Ini ada sebuah cerita tentang suami dan istri, simak perjalanan kehidupan mereka berdasarkan curhat suaminya dilaporkan oleh msn.com.cn. Begini cerita berdasarkan versi suaminya :

Saya kenal dengan isteri saya pada 10 tahun silam, namun, tidak mengenal satu sama lain saat kuliah, hanya tahu satu fakultas (saat kuliah saya lebih suka main game, jarang kuliah, selalu bolos hanya untuk bermain game NetEase Westward Journey….hmmm! belakangan, jarang main game lagi semenjak kenal dengan isteri saya).

Sejak kenal dengan isteri saya hingga menikah, yaach kurang lebih sudah 10 tahun, kami menikah pada tahun 2010 lalu, sekarang dikaruniahi dengan 2 putra yang lucu, tinggal bersama dengan kakek dan nenek.

Kami membuka usaha keluarga di ibukota provinsi sekitar 200 km dari rumahnya, umumnya sebulan sekali pulang ke rumah menjenguk anak-anak, sekarang kami tidak memiliki rumah lagi, kami kontrak, dengan ditemani sebuah mobil, rencananya mau berbisnis selama beberapa tahun, nanti baru beli rumah lagi, dan isteri saya juga setuju dengan rencana saya.

Setelah lulus, kami pergi ke luar kota, di sana kami menetap sekitar 5, 6 tahun, belakangan isteri saya pulang sendiri ke rumah mertua untuk menunggu kelahiran, tinggal saya sendiri di luar kota dan banting tulang (kerja) selama 1.5 tahun.

Singkat cerita, saya pulang ke rumahnya dan membuka usaha bersama di kota tempat tinggalnya.Selama hidup bersama pasti tak luput dari pertengkaran, kami selalu bertengkar baik sebelum maupun sesudah menikah, tapi pertengkaran kami ini tidak terlalu melukai perasaan, masalahnya selama setahun ini selalu diiringi dengan pertengkaran sejak saya pulang dari luar kota.

Setiap bertengkar isteri saya selalu bilang mau cerai, awalnya tidak terlintas dalam benak saya untuk bercerai. Namun, seiring dengan berlalunya waktu dan lama kelamaan terbersit juga dalam benak saya untuk bercerai.

Mertua saya juga sudah tahu saat kami bertengkar dan ribut-ribut mau cerai, sehingga ia berusaha membujuk isteri saya, meminta kami untuk tidak menempuh jalan cerai, dan memang setelah mendapat wejangan dan bujukan itu, kami hidup bersama dalam kedamaian selama sebulan. Belakangan, isteri saya bilang bosan hidup bersama saya yang monoton, tidak ada sensasinya.

Karena itu, isteri saya memutuskan hendak bercerai dengan saya, sehingga membuat saya jengkel, tidak bergairah lagi mengelola usaha keluarga. Sambil menarik contoh dari telenovela yang ditontonnya, isteri saya bilang anak-anak tetap akan tumbuh besar meski kita bercerai, sementara saya sendiri justru memikirkan dampaknya bagi perkembangan anak-anak nanti seandainya kami bercerai. Karena itu saya selalu menolak untuk bercerai, sehingga masalah sensitive itu terus tertunda dari hari ke hari !

Saat di tengah pertengkaran terkait perceraian itu semakin berapi-api, dalam benak saya sempat curiga apakah ada faktor orang ke tiga sebagai pemicunya, tiap hari bertengkar, pisah ranjang, boleh dikata tidak ada lagi yang namanya kehidupan seks, secara khusus saya juga sempat mencari tahu dari sudut lain, untuk memastikan tidak hal negatif sebagaimana yang saya bayangkan.

Belakangan, kami berusaha menenangkan diri dan introspeksi, namun, sejak itu isteri saya selalu menyinggung masalah cerai, ia bilang saya hanya akan menyakiti perasaannya jika tidak cerai sekarang, dan akan lebih baik baginya jika segera cerai, kalau tidak mau cerai, ya sudah, tunggu saja anak-anak nanti kalau sudah genap 18 tahun baru cerai, ah….saya terhenyak diam setiap mendengar kata-kata ini!

Istri saya sekarang adalah pacar sekaligus cinta pertama saya, sebelumnya saya tidak pernah berpacaran, tidak tahu bagaimana berpacaran, karena itu, dalam beberapa hal saya juga merasa tidak bisa menyenangkannya.

Suatu hari ketika mengajaknya nonton bioskop, dia bilang lagi tidak mood, belakangan ketika hendak nonton bioskop lagi, yang terjadi justru pertengkaran dalam perjalanan, tidak ada teman-teman lain di dalam mobil, hanya kami berdua, dan tanpa peduli tempat atau suasana lagi, kami pun bertengkar !

Pertengkaran kami selalu dipicu oleh hal-hal sepele atau bahkan masalah orang lain saja bisa membuat kami bertengkar, sekarang saya tidak tahu lagi apa sebaiknya yang harus dilakukan, tiada hari tanpa pertengkaran, dan setiap kali bertengkar selalu menyinggung masalah cerai, hingga pada akhirnya perlahan-lahan saya pun berniat cerai.

Sampai disini, apa ada saran yang lebih baik dari pembaca sekalian, mohon beri petunjuk. Terima kasih. (Jhon/asr)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular