[Erabaru.net] Pada abad ke-21, peneliti menemukan organ baru dalam tubuh manusia. Tapi tidak seperti jantung, otak, paru-paru, dan struktur anatomis yang sebelumnya telah dikenal, organ ini tidak terbuat dari jaringan manusia – namun terdiri dari triliunan bakteri. Ini disebut mikrobioma.

Saudara bakteri kita hidup di seluruh tubuh manusia, namun sebagian besar mikrobioma itu, sekitar 3 – 5 kilogram, hidup di dalam usus kita. Peneliti telah menghubungkan beberapa penyakit usus, seperti penyakit kolitis dan radang usus hingga ketidak seimbangan bakteri usus yang tidak sehat.

Namun masalah mikrobioma tidak hanya terbatas pada usus. Peneliti kini percaya bahwa ketidak-seimbangan ini, yang disebut disbiosis, mungkin merupakan jantung dari sejumlah masalah kesehatan, mulai dari diabetes dan obesitas sampai kegelisahan dan depresi.

Pemahaman baru tentang fisiologi manusia ini menghubungkan gagasan lama tentang kesehatan. Menurut dokter kuno yang terkenal, Hippocrates, “Semua penyakit dimulai di usus”.

Dr. Raphael Kellman, pelopor obat mikrobioma yang bermarkas di Manhattan, Amerika Serikat,  menyetujuinya. Sebagai dokter ahli kesehatan dan dokter fungsional bersertifikat yang memiliki spesialisasi dalam kesehatan usus selama hampir 20 tahun, Dr. Raphael menduga bahwa usus tersebut merupakan akar dari banyak masalah kesehatan jauh sebelum mikrobioma menjadi topik hangat. Dia menulis buku pertama tentang diet mikrobioma yang ramah untuk membantu memulihkan kesehatan usus dan kesehatan secara keseluruhan.

Hari ini, dia yakin bahwa pengobatan yang efektif terhadap penyakit apa pun, juga pasti memerhatikan mikroba.

“Mikrobioma adalah mata rantai yang hilang- [itulah] sebabnya mengapa orang tidak membaik,” jelasnya.

Masalah autoimun, proses penyakit inflamasi dan bahkan gejala yang menentang diagnosis standar (seperti kabut otak) semuanya dapat ditelusuri kembali pada ketidakseimbangan mikroba usus kita, papar Dr. Raphael.

Mikrobioma ini melayani banyak fungsi. Bakteri usus menghasilkan hormon dan neurotransmitter yang dibutuhkan tubuh kita untuk stabilitas emosional dan fungsi kognitif. Mereka juga menyesuaikan sistem kekebalan tubuh, mengaktifkan dan mematikan gen dan mengirim pesan ke otak melalui saraf vagus.

Dr. Raphael menggambarkan mikrobioma sebagai pusat kontrol tubuh karena mengatur begitu banyak proses.

“Ketika bakteri bertindak, mereka tidak hanya melakukan satu hal, mereka membuat sejumlah perubahan yang tak terhitung jumlahnya,” ujarnya. “Ini seperti komputer super. Saya menyebutnya ‘konduktor besar’.”

Namun, ketika pusat kontrol bakteri ini berhenti bekerja, segala macam hal bisa salah. Penelitian menemukan bahwa disbiosis mungkin terkait dengan gangguan yang beragam seperti alkoholisme, sindrom kelelahan kronis, dan fibromyalgia.

“Bila konduktor besar tidak dapat melakukan apa yang harus dilakukan, Anda mendapatkan banyak masalah,” jelas Dr. Raphael.

Pengobatan mikrobioma

(Foto: A-Basler/iStock)

Bentuk obat paling umum yang menargetkan mikrobioma ini disebut transplantasi mikrobiota fekal (FMT). Prosedur tersebut mungkin terdengar kasar – memindahkan bakteri feses seseorang ke saluran gastrointestinal orang lain – namun telah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dalam menyembuhkan infeksi bakteri jahat seperti Clostridium difficile bila tidak ada yang lainnya.

Sebuah laporan tahun 2016 dari Yale Journal of Biology and Medicine menyimpulkan bahwa, FMT juga dapat membantu mengatasi kondisi termasuk obesitas, diabetes dan sindrom metabolik.

Dr. Raphael percaya bahwa ada cara lain untuk mengobati mikrobioma. Mereka mungkin tidak mengubah komposisi bakteri secepat FMT, tapi Dr. Raphael menyarankan bahwa perubahan yang lebih kecil, lebih halus, lebih sesuai dengan bahasa usus dan dapat menyebabkan manfaat yang lebih langgeng.

“Bakteri memiliki komunikasi yang sangat rumit dan ada banyak arah yang berbeda,” jelasnya. “Tidak ada obat atau kombinasi obat yang bisa melakukannya.”

Fokus pengobatan Dr. Raphael adalah menciptakan kondisi yang tepat sehingga mikrobioma dapat menyeimbangkan diri.

Pasien sering kali percaya bahwa mengonsumsi suplemen probiotik (pil yang mengandung strain bakteri menguntungkan tertentu) adalah langkah pertama dalam mengatur mikrobioma secara langsung. Tapi Dr. Raphael tidak sependapat. Dia mengatakan bahwa pil ini berguna untuk memperbaiki ketidakseimbangan tertentu, namun sangat menantang bagi kebanyakan orang untuk menggunakannya dengan benar.

“Anda perlu tahu bagaimana bakteri bekerja dan bagaimana mereka bekerjasama,” ujarnya. “Anda harus tahu mana probiotik yang akan mengatasi penyakit apa dan masalah yang akan timbul jika Anda mencampuradukkannya.”

Meskipun suplemen dapat membantu mengatasi masalah tertentu, namun ada gambaran gaya hidup yang jauh lebih besar untuk dipertimbangkan dalam memastikan kesehatan mikrobioma. Perawatan Dr. Raphael berfokus pada menciptakan kondisi yang tepat sehingga mikrobioma bisa menyeimbangkan diri.

“Anda ingin agar mikrobioma tumbuh dan berkembang, serta menjadi lebih terintegrasi dengan sendirinya,” jelasnya. (Epochtimes/Vivi)

Bersambung

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular