Pawai Akbar Memperingati 25 Tahun Penyebaran Falun Dafa ke Seluruh Dunia di Manhattan, Amerika Serikat

323

NEW YORK – Lebih dari 10.000 praktisi Falun Dafa yang berasal dari  57 negara di berbagai belahan dunia berkumpul di Manhattan, Amerika Serikat, Jumat (12/5/2017)  sebagai  rangka menggelar pawai akbar dalam rangka Hari Falun Dafa Sedunia.

Falun Dafa, atau Falun Gong, adalah latihan jiwa dan raga yang pertama kali diperkenalkan di Tiongkok kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Latihan jiwa dan raga ini berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Toleransi.

Li Hongzhi, Pendiri Falun Dafa, memberikan ceramah pertamanya sekitar 25 tahun yang lalu bertepatan  13 Mei di kota kelahirannya di Changchun, Tiongkok . Kini, Falun Dafa telah dilatih oleh puluhan juta orang dari 70 negara di dunia termasuk Indonesia.

Sebelum pawai sekitar 6.500 praktisi dari seluruh dunia berkumpul di Dag Hammarskjöld Plaza dekat Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebagian besar praktisi Falun Dafa mengenakan kaos kuning atau sweater yang tertulis kata-kata jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia  “Falun Dafa Baik.”

Direktur Eksekutif Pusat Informasi Falun Dafa, Levi Browde, mengatakan bahwa Falun Dafa pada tahun-tahun awalnya didukung dan dipuji oleh rezim komunis Tiongkok karena membawa manfaat bagi masyarakat Tiongkok dan membantu meningkatkan moralitas.

“Tapi hari ini di Tiongkok dan selama 18 tahun terakhir, telah terjadi penganiayaan sistematis terhadap praktisi Falun Dafa,” kata Browde. Mantan pemimpin Partai Komunis Jiang Zemin telah melancarkan kampanye penganiayaan terhadap Falun Dafa pada 20 Juli 1999.

Browde mengatakan bahwa puluhan juta orang di Tiongkok menghadapi penangkapan, penyiksaan, penganiayaan, dan bahkan kematian karena menolak untuk meninggalkan keyakinan mereka. Menurut dia, puluhan ribu praktisi Falun Dafa telah terbunuh karena organ mereka dijadikan objek perdagangan transplantasi organ.

“Tidak dapat dipercaya membunuh seseorang hanya karena percaya pada Sejati, Baik dan Sabar yakni nilai universal yang dibutuhkan dunia modern kita,” kata Alan Adler, Ketua Friends of Falun Gong, sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis di Amerika Serikat.

Anastasia Lin, Miss World Kanada yang juga ikut berlatih Falun Dafa, berharap agar masyarakat Tiongkok dapat memahami bahwa para praktisi adalah orang-orang yang terus menjadi orang baik dan sabar dalam menghadapi penindasan yang brutal.

Lin juga mengungkapkan kekagumannya terhadap upaya praktisi Falun Dafa yang terus-menerus membangkitkan kesadaran akan penganiayaan terhadap rekan-reka mereka yang selama ini diabaikan oleh media arus utama. (Epochtimes/asr)

Pawai akbar Praktisi Falun Dafa di New York, Amerika Serikat 12 Mei 2017 (Benjamin Chasteen/The Epoch Times)
Pawai akbar Praktisi Falun Dafa di New York, Amerika Serikat 12 Mei 2017 (Benjamin
Direktur Eksekutif Pusat Informasi Falun Dafa, Levi Browde (Cao Jingzhe/The Epoch Times)
Anastasia Lin, Miss World Canada 2016 (Cao Jingzhe/The Epoch Times)
Parade praktisi Falun Dafa di New York 12 Mei 2017 (Samira Bouaou/The Epoch Times)
Pawai praktisi Falun Dafa di New York 12 Mei 2017 (Mihut Savu/The Epoch Times)
Pawai Praktisi Falun Dafa di New York 12 Mei 2017 (Mihut Savu/The Epoch Times)
Praktisi Falun Dafa yang berasal dari Israel (Yu Kong/The Epoch Times)
Praktisi Falun Dafa yang berasal dari Ukrania (Yu Kong/The Epoch Times)
Pawai Praktisi Falun Dafa di New York 12 Mei 2017
Pawai Praktisi Falun Dafa di New York 12 Mei 2017
Pawai praktisi Falun Dafa di New York 12 Mei 2017 (Samira Bouaou/The Epoch Times)
Pawai praktisi Falun Dafa 12 Mei 2017 di New York (Evan Ningn/The Epoch Times)
Pawai praktisi Falun Dafa dii New York 12 Mei 2017 (Benjamin Chasteen/The Epoch Times)
Praktisi cilik Falun Dafa (Samira Bouaou/The Epoch Times)
Parade marching band Falun Dafa (Larry Dye/The Epoch Times)
Masyarakat menyaksikan pawai praktisi Falun Dafa (Samira Bouaou/The Epoch Times)
Pawai praktisi Falun Dafa 12 Mei 2017 (Benjamin Chasteen/The Epoch Times)
Foto-foto praktisi Falun Dafa yang menjadi korban penyiksaan (Samira Bouaou/The Epoch Times)