Oleh Lin Yan

Dalam petunjuk perdagangan luar negeri Partai Komunis Tiongkok/ PKT, di satu sisi membiarkan saja perdagangan ilegal antar negara yang begitu masif, di sisi lain juga tidak peduli akan keselamatan warganya di luar negeri dan pengrusakan terhadap lingkungan negara lain.

Menurut laporan yang baru-baru ini dirilis oleh Global Financial Integrity berjudul “Transnational Crime and the Developing Country”, diumumkan 11 jenis kejahatan transnasional (selanjutnya disingkat trans-crime).

Hanya di RRT saja terdapat 10 jenis kejahatan di antaranya, antara lain: narkotika, senjata, perdagangan manusia, organ tubuh, artefak budaya, produk palsu dan kegiatan jual beli produk bajakan; ada juga perdagangan ilegal satwa liar, ikan tangkapan, pembalakan kayu, serta hasil tambang.

Dalam artikel ini akan dipaparkan trans-crime obat palsu di bawah pemerintahan PKT, serta penyelundupan produk hewan dan tumbuhan liar serta penambangan ilegal juga penyelundupan.

4. Obat Palsu: Bagian Terbesar dari Perdagangan Barang Palsu

Penyelundupan obat palsu adalah porsi terbesar di antara pedagangan produk palsu lainnya, dan RRT adalah salah satu negara produsen obat palsu terbesar dunia. Selain beredar marak di dalam negeri RRT sendiri, obat palsu produksi RRT yang telah menyusup ke pasar di Asia Tenggara dan Afrika juga sangat parah.

Pada 2012, sebuah kapal RRT bermuatan obat-obatan anti-malaria palsu sebanyak 1,4 juta bungkus dikirim ke Angola, Afrika. Itu adalah jumlah obat anti-malaria yang dibutuhkan negara itu selama setahun. Lewat rangkaian impor obat palsu itu masuk ke dalam rantai pasokan obat-obatan di negara tersebut, lalu muncul di rumah sakit, toko obat, dan penjual obat pinggir jalan, hingga akhirnya sampai di tengan konsumen.

Bisa dibayangkan betapa besar dampak dari penyelundupan obat palsu dalam skala besar itu terhadap kebutuhan obat di negara itu dan akibat buruknya bagi kesehatan warganya. Karena melalui penyelidikan, obat anti-malaria palsu itu telah langsung menyebabkan kematian pasien di Angola.

Maka pertanyaan pertama adalah, obat-obatan manakah yang dapat dianggap sebagai obat palsu?

Jika komposisi kimia di dalam obat itu diubah, sehingga kandungan bahan aktifnya lebih sedikit; atau obat yang tak diketahui diganti dengan label obat yang bermerek, atau jika obat itu memang obat asli namun telah diganti tanggal kadaluarsanya? Tiga kondisi di atas semuanya dianggap sebagai obat palsu.

Penyelundupan obat palsu adalah bagian terbesar dari perdagangan produk palsu dunia, transaksi obat palsu di seluruh dunia mencapai USD 70 milyar (934 triliun rupiah) sampai dengan USD 200 milyar (2.670 triliun rupiah) setahun, atau diperkirakan mencakup seperempat dari total perdagangan barang-barang palsu dunia. Menyusul di posisi setelah obat palsu adalah produk-produk elektronik, tembakau dan lain-lain.

Dilihat dari ruang lingkupnya, penyebaran obat palsu ini sangat luas, mulai dari obat pereda sakit sampai vaksin, mulai dari antibiotik sampai obat kanker, hampir semuanya ada, bahkan di negara berkembang (terutama Asia Tenggara dan Afrika) hampir setiap jenis obat bisa ditemukan produk palsunya. Jika diurutkan 6 jenis obat palsu yang paling sering ditemukan adalah: obat pereda sakit, anti peradangan, obat TBC, obat kuat, antibiotik, dan obat maag.

