Mantan Pejabat Militer Dinasti Sui ini Menjalani Hidupnya Sebagai Malaikat Penolong

330
Kebajikan orang dapat diibaratkan seperti tinitus, yang hanya bisa didengar oleh orang-orang itu sendiri, dan bukan oleh orang lain (Pixabay / CC0)

Erabaru.net. Li Shiqian, juga disebut Ziyue, lahir di Kabupaten Zhaojun pada masa Dinasti Sui. Li terlahir sebagai anak yang selalu berbakti dan menghormati orang tuanya. Ayahnya telah meninggal dunia saat Li masih kecil.

Li adalah seorang perwira militer, namun setelah kematian ibunya, dia berhenti sebagai perwira militer dan meratapi kematiannya selama tiga tahun.

Setelah itu, dia menyumbangkan tempat tinggal pribadinya untuk dijadikan vihara dan bertekad untuk tidak menjadi perwira lagi.

Keluarga Li Shiqian kaya raya, tapi dia selalu berhemat dan memperlakukan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri setiap hari. Misalnya, ada orang yang tidak punya uang untuk menggelar upacara pemakaman, Li  memberi mereka bantuan keuangan.

Ketika ada dua bersaudara mengajukan tuntutan hukum satu sama lain karena pembagian warisan yang tidak merata, dia membantu pihak yang menerima aset yang lebih kecil. Kedua bersaudara tersebut merasa malu dengan apa yang telah mereka lakukan dan masing-masing menolak pemberian bantuan orang lain. Akhirnya keduanya menjadi rukun.

Suatu hari, Li melihat ada seorang pencuri yang hendak mencuri beras di sawah miliknya. Dia tidak berteriak keras untuk menangkap pencuri itu, dia justru mendiamkan hal ini dan pergi. Orang-orang pun keheranan, karena merasa hal ini sangat aneh. Akhirnya Li menjelaskan, “Karena bencana alam, tidak ada jalan keluar baginya untuk mendapatkan makanan, selain mencuri. Kita seharusnya tidak menyalahkan orang tersebut. “

Suatu hari, Li melihat seorang pencuri di ladangnya memotong beras untuk mencurinya. Dia tidak berteriak keras untuk menangkap pencuri itu, tapi justru mendiamkannya dan pergi. (Gambar : Pixabay / CC0)

Saat bencana kelaparan yang parah melanda desa, banyak penduduk merasa kesulitan untuk bertahan hidup. Lalu, Li Shiqian meminjamkan ribuan ton gandum yang tersimpan di gudangnya kepada orang miskin yang tidak memiliki persediaan makanan.

Setahun berikutnya, para petani banyak yang mengalami gagal panen, mereka yang berhutang gandum dan makanan lain pada Li tidak dapat membayarnya kembali. Sehingga mereka pergi ke rumah Li untuk meminta maaf.

Li memang tidak berniat untuk meminta mereka membayar gandum, selain itu dia juga mengundang mereka untuk makan di rumahnya. Li berkata kepada mereka, “Gandum yang tersimpan di rumahku memang dimaksudkan untuk membantu orang-orang dalam masalah, bukan untuk menimbun keuntungan. Sekarang semua hutang kalian telah kuanggap lunas, sehingga kalian tidak perlu khawatir lagi. “

Akhirnya, di tahun berikutnya, para petani berhasil panen gandum secara besar-besaran. Mereka pun datang untuk membayar kembali gandum yang mereka pinjam, namun Li menolaknya.

Beberapa tahun kemudian, bencana kelaparan besar kembali melanda. Li Shiqian telah menghabiskan banyak uang untuk mengirim bubur nasi ke 100.000 korban kelaparan. Pada musim semi tahun kedua, Li juga menyumbangkan biji gandum dalam jumlah besar kepada para petani miskin.

Seseorang berkata kepadanya, “Kamu telah mengumpulkan begitu banyak kebajikan.”

Li menjawab, “Kebajikan orang diibaratkan seperti tinnitus, yang dapat didengar hanya oleh orang itu sendiri, bukan orang lain. Anda tahu apa yang telah saya lakukan dan saya sama sekali tidak pernah memikirkan untuk mengumpulkan kebajikan!”

Li Shiqian meninggal pada usia 66 tahun setelah melakukan perbuatan baik selama lebih dari 30 tahun. Saat mendengar kabar buruk itu, semua penduduk desa meneteskan air mata. Lebih dari 10.000 orang di Zhaojun, kampung halaman Li, berpartisipasi dalam prosesi pemakamannya.

Belakangan, keturunan Li Shiqian sangatlah makmur. Orang-orang mengatakan bahwa ini adalah hasil dari kebaikan yang dilakukan Li semasa hidupnya. (jul/rp)

Sumber: visiontimes.com