Zaman dahulu, ada seorang prajurit Tiongkok yang sangat arogan dan kasar. Dia sering mengganggu tetangganya. Salah satu tetangganya adalah seorang pria tua berjanggut putih yang tinggal bersama ketiga anaknya.

Suatu hari, pria tua ini meminta ketiga anaknya untuk pulang, dan berkata :

“Ayah telah menghabiskan sebagian besar hidup untuk mengurus  rumah tangga , dan sering diganggu oleh orang lain. Terlebih lagi, ayah  semakin tua, sehingga ayah  ingin salah satu dari kalian untuk bertugas mengurus rumah tangga. Hari ini, ayah  akan memberikan kalian masing-masing 10 keping perak.  Kalian dapat menggunakannya untuk berpergian dan melakukan beberapa perbuatan baik. Orang yang melakukan hal terbaik dan menunjukkan kebajikan terbesar akan mengambil alih kemudi rumah tangga.”

Setelah ketiga anaknya selesai melakukan pengembaraanya, akhirya ketiga anaknya itu  kembali, dan sang ayah meminta mereka untuk berbagi cerita.

Hari ini, saya memberikan kalian masing-masing 10 keping perak. Kalian dapat menggunakannya untuk bepergian dan melakukan beberapa perbuatan baik. (Gambar:pixabay /Cc01.0)

Putra tertua, berkata, “Saya melihat seorang wanita yang mencoba bunuh diri, jadi saya melompat ke sungai untuk membawanya ke darat. Karena dia hamil, saya menyelamatkan dua nyawa sekaligus.” Sang ayah hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata.

Putra kedua bercerita : “Ketika lewat sebuah desa, saya melihat sebuah rumah terbakar. Karena hari itu sangat berangin, api akan menjalar ke rumah-rumah di seluruh desa. Saya menerobos ke dalam api sendirian dan memadamkan api, menyelamatkan kehidupan banyak orang dan properti rumah yang masih bisa diselamatkan.” Sang ayah tersenyum tanpa suara.

Tak seperti kedua kakaknya yang menyelamatkan orang dan rumah, anak ketiga pun menceritakan pengalamannya:

“Ayah, saya merasa sangat menyesal karena telah melakukan suatu hal yang bodoh. Saya baru menolong seseorang yang sering mengganggu kita. Ketika melewati pegunungan, saya melihat prajurit yang suka mengganggu kita berbaring di ambang tebing dan dalam keadaan mabuk, setelah dia kembali dari suatu perjalanan.

“Jika dia menggerakkan tubuhnya sedikit, dia pasti jatuh kejurang  itu. Pada awalnya, saya tidak berniat untuk menyelamatkannya, karena itu bukan urusan saya. Tapi setelah dipikir-pikir, kita masih memerlukan tentara seperti dia untuk menjaga perbatasan dan berjuang di medan perang.

“Akhirnya, saya membangunkannya agar dia tidak jatuh ke jurang. Setelah dia menyadari apa yang saya lakukan untuk dia, dia malu pada dirinya sendiri dan membungkuk sangat rendah kepada saya sebelum pergi.”

Ketika melewati pegunungan, saya melihat prajurit yang sering mengganggu kita sedang mabuk sambil berbaring di ambang jurang, setelah datang kembali dari perjalanan. (Gambar: viapixabay/ Cc01.0)

Setelah mendengarkan cerita si bungsu, sang ayah tertawa terbahak-bahak, dan memilih putra bungsu untuk bertanggung jawab dalam mengurus rumah. Putra tertua dan yang keduapun tidak keberatan.

Sang ayah menjelaskan:

“Menyelamatkan kehidupan seseorang, Anda hanya menyelamatkan seorang individu; memadamkan api, Anda hanya menyelamatkan sebuah rumah tangga. Namun memiliki seseorang yang dapat mewujudkan kedamaian dan kemakmuran bangsa sangatlah penting, karena bisa membuat masyarakat umum hidup dalam damai sehingga mereka dapat mendedikasikan diri untuk pekerjaan mereka. Adik kalian mengesampingkan dendam pribadi dan menempatkan kepentingan nasional sebelum kepentingan keluarga, yang merupakan tindakan yang paling mulia.”

Setelah putra bungsu mengambil kemudi rumah tangga, prajurit itu sangat berterima kasih kepadanya dan mengakui bahwa cara dia dalam memperlakukan tetangganya adalah salah. Setelah itu, kedua keluarga tersebut dapat hidup harmonis dan menjadi tetangga yang baik.

Karena ayah dan ketiga anaknya adalah orang-orang baik, khususnya si anak bungsu, kasih sayang yang besar dan kesabaran akhirnya menang atas sifat arogan tetangga mereka.(Visiontimes/Intan)

Share

Video Popular