Oleh: Chen Jieyun

Apakah itu bermain cilukba, menggelitik perutnya atau mengeluarkan suara aneh, setiap pasangan orang tua mempunyai kiat tersendiri dalam membuat bayinya tertawa. Lantas mengapa bayi bisa tertawa?

Psikolog perkembangan (developmental psychologist) Caspar Addyman dari  University of London, setelah mengadakan survei global selama 4 tahun terhadap ribuan keluarga, menemukan cukup banyak hal yang menarik, seperti bayi laki-laki yang baru lahir lebih suka tertawa daripada bayi perempuan  dan tertawa, dalam pendidikan awal juga adalah hal yang sangat krusial.

Caspar Addyman adalah peneliti dari Pusat Perkembangan Otak dan Kognitif dari Birkbeck, University of London dan memimpin sebuah “laboratorium bayi (Baby Lab)”. Dalam rangka memecahkan misteri tertawa manis bayi, dia telah melakukan penelitian dengan skala terbesar selama ini.

Caspar Addyman telah merancang kuesioner kepada orang tua, juga mendorong mereka untuk mengirim video dan laporan tertulis. Dana penelitian basic ditanggung oleh dirinya berkat keberhasilannya dahulu sebagai bankir.

Akhirnya, ribuan pasang orang tua di seluruh dunia dengan antusias merespon, juga terdapat lebih dari 100 pasang orang tua yang mengirim video bayi mereka yang sedang tertawa.

Hingga pada 29 Maret lalu, buah penelitiannya yang berupa monografi (karangan ilmiah) “bayi tertawa (The Laughing Baby)” telah berhasil mengumpulkan dana melalui jaringan, diharapkan segera dapat beredar dan bertemu dengan para penggemarnya.

Tertawanya bayi merupakan cara mereka dalam merespon para orang dewasa yang mengasihi mereka. (Fotolia)

 

Pendidikan awal diiringi dengan tawa

Caspar Addyman menemukan, di tahap awal kehidupan, tertawa lebar dan tersenyum selalu menyertai setiap kemajuan kecil sang bayi. 90% dari bayi dapat tersenyum dua bulan sejak kelahiran, beberapa minggu kemudian akan tertawa terbahak. Ada juga bayi yang baru lahir tiga minggu sudah bisa tertawa lebar.

Tertawa sang bayi merupakan cara mereka dalam merespon para orang dewasa yang dekat dengan mereka. Dipastikan karena dia telah belajar sebuah keterampilan baru, atau menyelesaikan yang ingin dilakukan dengan bantuan orang dewasa, atau cara mereka mendorong orang dewasa untuk terus melanjutkan  hal tersebut. Sebaliknya adalah menangis.

Di dalam buku terbaru dari Caspar Addyman telah terekam seorang bayi dalam dua tahun pertama kehidupannya yang sambil tertawa sambil belajar keterampilan penting.

Meskipun survei menunjukkan bahwa bayi akan mengembangkan tertawanya terhadap ayah dan ibunya tanpa pilih kasih, tapi menurut statistik, rata-rata bayi laki-laki tertawa 50 kali per hari, sedangkan bayi perempuan hanya 37 kali, namun juga ada perkecualian.

Addyman juga mengatakan kepada media, tidak peduli apa yang dilakukan orang dewasa, meski melakukan beberapa permainan konyol, kalamana bayi mendapatkan pendampingan khusus, adalah alasan utama mereka merasa bersuka cita.

Hal-hal yang dapat membuat bayi tertawa

Yang paling dapat memicu bayi tertawa lebar adalah sentuhan dari orang dewasa, termasuk menggelitiknya, mandi air panas dan sebagainya. Diikuti oleh interaksi yang kuat dari permainan cilukba.

Bayi kecil belum terbentuk konsep waktu, setiap kali orang terkasih muncul lagi, akan membuat mereka terkejut dan gembira; sedangkan ketika mereka mengembangkan rasa penantian bahwa “kamu akan datang lagi”, dan bahkan telah belajar “menutupi mata mereka”. Permainan ini masih saja dipenuhi dengan suka cita, maka itu bisa diterapkan di sepanjang pendidikan awal.

Bayi merasa paling menarik, dan juga permainan yang paling mudah menimbulkan rasa iba mereka adalah boneka dan marionet, serta hewan yang dapat mewujudkan perilaku manusia.

Ketika drum gelombang mengeluarkan suara menyenangkan, mereka akan tertawa bangga. Sedangkan ketika orang dewasa membawa tanggapan indera yang baru nan aneh, seperti orang tua membuka dan mematikan lampu ruangan, juga dapat membuat mereka gembira tiada habis.


Bayi berusia 4 bulan tertawa di depan cermin, mengapa bisa demikian? (Christopher Blizzard / Flickr)

Bayi sebelum berusia 18 bulan tidak akan mengenali diri mereka yang terefleksi di cermin, tapi dalam survey ditemukan, ada bayi berusia empat bulan tertawa ngakak di depan cermin, mengapa bisa demikian?

Karena ternyata sang bayi menemukan bahwa tindakan manusia di dalam cermin itu persis sama dengan mereka! (hui/whs/rp)

Share
Tag: Kategori: Headline KELUARGA

Video Popular