Melihat judul ini mungkin ada orang merasa aneh: Sekarang saya sudah dewasa, masih sebagai seorang anak kecil? Seandainya Anda merasa malu dikarenakan sebagai seorang anak kecil, maka Anda salah besar.

Pada masa kecilnya, Newton melihat buah apel jatuh dari atas pohon, lalu ia mengemukakan soal mengapa buah apel mesti jatuh ke bawah dan bukannya “jatuh” ke atas, apakah Anda bisa mengemukakan soal ini?

Sesungguhnya, menjadi anak pemungut kulit kerang adalah ibarat yang pernah dicontohkan oleh ilmuwan besar ini. Ia sangat rendah hati, menjadikan temuan hebatnya diibaratkan sebagai kulit kerang besar yang kebetulan dipungutnya.

Segala yang ada di dunia merupakan suatu yang baru bagi anak-anak, rasa penasaran mereka, hasrat untuk mengetahui sangat kuat, segala sesuatunya pasti akan bertanya mengapa.

Dan kita, orang dewasa, malah selalu kehilangan sifat yang berharga ini, membutakan mata terhadap segala ada yang di dunia, menganggap diri sendiri benar dan minat penyelidikan terhadap dunia yang belum diketahui juga jauh tidak lebih baik dibanding anak-anak. Dilihat dari segi ini, anak-anak semestinya merupakan guru kita.

Dan tentu saja kita, setiap orang tidak bisa seperti Newton yang begitu jenius, menempa hingga menjadi orang mujur seperti “hukum Newton”, akan tetapi di dalam kehidupan kita, dengan tiada hentinya ditemukan hal baru, perasaan baru, lebih banyak sekeping-keping kebahagiaan menemukan kulit kerang baru, dan dikarenakan demikian kehidupan kita juga bisa berubah lebih kaya akan makna kehidupan.

Menjadi seorang anak pemungut kulit kerang, adalah melihat dunia dengan pandangan mata anak-anak, mencari kebenaran, kebaikan, dan kesempurnaan. Namun di masyarakat berapa banyak orang mengenakan kacamata warna karena sebab dan alasan yang begini dan begitu, akibatnya tidak bisa melihat lagi sifat dunia yang sebenarnya, kehilangan standar penilaian terhadap segala hal ihwal, kebenaran sejati dan kepalsuan berbaur menjadi satu, indah dan buruk terbalik, kebaikan diacuhkan, yang jahat malah mendapat kebebasan.

Kita perlu berbalik kembali pada masa kanak-kanak masing-masing, dengan mata yang polos, dan jernih untuk melihat segala yang ada di sekeliling kita, mengubah dunia pada bentuk asli yang sebenarnya.

Menjadi seorang anak pemungut kulit kerang, adalah juga tetap memelihara antusiasme penyelidikan terhadap dunia yang belum diketahui itu, mempertahankan kecintaan terhadap hidup.

Berapa banyak remaja yang putus asa karena mengalami kegagalan, begitu jatuh tidak sanggup bangkit kembali karena gagal, berapa banyak orang yang terperosok ke kubang lumpur dan tidak dapat melepaskan diri, juga berapa banyak orang tidak berdaya lalu tidak berhasil menemukan arti yang benar.

Jika demikian, berjalanlah ke pesisir pantai yang lunak, menjadi seorang bocah, mencari kulit-kulit kerang yang indah itu, dan baurkanlah jiwa ke alam semesta, mendobrak percikan api kehidupan dengan jiwa anak-anak yang polos, kembali menyalakan lagi api kehidupan, dengan sikap yang positif melalui kehidupan sehari-hari dengan baik.

Menjadi seorang anak pemungut kulit kerang, juga merupakan harapan terhadap segala hal ihwal yang indah. Kulit kerang yang berwarna-warni, terhias alami, ia memelihara sifat sebenarnya yang semula, tidak tergores bekas apa pun yang berupa perbuatan manusia, tidak mengalami pencemaran duniawi, juga tidak tampak kepalsuan apa pun. Dan semua ini, juga merupakan sifat yang begitu dibutuhkan oleh sanubari kita. (Sumber : The Epochtimes)

Share

Video Popular