Ratusan Tesis Palsu dari RRT Dicabut, Seberapa Parahkah?

252
Masalah dicabutnya ratusan tesis dari RRT, seberapa parahkah kondisi ini? Bisa sangat parah, parahnya sudah di luar nalar masyarakat. Foto adalah kantor pusat penerbit Axel Springer di Berlin. (Getty Images)

Oleh: Dr. Frank Tian, Xie

Tanda-tanda stamina yang benar-benar hampir habis, ditunjukkan oleh Beijing yang terus mempropagandakan dan sesumbar kemajuan teknologi yang telah dicapai telah melampaui negara lain. Namun sebuah tamparan nyaring dari dunia internasional membuat kalangan akademiksi seluruh dunia menganga seolah tak percaya.

Sebuah perusahaan penerbit akademik asal Jerman Spinger baru-baru ini mengumumkan, sebanyak 107 tesis yang dipublikasikan di tabloid yang ada di bawah panjinya yakni “Tumor Biology”, telah dicabut karena terlibat manipulasi laporan tesis dan pengulas tesis. 107 tesis tersebut semuanya berasal dari akademisi RRT. Ini adalah rumor terbesar di bidang akademik RRT yang paling “terkenal” di dunia internasional sejak berdirinya pemerintahan Beijing.

Situs Amerika “Retraction Watch” telah menerbitkan pemberitaan ini. Pihak “Springer” mengatakan, dalam penyelidikannya mereka telah memperoleh bukti kuat, dan ditemukan alamat surel para pengulas tesis tersebut adalah fiktif. Laporan ulasannya pun merupakan hasil rekayasa.

Para penulis memanipulasi nama-nama terkenal di bidang ini untuk mendaftarkan alamat surel, tanpa sepengetahuan tokoh terkenal tersebut, alamat surel fiktif itu digunakan untuk merekomendasikan tesis mereka. Memalsukan nama akademisi terkenal untuk aplikasi alamat surel fiktif, lalu menggunakan surel fiktif itu untuk melakukan penipuan, kelakuan ‘akademisi’ tak berhati nurani di RRT itu telah melanggar hukum.

Tabloid “Tumor Biology” dipublikasikan penerbit terkenal dunia dari Jerman yakni Axel Springer Verlag, kantor pusat perusahaan itu bertempat di Berlin memiliki banyak jurnal akademik, juga surat kabar, majalah, stasiun TV, merupakan salah satu perusahaan terbesar di Jerman.

Pemberitahuan pencabutan dipublikasikan di situs internet juga di majalah pada 20 April 2017 lalu dan ditulis oleh dosen kehormatan seumur hidup Torgny Stigbrand dari Fakultas Mikrobiologi Klinik di Umeå Universitet, Swedia.

Pemberitahuan pencabutan hanya menyebutkan secara singkat, “Atas rekomendasi dari Komisi Moralitas Publikasi, pihak penerbit serta editor majalah mencabut sejumlah tesis dari majalah ‘Tumor Biology’. Setelah penyelidikan tuntas, kami berpendapat telah memiliki alasan kuat untuk meyakini bahwa proses ulasan sesama rekan seprofesi ini telah dicurangi.”

Setelah pernyataan tersebut menyusul daftar judul tesis dan nama penulis yang dicabut, melihat nama penulis tesis membuat setiap orang etnis Tionghoa terkejut. Karena semua nama-nama itu adalah nama Mandarin, dan melihat tempat bekerja mereka semuanya adalah instansi akademik dan lembaga medis di RRT, antara lain Zhongnan University di Changsha, Zhejiang University, Fudan University, Taizhou University, China Medical University di Shenyang, Shandong University, Jiaotong University di Shanghai, dan lain sebagainya, bahkan ada juga akademisi etnis Tionghoa yang studi di Chicago University dan Toronto University.

Semua tesis yang dicabut itu dipublikasikan oleh para akademisi RRT itu antara tahun 2012 sampai 2016 di “Tumor Biology”. Kini semua tesis itu dicabut, dan dan semua nama-nama penulis itu akan terpatri selamanya di tugu aib.

Sebelumnya juga ada pemberitaan yang mengatakan, manipulasi akademik, juga manipulasi tesis di RRT, sudah bukan hal baru lagi.

Pada 2015 “Spinger” juga pernah mencabut 64 tesis dari 10 majalah di bawah panjinya dengan alasan yang sama, di antaranya mayoritas adalah tesis yang berasal dari RRT. Desember 2016 lalu, Natural Science Foundation of China juga pernah memberitakan, pada 2015 sebanyak 117 tesis yang ditulis oleh penulis RRT dicabut dari majalah internasional.

Cara tidak terpuji berupa penipuan dan manipulasi oleh akademisi PKT telah menjadi pemicu kemarahan masyarakat. Sebanyak 28 tesis yang dicabut yang diumumkan oleh Natural Science Foundation RRT, dipublikasikan lewat pihak ketiga setelah “dipoles” terlebih dahulu, bahkan sebagian di antaranya ditulis oleh orang lain dengan cara dibayar.

