Oleh: Xia Xiaoqiang

Di masa tuanya Li Zhongxuan (1915-2004) telah mempublikasikan data sejarah dan prinsip jurus yang berharga dari ilmu silat Tiongkok, tulisannya mengundang reaksi dari seluruh kalangan seni beladiri (wushu) di RRT kala itu.

Lewat pengalaman yang kaya dan pemahamannya yang mendalam dalam penempaan ilmu bela dirinya, tidak hanya mengungkapkan fakta dunia persilatan yang telah lama hilang puluhan tahun silam (1950-an), juga memaparkan setiap intisari dan arti sebenarnya dari pelatihan wushu Tiongkok dari tingkat dasar sampai ke tingkat paling atas, berikut ini sebagian cuplikannya.

Tingkatan dan Makna dari Wu Shu Tradisional Tiongkok

Nomor satu adalah memperbaiki akhlak diri sendiri: “Seseorang jika memiliki pengasuhan diri dari dalam/internal, daya berpikirnya akan lapang dan segar, maka kesadarannya akan makin tinggi. ………. Sinar mata yang sama sekali tidak berbelas kasih, hanya bisa melotot dengan garang, mungkin saat ini ia mahir dalam bertarung, namun dikemudian hari ia akan meninggal dengan mengidap berbagai penyakit——- Murid mencari guru juga dengan kriteria ini.”; “Berlatih ilmu bela diri paling baik tidak berkelahi, guru Tang Weilu mendidik saya: ‘Jangan melupakan kebaikan orang lain seumur hidupmu; sebaliknya lupakanlah dalam sekejap kesalahan orang lain yang telah diperbuat terhadapmu.’”

Tujuan ilmu sastra-budaya dan wushu adalah sama: “Guru Shang Yunxiang selalu menuntut para muridnya banyak membaca buku dengan mengatakan bahwa orang yang berpendidikan tinggi dapat menguasai wushu dengan cepat, seorang pesilat harus lebih santun dari seorang cendekiawan, barulah merupakan seorang pesilat tulen.”

Rahasia wushu adalah anugerah ilahi: “Ilmu wushu saya adalah berkat pelatihan keras, salah, ilmu itu adalah ditemukan, ditemukan begitu saja dan secara tak terduga, selain itu harap diingat selamanya diatas langit pasti ada langit.” Menemukan sesuatu, lantas keluar jurus untuk itu, mengenali sesuatu dengan benar maka Anda sudah memiliki sesuatu tersebut. Berkata seperti itu, khawatirnya malah menakut-nakuti kaum muda, namun ilmu silat memang dimainkan seperti demikian.

Ilmu bela diri yang sesungguhnya adalah kemampuan gong (dibaca: kung, energi vital): “Tidak bisa dibedakan, tubuh sudah melampaui lingkup tubuh. Tiba-tiba, perasaanmu tidak sama dengan manusia biasa lainnya, ketika itu dalam melontarkan jurus pukulan sudah bukan berupa jurus pukulan lagi, merasakan udara dibawah kedua lengan bisa menyangga dan mendorong lengan untuk menyodok maju, tidak ada rasa berotot; Dua tulang pangkal paha serasa bisa mempengaruhi langit dan bumi, begitu menyelinap, segala materi dengan patuh mengikuti……”

Tujuan akhir ilmu silat adalah Tao/jalan yang manunggal antara manusia dan langit: “Orang yang berlatih jurus Xingyi melalui berlatih dengan keras, berangsur menyadari akan takdir,”; “Jurus Xingyi memasuki tingkat tinggi pasti orang itu berwajah welas asih. Apakah belas kasih itu? Orang itu telah menyadari akan takdir, daya pikirnya telah berbeda dengan manusia biasa pada umumnya. Apakah kesadaran itu? Kesadaran itu adalah bersyukur pada langit dan bumi, segala materi yang berada dalam alam semesta telah melarut di dalam tubuh.”

Pesilat yang mencapai taraf Tao adalah manusia sejati: “Setelah mencapai tahap tinggi,  sudah tidak ada jurus yang konkrit, semuanya sekehendak hati. Ada pesilat tua yang buta huruf, lingkup kehidupannya terlihat sempit namun begitu membicarakan ilmu silat, juga berpandangan sangat luas, tak pelak membuat penasaran juga, bagaimana dia bisa tahu? Entah bagaimana dia toh mengetahuinya.”

Kembali ke tradisi

Bertarung dengan jurus-jurus gado-gado/gabungan adalah semacam olahraga bertarung yang memperbolehkan penggunaan berbagai macam teknik bela diri, termasuk karate, taekwondo, muay thai, tinju, gulat dan lain lain, yang dituntut adalah kemampuan gabungan seperti kebugaran fisik, tenaga, kecepatan dan teknik, di zaman yang sudah terbentuk menjadi sistem gabungan pertarungan dan industri pertandingan, perkembangannya berhubungan sangat erat dengan kegiatan komersial zaman modern.

Itu sebabnya, Tai Chi Leigong dan  “Shaolin Monk” Yi Long kalah telak dalam pertarungan modern yang berasal dari Barat, hal tersebut tidak otomatis berhubungan dengan ilmu seni bela diri tradisional Tiongkok, mereka berdua hanyalah menggunakan papan nama seni bela diri tradisional Tiongkok saja.

Memasuki masyarakat modern terutama setelah PD-II pada abad ke 20, dari timur hingga ke barat, seluruh dunia telah menyimpang dari budaya tradisional dan moral umat manusia, sering terjadi fenomena kekacauan. Terutama di daratan Tiongkok, PKT dengan segenap kekuatan (di zaman Revolusi Kebudayaan 1966-1976) telah menghancurkan 5000 tahun budaya sebagai gantungan hidup eksistensi bangsa Tionghoa, sehingga masyarakat Tiongkok menjadi kacau balau, kalangan dunia persilatan pun tidak luput dari hal itu.

Seni bela diri / Wushu Tiongkok adalah bagian dari budaya tradisional Tiongkok, juga amat sangat dibutuhkan kebangkitannya. Untuk itu NTDTV yang berpusat di Amerika Serikat, beberapa tahun belakangan ini sedang berusaha keras demi memulihkan wushu tradisional Tiongkok, hingga saat ini, sudah dengan sukses menyelenggarakan 5 kali “Kompetisi Akbar Wushu Tionghoa Seluruh Dunia”, pihak penyelenggara dengan berdasarkan gagasan penyelenggaraan kompetisi yang orisinil dan memulihkan tradisi, telah melakukan klasifikasi yang jelas terhadap program pertandingan dan lain sebagainya.

Master Li Youfu sebagai dan tokoh kenamaan wushu dan ketua dewan juri kompetisi mengatakan, “Roh atau jiwa dari wushu tradisional adalah akhlak/etika Wushu, dan roh dari etika wushu adalah untuk menghentikan kejahatan dan menyemarakkan kebajikan. Kompetisi Wushu memakai wushu tradisional Tiongkok sebagai isi pertandingan, makna dari etika wushu sudah terlarut secara alami didalamnya. Titik berat dari kompetisi akbar Wushu adalah membangkitkan dan memulihkan budaya tradisional, agar para peserta dan penonton bisa mengenali kembali budaya tradisional dan menyadari kemuliaan etika wushu.” (lin/whs/rp)

TAMAT

Share

Video Popular