- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Kisah Nyata Keluarga-Keluarga yang “Dikutuk”, Sekeluarga Merangkak, Tak Bisa Tidur Hingga Tak Saling Kenal

Inilah 4 kejadian nyata yang dialami oleh keluarga besar dengan keanehan terjadi hingga ke beberapa generasi.

Berikut kejadiannya :

Keluarga Merangkak

[1]

Di sebuah desa terpencil di selatan Turki, ilmuwan menemukan sebuah keluarga Kurdi, dimana di antara keluarga itu, ada lima bersaudara yang berperilaku unik, usia mereka antara 18 – 34 tahun, mereka merangkak saat berjalan, hanya dua orang yang bisa berdiri dan berjalan tegak sesekali.

Empat saudara kandung dari desa Alnkela, Irak tengah, tidak pernah bisa berjalan tegak karena faktor genetik, sehingga terpaksa berjalan dengan cara merangkak.

Keluarga Serigala dari Mexico

[2] [3]
Danny Ramos Gomez, pria asal Meksiko menderita suatu gejala hirsutisme (bulu berlebih) langka sejak lahir, segenap tubuhnya diselimuti dengan bulu hitam lebat, sekilas tampak seperti “werewolf” mengerikan dalam cerita legenda.

Terbetik kabar, bahwa lima generasi sekeluarga Danny mengidap “Werewolf Syndrome”, sejak kecil Danny dan Larry, saudaranya diperlakukan seperti “monster”, dikurung dalam sangkar dan mengadakan pertunjukan sirkus di mana-mana.

Keluarga yang tidak bisa tidur

[4]
— (kiri) Ibu kandung Kelly dan bibi-nya (kanan) (Istimewa)

Karena bertambahnya tekanan hidup sehari-hari, banyak orang di era sekarang menjadi risau karena masalah tidur (insomnia). Namun, yang jarang diketahui, seorang keturunan dokter di Italia pada abad ke-18, menderita insomnia yang langka dari generasi ke generasi.

Setelah serangan insomnia ini, penderita kerap secara berturut-turut tidak bisa tidur selama beberapa hari, minggu dan bahkan bulan, sampai pada ahirnya meninggal tersiksa dalam keadaan koma.

Menurut para ahli medis, penyakit aneh ini disebabkan oleh penyakit genetik langka. Penyakit aneh dan langka ini telah ditulis oleh penulis asal New York, AS dalam buku barunya yang berjudul “keluarga yang tidak bisa tidur”.

[5]
Menurut para ahli medis, “Fatal Familial Insomnia” saat ini mempengaruhi sekitar 40 keluarga di seluruh dunia, dan probalitas orang tua yang mewariskan genetik mematikan ini pada generasi berikutnya sekitar 50%.

Para peneliti percaya, bahwa semua penderita “Fatal familial Insomnia” saat ini, adalah seorang keturunan dokter Italia abad ke-18, para ahli terkait tidak tahu nama dokter Italia tersebut, mereka hanya memberinya julukan “pasien nol.

Terbetik berita, bahwa “pasien nol” merupakan penderita “Fatal Familial Insomnia”yang pertama di dunia, Ia meninggal pada tahun 1765, dan mewariskan gen yang abnormal ini pada anak-anaknya, lalu sejak itu, “kutukan genetik” tersebut turun-temurun dari generasi ke generasi.

Penulis buku “Keluarga yang tidak bisa tidur” itu menjelaskan : “mereka yang mewariskan mutasi gen ini, dimana setelah timbulnya penyakit, pertama-tama anda mulai tidak bisa tidur ; kemudian, Anda akan merasa sulit untuk berjalan ; kemudian, kemampuan berpikir otak Anda mulai menurun tajam, dan biasanya paling lama sekitar sembilan bulan kemudian penderita akan meninggal dalam keadaan tersiksa.

3 Wanita sekeluarga tidak lolos dari kutukan persalinan pada usia 22 tahun.

Wanita dalam keluarga Kelly Hutchings (22) di kota Fulham, Hampshire, Inggris, seakan-akan kena “kutukan persalinan”, karena ibu Kelly dan bibinya semuanya meninggal saat melahirkan pada usia 22, sementara Kelly sendiri saat hamil pada usia 22 tahun juga meninggal karena pendarahan otak yang disebabkan persalinannya.

Sekeluarga yang tidak saling mengenal

Jim Hurd, mantan professor di United States University bersama dengan kedua putrinya, Catherine dan Janie, meskipun telah hidup bersama selama bertahun-tahun, tetapi mereka kerap “tidak mengenal satu sama lain”, ternyata sekeluarga Hurd mengidap “prosopagnosia” (tidak mampu mengenali wajah-wajah orang atau objek yang sudah dikenal) yang langka.

Di antara sekian banyak wajah yang tidak mampu dikenali Hurd, ternyata Hurd juga tidak mampu mengenali wajah anggota keluarganya sendiri. Dan belakangan Hurd baru tahu, kalau kedua putrinya yakni sang seniman Katherine dan ahli saraf Jianie ternyata juga mewarisi “prosopagnosia”-nya : Mereka bukan saja kerap tidak mengenali wajah sang ayah, bahkan juga sering lupa bagaimana rupa sang ibu !sekeluarga ini kerap akan mengalami gejala ganjil hanya lewat tanpa saling menyapa, dan sering “bertemu tapi tidak mengenal satu sama lain”.

Padahal, penglihatan ayah dan dan kedua putrinya itu normal dan sehat, mereka dapat melihat dengan jelas wajah orang lain, tetapi tidak bisa membedakan wajah-wajah siapa yang dilihatnya, tidak bisa mengingat wajah-wajah yang pernah dilihatnya. Menurut penuturan Jiannie, ia tidak terlalu serius menanggapi “prosopagnosia”-nya.

Suatu hari, ketika dia hendak menjemput anaknya Gabriel di tempat penitipan kanak-kanak, ia baru terkejut mengetahui dirinya ternyata keliru menjemput anaknya. Jiannie mengatakan : “Saya merasa ada sesuatu yang salah, setelah saya membawa anak itu pulang ke rumah, saya tidak begitu yakin apakah dia anak saya, saya merasa serba salah. Hingga akhirnya saya mencari tahu, dan baru tahu kalau ternyata anak itu memang bukan putra saya.”

Hurd sekeluarga ternyata bukan satu-satunya keluarga yang mengalami siksaan “prosopagnosia”, adalah Heather Sillers, professor bahasa Inggris di sebuah universitas di Amerika juga menderita penyakit aneh yang sama dengan keluarga Hurd, bahkan lebih parah.

Ketika ia masuk ke sebuah restoran setempat, banyak orang yang menyapa-nya, tapi, wajah-wajah itu seperti orang asing baginya. Sillers tidak pernah mengingat seraut wajah siapapun, sekalipun mereka adalah orang-orang yang selalu bersamanya.

Penderita “Prosopagnosia” bukan karena buruknya daya ingat, mereka mampu mengingat nama seseorang, nomor telepon, dan bahkan buku yang pernah dibaca. Tapi yang membingungkan adalah, mereka tidak bisa mengingat bentuk wajah seseorang, bahkan bentuk wajahnya sendiri di cermin.

Misalnya Sillers sering menatap dirinya di cermin, tapi ia tidak bisa mengingat bentuk wajahnya sendiri. Menurut para ilmuwan, bahwa sebuah gen tunggal mungkin telah memicu “prosopagnosia”, dan membuat-nya (gen) dapat diturunkan kepada generasi berikutnya. Sejauh ini, “prosopagnosia” belum dapat disembuhkan dengan cara pengobatan apapun.(Jhon/asr)