Perilaku tidak terpuji akademisi RRT meliputi pemalsuan surel pengulas tesis, membuat pendapat ulasan yang fiktif, mengendalikan proses penilaian tesis oleh rekan seprofesi dan lain-lain.

Ada yang bertanya, seberapa parah masalah ini? Apakah hanya masalah kecil yang tidak bakal beranjak besar?

Tidak seperti itu. Rumor yang tidak pernah ada sebelumnya dan telah menggemparkan kalangan akademik dan intelektual ini, telah mengungkap betapa para akademisi di bawah pemerintahan Beijing telah kehilangan hati nurani dan terungkap di hadapan masyarakat dunia.

Penilaian rekan seprofesi adalah proses munculnya pengetahuan baru yang tepat dan objektif saat ini. Bisa dikatakan sistem ilmu pengetahuan umat manusia saat ini, sistem peradaban, bisa dikatakan semua kepintaran dan peradaban umat manusia sekarang ini berasal dari riset dasar dan pertukaran ilmu di kalangan akademisi. Lalu bagaimana riset akademis dan riset dasar itu dikembangkan?

Dengan penilaian sesama rekan seprofesi. Jadi yang dilakukan oleh para peneliti di RRT sebenarnya adalah merusak, dan pada akhirnya menghancurkan pondasi peradaban umat manusia!

Apa yang menyebabkan merosotnya kalangan intelek di RRT ini?

Jika hanya satu atau dua orang merekayasa, memanipulasi, memalsukan penilaian, maka bisa dikatakan itu adalah masalah moral dan perilaku perorangan, bisa disebut pengecualian, tidak bisa mewakili keseluruhan. Tapi jika puluhan orang bahkan ratusan yang merekayasa?

Siapa pun yang memiliki akal sehat dan kesadaran pasti tahu, ini adalah komplikasi yang akut dari suatu sistem pemerintahan, bisa dikatakan seluruh sistem akademik di RRT telah hancur total, semua penuh rekayasa, sama sekali tidak bisa dipercaya!

Masyarakat akan memperhatikan dari rumor ini nama para peneliti dan instansinya, yang kebanyakan berasal dari rumah sakit tentara pembebasan rakyat (PLA) PKT di Liaoning, Shandong, Shanghai, dan rumah sakit itu juga merupakan instansi tempat PKT melakukan perampasan organ tubuh.

Kasus perampasan organ tubuh, juga merupakan hal yang telah menodai kalangan medis RRT. Para dokter yang terlibat di dalamnya, terutama dokter cangkok organ di tubuh militer PKT dipastikan mencapai ratusan bahkan ribuan orang. Dan hal ini telah melanggar sumpah “dokter” Hipokrates, masihkah layak dianggap dokter?

Pantaskah diberi julukan “malaikat berjubah putih”? Bisakah mereka tidak melakukan rekayasa?

Masyarakat masih ingat akan sisi gelap kalangan medis di RRT, menerima komisi, menerima suap, memeras terang-terangan, memberikan resep sesuai dengan uang suap, menerima suap dari pabrik obat, dan masih banyak lagi. Jajaran medis seperti ini, melakukan begitu banyak aib, sudah tidak mengherankan lagi bagi masyarakat.

Untungnya dokter-dokter yang tidak berhati nurani itu akhirnya menerima ganjaran berupa terungkapnya perilaku tidak terpuji mereka. Skandal ini terjadi di tengah masyarakat normal. Instansi yang berwenang akan menyelidikinya dan mencopot jabatan para pelaku, selamanya tidak akan dipekerjakan lagi. Segala penilaian terhadap profesinya sebelumnya akan dituntut, biaya riset yang telah dihabiskan akan dimintakan ganti rugi, juga dituntut atas gaji dan subsidi para wajib pajak atas diri mereka, sampai menuntut mereka secara pidana. Lalu bagaimana Beijing akan melakukannya? Seluruh dunia sedang mengamatinya!

Bahkan Zhongnanhai juga tidak akan membiarkan begitu saja para perekayasa ini. Coba dipikirkan, di RS PLA juga di RS 301 yang cukup terkenal itu, adalah tempat pelayanan medis bagi para petinggi elit Partai Komunis Tiongkok/ PKT. China Academy of Science adalah instansi riset ilmiah tertinggi di RRT.

Mereka juga memanipulasi, berarti mempermainkan para pemimpin PKT! Masih beranikah anggota Komisi Politbiro dan Dewan Tetap PKT jika pergi berobat di RS 301?

Mungkin tidak berani. Ini jelas bukan gejala baik. Jika para peneliti kanker PKT merekayasa, berarti pengobatan kanker di RRT juga penuh rekayasa, lalu bagaimana dengan diagnose dan pengobatan lainnya?

Sebuah negara dan bangsa, jika kalangan akademisnya muncul kebobrokan yang meluas seperti itu, kalangan elite yang seharusnya menjadi hati nurani dan intelek masyarakat ini, kekuatan seperti apa lagi yang akan bisa menyelamatkannya? (sud/whs/rp)