Dan segmen pasar obat palsu ini sangat mengejutkan. Laporan “Trans-Crime” memperkirakan di negara berkembang, pasar obat palsu adalah antara 10-30%. Sedangkan di negara Asia Tenggara dan Afrika, perbandingan obat palsu rata-rata di atas 30%; di sejumlah negara obat palsu untuk anti-malaria bahkan mencapai lebih dari 60%. Sedangkan di negara maju, pasar obat palsu hanya sekitar 1%, dan semua berasal dari penyelundupan dari negara lain.

Masalah kedua adalah, seberapa besar dampak bahaya obat palsu?

RRT adalah salah satu negara produsen obat palsu terbesar dunia, banyak obat palsu berasal dari pabrik-pabrik produsen obat yang belum mengantongi ijin untuk memproduksi obat, umumnya perusahaan seperti ini di satu sisi memproduksi obat legal, sambil di sisi lain juga memproduksi obat palsu.

Karena obat palsu umumnya menggunakan bahan yang paling murah untuk meraup keuntungan terbesar; dan karena palsu, proses produksinya dipastikan tidak akan melalui standar yang telah ditetapkan sesuai hukum, jadi dari sini bisa dipastikan obat palsu tidak mungkin bisa menjamin kesehatan dan keamanan bagi penggunanya.

Pada kasus penyelundupan oleh etnis Tionghoa yang berhasil dibongkar oleh pemerintah federal AS tahun 2012 silam, gembong organisasi kejahatan yang terlibat perdagangan kosmetik palsu itu ketika ditanya apakah produk palsu itu bisa merusak kulit dan tubuh?

Ia menjawab, “Berbisnis tidak perlu merisaukan apa pun, jika mau bicara soal hati nurani lebih baik Anda jadi bhikkhu saja.” Ini juga merefleksikan kekhawatiran atas keamanan obat atau produk palsu yang beredar.

Laporan “Trans-Crime” memperkirakan obat palsu telah mengakibatkan lebih dari 1 juta jiwa meninggal dunia akibat mengkonsumsinya, pejabat dari Interpol juga berpendapat ancaman yang ditimbulkan oleh obat palsu bahkan lebih menakutkan daripada teroris.

Sejak 2009 Sekjend Interpol Ronald Noble ketika menghadiri konferensi pemberantasan produk palsu mengatakan, terorisme yang telah berlangsung selama 40 tahun telah menyebabkan kematian 6,5 juta jiwa sementara obat palsu di RRT telah merenggut nyawa sekitar 20 juta jiwa, dari sudut pandang ini, ancaman obat palsu melebihi terorisme.

Selain mendatangkan bahaya langsung bagi masyarakat luas, kelompok yang melakukan perdagangan obat palsu juga terlibat dalam kejahatan antar-negara lainnya. Dalam laporan Biro Narkoba dan Kejahatan PBB disebutkan, pelaku utama di pasar obat palsu adalah perantara dan logistiknya, mereka berinvestasi, mengkoordinir produksi dan mengirimkan barang, lalu mengedarkannya, dan setelah itu menerima uang. Proses ini membuat kelompok kejahatan teroganisir bisa dengan cepat mendapat efek besar dan mencuci uang dengan cepat.

Pakar hak cipta di pihak Interpol Inggris juga mengatakan, oknum organisasi obat palsu lebih seperti “product manager”, jika mereka berhasil mengirimkan obat palsu ke Inggris, maka mereka akan mendapat keuntungan lebih dari 1 juta pound sterling (sekitar USD 1,29 juta / 17,2 miliar rupiah), sekitar 4 kali lipat dibandingkan (keuntungan) obat asli, jika tertangkap, hukuman yang mereka terima hanya denda.

Dengan godaan keuntungan sebesar itu, di saat yang sama ganjarannya tidak terlalu berat, akan sulit untuk melarang RRT memproduksi obat palsu dan dimasukkan ke pasar asing, kecuali pasokan diputus dari hulu, jika tidak hanya omong kosong belaka.

Penyelundupan hewan dan tumbuhan liar adalah satu-satunya trans-crime yang bukan diekspor dari RRT, tapi RRT juga tidak bisa membersihkan diri dari keterlibatannya karena bahkan anti-korupsi yang begitu hebat pun tidak bisa membendung kebutuhan dalam negeri RRT akan produk-produk hewan dan tumbuhan liar yang harganya selangit itu. (sud/whs/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular