Sebuah pencitraan satelit menunjukkan bahwa Korea Utara diduga kuat tengah melakukan reklamasi pulau di Laut Kuning untuk pangkalan militer. Citra satelit tersebut menunjukkan sekitar lima pulau yang di atasnya terdapat beberapa konstruksi bangunan mirip dengan pangkalan militer. Reklamasi pulau dilakukan di klaster kepulauan barat laut Pyongyang.

Korea Utara diduga telah membangun sejumlah fasilitas militer di klaster kepulauan dekat Kota Sohae, wilayah yang kerap dijadikan area pengembangan dan uji coba misil. Lokasi peluncuran tersebut dilengkapi dengan tempat peluncuran, daerah uji dan pemantau peluncuran. Reklamasi pulau terletak sekitar 70 mil laut dari Pyongyang.

Meskipun demikian, citra satelit itu tidak memberikan bukti infrastruktur pendukung yang diperlukan untuk penyebaran rudal Korut. Tapi dicurigai sebagai lokasi uji tembak rudal-rudal balistik selama ini. Spekulasi apapun tidaklah mengherankan terkait Korea Utara, kata sarjana AS, Gordon Chang dalam dokumen “Nuclear Showdown: North Korea Takes On The World”.

“Korea Utara tidak pernah melakukan sesuatu yang baik.” “Tidak peduli apapun fungsinya, pasti akan digunakan untuk kejahatan atau menciptakan suatu kekacauan.” Perasaan saya mengatakan bahwa fasilitas di pulau buatan tersebut akan digunakan sebagai pangkalan peluncuran rudal, terutama pulau buatan tersebut terletak di dekat Laut Barat,” kata Gordon Chang kepada Fox News.

Fox News menyebutkan bahwa Korea Utara mungkin mencontoh langkah PKT yang membangun pulau buatan di Laut China Selatan dan memasang sistem peluncuran rudal.

Ada juga yang tidak sependapat bahwa reklamasi pulau Korea Utara untuk peluncuran rudal. Menurut pakar Korea Utara dan profesor ilmu politik, Bruce Bechtol, pulau-pulau itu tidak layak menjadi perhatian.

“Saya tidak melihat pulau-pulau buatan itu menjadi ancaman nyata bagi Amerika Serikat dan Korea Selatan saat ini,”katanya.

Bechtol mengatakan Korea Utara memiliki lokasi peluncuran rudal yang sangat tersembunyi, pulau-pulau yang bisa dengan mudah dipantau tanpa menggunakan satelit. “ Area pulau-pulau itu terlalu kecil, rudal tidak bisa dipindahkan. Mengapa bangunan pulau buatan itu terlihat aneh, bisa jadi itu hanya difungsikan untuk sipil,” kata Betchol.

Menurut Bechtol, pulau-pulau itu kemungkinan untuk pertanian, karena Korea Utara kekurangan pangan jangka panjang selama ini. “Korea Utara menghancurkan banyak lahan pada tahun 1980 dan 1990-an. Pulau-pulau itu mungkin digunakan untuk peternakan tiram atau ikan.”

Peneliti teknologi dan senjata konvensional dari University of Maryland, Steve Sin mengatakan, “kemungkinan berfungsi ganda, untuk keperluan sipil sekaligus militer adalah praktik yang biasa dilakukan rezim Korea Utara.” (Jhon/asr)

Share

Video Popular