ERABARU.NET – Kasus yang menimpa 2 tahun penjara terhadap Basuki Tjahaja Purnama diyakini sebagai korban politik SARA. Bahkan putusan vonis atas kasus penodaan agama terhadap Ahok diyakini di bawah tekanan massa.

“Kalau situasi sudah begini, zaman tanpa mengindahkan aturan main, demokrasi kita dibajak dengan tekanan publik dan kekuatan massa, ini berarti nalar dan akal sehat kita dikalahkan,” kata pengamat komunikasi politik,  Benny Susatyo saat diskusi di Jakarta, Rabu (10/5/2017). Diskusi ini dinyatakan bukan sebagai pihak Ahokers.

Lebih berbahaya lagi, jika kemudian mengarah demokrasi pada tahapan zaman abnormal tanpa mempedulikan aturan hukum. Bahkan jika kemudian tekanan massa ini menentukan segala-galanya, maka bahayanya demokrasi akan dibajak hingga menjadi masyarakat tanpa tatanan hukum.

Dikhawatirkan lagi, jika kemudian tekanan massa ini menggantikan politik yang dibangun dengan program untuk meraih simpati rakyat. Justru pada kondisi seperti ini, Undang-Undang dipakai untuk menyingkirkan lawan politik.

“Zaman abnormal di mana dominasi kekuatan massa menentukan segala-galanya, jadi tidak lagi kepada sebuah politik yang dibangun kepada kesadaran etis, moralitas, dan bagaimana  politik menjunjung etika,” jelas Benny.

Menurut Benny, zaman abnormal berarti politik berdasarkan kekuatan massa. Parahnya, ketika saat itu menghalalkan segala cara, lebih berbahya lagi jika kemudian intelektual mewujudkannya. Maka pada akhirnya, memasuki zaman tanpa tata tertib, tanpa tatanan dan situasi matinya nurani.

Jika kemudian, kata Benny, hukum kehilangan nurani maka hukum tak berpihak kepada kebenaran. Bahkan hukum takluk kepada tekanan massa yang ditakutkan akan menjadi preseden buruk yaitu robohnya hukum. Jika terwujud, maka setiap individu bisa mempersoalkan seseorang yang tak disukai serta yang dianggap sebagai ancaman.

Politisasi Agama

Benny Susatyo menegaskan bahwa saat politisasi agama bersekutu dengan elit politik serta kapitalis hitam maka akan meruntuhkan demokrasi.  Justru pada kondisi ini, bukan rakyat yang keluar sebagai pemenang. Namun situasi ini dikendalikan oleh kekuatan politik yang melegalkan isu-isu SARA bersekutu dengan kelompok kapital hitam.

Oleh karena itu, Benny mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk meneguhkan kembali politik yang menjunjung akal sehat, etika dan moralitas. Sudah semestinya meninggalkan politik yang direduksi untuk meraih kepentingan semata-mata.

“Kita harus jujur semuanya mengembalikan politik kepada kepentingan lebih besar yaitu membangun kesadaran bahwa politik itu untuk martabat manusia, bukan kekuasaan,” jelasnya. (asr)

Share

Video Popular