[Erabaru.net] Pada abad ke-21, peneliti menemukan organ baru dalam tubuh manusia. Tapi tidak seperti jantung, otak, paru-paru, dan struktur anatomis yang sebelumnya telah dikenal, organ ini tidak terbuat dari jaringan manusia – namun terdiri dari triliunan bakteri. Ini disebut mikrobioma.

Apa yang menyusun konduktor?

Obat modern tidak berkembang bersama dengan mikrobioma, namun wawasan baru mendorong banyak profesional kesehatan untuk memikirkan kembali strategi pengobatan mereka.

Misalnya, sebelum ditemukannya mikrobioma, ada sedikit pemikiran yang ditujukan pada luasnya efek samping yang sekarang terkait dengan antibiotik. Saat itu, keberadaan bakteri utamanya berarti adanya penyakit, sehingga dokter hanya mengenal aspek positif dari obat ini.

Konsep mikrobioma, membayangkan gambaran yang jauh lebih kompleks dimana bakteri bisa baik, buruk atau tidak seimbang. Karena antibiotik tidak hanya menargetkan bakteri jahat, penggunaan obat ini secara berlebihan juga dapat merugikan bakteri baik kita, yang menyebabkan disbiosis jangka panjang. Sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan oleh American Society for Microbiology menemukan bahwa satu program antibiotik dapat mengganggu keseimbangan mikroba usus hingga satu tahun.

(Foto : ia_64/iStock)

Karena antibiotik berada di mana-mana, baik dalam pengobatan maupun produk hewani yang kita konsumsi, obat-obatan ini cenderung mendapat sebagian besar kesalahan karena merugikan mikrobioma kita. Namun Dr. Raphael menunjukkan penyebab lain yang bisa membuat konduktor kita tidak rusak.

Makanan misalnya, memainkan peran penting dalam kesehatan mikrobioma. Dan itu bukan hanya seputar tentang memperbaiki pola makan yang buruk atau menghindari makanan olahan, paparnya, tapi tentang mengonsumsi makanan khas yang mempromosikan kesehatan.

“Bakteri punya keinginan untuk makanan tertentu, tapi kita tidak mendengarkannya,” jelas Dr. Raphael.

Makanan fermentasi, seperti yogurt dan asinan kubis, sering kali disebut makanan probiotik karena mengandung bakteri yang bermanfaat bagi mikrobioma kita. Tapi ada kelas makanan lain, yang disebut prebiotik, yang membantu memberi makan bakteri yang sudah ada di sana. Itulah sebabnya Dr. Raphael menulis buku The Microbiome Diet: The Scientifically Proven Way to Restore Your Gut Health and Achieve Permanent Weight Loss (Makanan Mikrobioma: Cara yang Terbukti Secara Ilmiah Mengembalikan Kesehatan Usus Anda dan Mencapai Berat Badan Tetap). Dia merekomendasikan asupan lobak, daun bawang, jicama, asparagus, dan bawang putih. Tanaman ini penuh dengan serat prebiotik.

Sel manusia tidak bisa mencerna serat tanaman ini, tapi bakteri bisa. Memberi makan mikrobioma itu penting karena bakteri yang baik pun bisa berbalik melawan jika mereka kekurangan nutrisi yang tepat. Bakteri yang kelaparan memakan serat di dinding usus. Hal ini membuat usus keropos, memungkinkan racun dan partikel makanan yang tidak tercerna, bocor ke aliran darah. Dr. Raphael mengatakan bahwa pestisida dan racun lainnya di lingkungan juga berkontribusi pada usus yang bocor.

“Bagi sebagian orang, ini gluten, karena pasti bisa memengaruhi dinding usus,” papar Dr. Raphael. “Kemudian Anda mengalami peradangan.”

Terkait pada peradangan kronis dan stres

Kebanyakan dokter meneliti pada sampel tinja untuk bukti disbiosis, namun Dr. Raphael mencari penanda peradangan dalam tes darah untuk mengamati masalah pada komposisi bakteri pasiennya.

“Saat Anda mengalami peradangan, mikrobioma akan terpengaruh. Saat mikrobioma terkena, Anda mengalami peradangan. Ini seperti sisi berlawanan dari koin yang sama,” jelas Dr. Raphael.

Peradangan kronis telah dikaitkan dengan banyak penyakit modern. Asupan yang buruk dan kurang berolahraga akan berkontribusi terhadap peradangan, begitu pula stres. Tubuh kita dirancang untuk bangkit kembali dari tekanan sesaat, namun stres yang tak henti-hentinya selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau lebih lama terkenal karena mempercepat penyakit. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa stres juga merupakan faktor utama dalam kesehatan mikrobioma.

Trauma yang terjadi pada masa kanak-kanak memengaruhi mikrobioma sangat keras, jelas Dr. Raphael. Dia saat ini sedang mengerjakan sebuah buku baru yang memeriksa kesejajaran antara usus dan otak, dan mengatakan bahwa pengalaman traumatis mungkin memainkan peran lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya.

“Mikrobioma berkembang pada usia dini. Karena itulah orang yang mengalami trauma masa kanak-kanak jauh lebih rentan terhadap penyakit autoimun,” jelasnya.

Penelitian lain telah mendukung gagasan bahwa trauma masa kecil akan berkontribusi pada keadaan proinflamasi di masa dewasa. Dalam sebuah laporan tahun lalu dari Canadian Journal of Psychiatry, para peneliti menulis bahwa perubahan mikrobioma usus yang diinduksi stres di awal kehidupan “dapat menimbulkan konsekuensi kekebalan jangka panjang dan meningkatkan risiko pengembangan gangguan terkait stres di kemudian hari”.

Pemahaman kita saat ini tentang mikrobioma masih dalam masa pertumbuhan dan penelitian lebih lanjut menjanjikan lebih banyak wawasan tentang bagaimana organ bakteri ini bekerja. Tapi Dr. Raphael mengatakan konsepnya sudah mengubah obat menjadi lebih baik. Jika segala sesuatu yang kita konsumsi – obat-obatan, toksin dan bahkan emosi – dapat mengubah konduktor bakteri kita, itu berarti kita harus mempertimbangkan gambaran yang lebih besar dan melakukan pendekatan holistik terhadap pengobatan, katanya.

“Peneliti melihat bahwa hal itu memiliki efek mendalam pada setiap organ dan setiap penyakit yang mereka kenali,” lanjut Dr. Raphael. “Ketika Anda menyembuhkan mikrobioma, ia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatur kesehatan pada begitu banyak tingkatan.” (Epoctimes/Vivi)

Selesai

Share
Tag: Kategori: KESEHATAN

Video Popular