadis yang 10 Tahun Lebih Muda, Kisah Nyata Bak Dongeng

533

Erabaru.net. Ada satu negeri di dunia ini yang dikenal sebagai negara dengan indeks GDP tertinggi. Raja di negara ini mengatakan, “Kami tidak perlu GDP, yang penting rakyat bisa bahagia, itu sudah cukup!”

Meskipun mereka tidak dilimpahi sumber alam yang melimpah. Tapi rakyat di sana hidup bahagia. Raut wajah setiap orang di sini. Selalu diiringi dengan senyum bahagia yang paling murni alami.

Negara ini adalah Bhutan. Ada banyak alasan yang membuat orang-orang di negeri ini hidup bahagia. Tapi yang paling penting adalah Raja mereka yang paling dihormati. Bukan saja sangat dekat dengan rakyatnya tapi juga berwibawa.


Selain sebagai seorang raja dari segenap negerinya. Dia adalah seorang siswa yang cerdas, pernah mengecap pendidikan di Boston University, AS. Serta Oxford University, Inggris. Setelah mendapat sambutan yang meriah dari segenap rakyatnya setelah dinobatkan sebagai Raja Bhutan. Sang raja kerap blusukan ke berbagai desa melihat-lihat kondisi rakyatnya.

Nama raja Bhutan ini sangat panjang, yaitu disebut Jigme Khesar Namgyel Wangchuck. Dia dijuluki sebagai raja termuda dan paling tampan setelah tahun tahun 80-an.

Dari latar belakang dan berbagai sisi yang dimilikinya. Maka ratunya haruslah seseorang yang serba hebat baru layak bersanding dengannya.Tapi jodohnya datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Ketika itu ia baru berusia 17 tahun, dan seorang pangeran.

Tapi sosoknya yang bersahaja ketika itu membuat orang-orang tidak mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Suatu hari dalam suatu jamuan pribadi. Ia langsung jatuh hati pada pandangan pertama dengan seorang gadis kecil.

Foto Jetsun Pema semasa kanak-kanak.

Gadis itu adalah Jetsun Pema. Dia mengenang suasananya ketika itu.

Ketika itu, dia menjauhkan diri dari keramaian dan duduk sendirian di atas hamparan rumput, dan kebetulan pada saat itu seorang gadis kecil berusia 7 tahun bersama dengan adik perempuan dan temannya muncul di hadapannya.

Gadis kecil yang terlihat tidak biasa itu adalah Jetsun Pema, tiba-tiba saja ia berjalan ke hadapan sang pangeran, dan sambil mencengkram tangannya ia berkata, “Bawalah aku pergi!”

Sang pangeran merasa heran lalu bertanya, “Bukankah seharusnya kamu bermain bersama dengan teman-temanmu? Mengapa ingin pergi bersama saya?”

“Karena aku menyukaimu,” jawab Pema spontan.

Sang pangeran awalnya berpikir itu hanya lelucon seorang bocah ingusan, tapi melihat ketegasan dan ekspresi Pema yang serius, sesaat itu hati sang pangeran pun tersentuh.

Lalu ia berkata kepadanya, “Setelah kamu dewasa nanti, jika kita berdua belum menikah, dan masih saling menyukai, aku bersedia menikahimu dan menjadikan istriku.”

Mendengar janji itu, Pema pun dengan gembira menganggukan kepala, lalu pergi. Janji yang tak sengaja diucapkannya itu, belakangan kemudian bersemi dan mereka benar-benar jalan bersama (pacaran), ketika itu sempat terlintas dalam benak sang pangeran, “Mungkin ini adalah cinta pada pandangan pertama, yang sudah ditakdirkan.”

Pertemuan pertama mereka sangat indah dan mengesankan. Dan takdir pertemuan mereka belakangan semakin erat. Meskipun pada saat itu ia kembali ke Amerika Serikat. Kemudian ke Inggris, Filipina dan negara-negara lain untuk studi. Tapi pikirannya selalu ingat akan gadis itu.

Mereka bertemu lagi tiga tahun kemudian. Pada saat itu, Pema sekolah di SMA di Bhutan
Pada saat itu dia akhirnya tahu ternyata orang yang disukainya saat kecil ketika itu adalah Pangeran Bhutan, raja negeri Bhutan yang akan datang.

Saat itu ia telah ditetapkan sebagai putra mahkota ketika kuliah di Universitas Oxford di Inggris, sementara Pema merasa dirinya semakin jauh darinya. Dia ingin menjadi lebih hebat, agar memenuhi syarat untuk bersanding di sampingnya.

Pema kemudian berusaha keras menjadi lebih baik. Dengan usaha keras dan kecerdasannya Pema studi di India dan Inggris. Ia menguasai dengan fasih bahasa Bhutan, Hindi dan Inggris. Selain itu juga suka seni, fotografi.

Berkat usaha kerasnya sekarang dia layak bersanding dengan Raja. Meskipun ia sangat sederhana, tapi latar belakangnya juga tidak rendah. Dia lahir dari sebuah keluarga pejabat di ibukota Bhutan Thimphu. Leluhurnya juga pernah menjabat sebaai Gubernur di sebuah wilayah di Bhutan. Sementara ayahnya adalah seorang pilot maskapai penerbangan. Dan Ibu adalah seorang wanita pendidik.

Kemudian, sang pangeran resmi dinobatkan sebagai raja. Orang-orang yang tahu siapa raja muda dan tampan ini justeru semakin membuat Pema tidak tenang. Tapi raja sangat mencintainya.

Dia juga mengatakan, “Saya sangat beruntung, beruntung telah menemukan pasangan jiwa saya, bisa berbagi kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan bersamanya, memulai perjalanan hidup baru.”

Tak lama kemudian, mereka bertunangan. Karena khawatir adanya tekanan dan tidak bisa menyesuakan diri,

Sang raja kemudian dengan penuh perhatian meminta Pema agar sebaiknya lebih awal masuk dalam kehidupan keluarga kerajaan. Dan perhatian dari sang raja atau calon suaminya ini membuat Pema sangat terharu.

Meskipun sampai sekarang Bhutan masih mempertahankan tradisi yang mengharuskan seorang raja untuk berpoligami, namun dengan tegas ia mengatakan, Ia hanya akan menikah dengan satu istri sah. Baginya Pema sudah tak tergantikan lagi oleh siapapun dalam hatinya.

Berapa banyak wanita yang tergila-gila dengan raja muda yang kharismatik seperti ini, tapi, ia hanya menyerahkan hatinya pada Pema seorang. Kemudian, mereka melangsungkan pernikahan pada 13 Oktober 2011 yang menggemparkan rakyat Bhutan yang hanya berjumlah 6,95 juta populasinya.

Upacara pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana. Tidak ada iring-iringan mobil mewah dan hotel bintang lima, juga tidak mengundang tamu asing seperti tradisi yang umum digelar dunia internasional.

Yang paling istimewa dalam upacara pernikahan tersebut, hanya dihadiri oleh keluarga kerjaan dan ribuan penduduk desa setempat. Sementara masyarakat setempat lainnya hanya berbagi kebahagiaan raja mereka melalui saluran televisi.

Dalam pernikahan itu, sang raja muda berkata, “Meskipun Pema masih muda, tapi ia adalah orang yang baik hati yang bersedia mengabdi kepada negara dan rakyatnya dengan sepenuh hati.

Setelah pernikahan itu, sang raja berkata kepada reporter dengan penuh sukacita, “Sudah lama saya menantikan momen ini, dan akhirnya saya menemukan sosok orang yang bisa menemani saya selamanya. Bagi saya, dia adalah wanita yang cantik dan cerdas, kami memiliki hobi yang sama, dan kami juga sangat suka dengan seni.”

Tak lama setelah pernikahan itu, mereka berkunjung ke India. Dia memperkenalkan istrinya kepada Presiden India. Sang raja tampak tersenyum bahagia di samping melihat Pema bersalaman dan menyapa dengan anggun Presiden India.

Terlintas dalam benaknya, “Pernikahan itu seperti hubungan kemitraan, harus saling percaya, saling mendukung, penuh keyakinan. Saya yakin Pema akan menjalankan tugasnya dengan baik sebagai ratu.”

Dan memang Pema tidak membuatnya kecewa. Ia kerap blusukan di berbagai tempat melihat dan mendengar keluhan masyarakat. Jadi, bagaimana mungkin ratu seperti ini tidak dicintai oleh segenap rakyatnya.

Usia mereka terpaut 10 tahun. Pema jauh lebih muda dari suaminya. Setelah 14 tahun menanti, akhirnya berakhir dan berbuah manis. Mereka hidup bahagia di negeri yang menyenangkan.

Dan akhir terindah dari perjalanan cinta mereka adalah mendapatkan kristalisasi cinta ini, yaitu lahirnya si pangeran kecil, yang membuat segenap negeri larut dalam sukacita.

Pema yang kini telah menjadi seorang Ibu, bahkan membangun sejumlah lembaga perawatan medis di Bhutan yang bermanfaat untuk mengembangkan kesejahteraan anak-anak. Pangeran kecil berangsur-angsur mulai tumbuh besar dan mulai ikut bersama orang tuanya menghadiri berbagai kegiatan penting di seluruh negeri.

Mungkin inilah makna sebenarnya dari kebahagiaan, “Kelak setelah kamu dewasa, aku akan menikahimu”.

Sekilas mungkin terdengar seperti lelucon, namun, karena takdir pertemuan itu sehingga cinta yang terindah pun terajut dengan sempurna. Meskipun di negeri yang membolehkan berpoligami, namun ia tetap memilih satu pasang untuk selamanya. Mungkin inilah pernikahan paling membahagiakan yang dapat kita bayangkan.

Dalam kerajaan cinta, kamu adalah satu-satunya milikku. Dan satu-satunya yang kucintai adalah kamu. (Jhony/rp)